Bursa Saham Korea Selatan Perpanjang Jam Operasional Guna Tarik Global

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Senin, 14 September 2026
Bursa Saham Korea Selatan Perpanjang Jam Operasional Guna Tarik Global
Bursa Saham Korea Selatan (FOTO: NET)

SEOUL - Pasar saham utama Korea Selatan mulai memperpanjang jam operasional hingga malam hari sebagai langkah untuk memikat minat pemodal internasional.

Kebijakan ini sekaligus menjadi bagian dari ambisi Korea Exchange menuju transaksi saham selama 24 jam, mengutip dari Sumbernya.

Mulai Senin (14/9), Korea Exchange bakal membuka transaksi hampir seluruh saham domestik hingga pukul 20.00 waktu setempat, setelah sesi reguler usai pada pukul 15.30.

Langkah tersebut menjadi yang perdana di antara pasar utama Asia.

Kebijakan ini mengekor tren global menuju transaksi saham sepanjang waktu yang sebelumnya mulai didorong oleh beberapa pasar besar seperti Nasdaq dan New York Stock Exchange.

Perpanjangan jam operasional dilakukan usai pasar saham Korea mencatat performa luar biasa sepanjang tahun berkat antusiasme terhadap saham teknologi serta kecerdasan buatan (AI).

Korea Exchange berharap sesi tambahan tersebut dapat memacu partisipasi pemodal internasional, khususnya selama jam transaksi Eropa.

Namun, sesi baru ini juga menjadi ujian bagi kapabilitas pasar dalam mempertahankan likuiditas yang memadai.

Pasar perlu membuktikan bahwa pemodal benar-benar memerlukan tambahan waktu transaksi, terutama saat minat terhadap saham Korea mulai mendingin.

"Perpanjangan jam perdagangan pada dasarnya memberikan fleksibilitas lebih besar bagi investor dan membuat pasar lebih efisien," kata Young Jae Lee, manajer investasi senior Pictet Asset Management di London.

Menurutnya, pemodal dengan taktik transaksi aktif, tingkat perputaran tinggi, maupun hedge fund kemungkinan akan lebih sering memanfaatkan sesi tambahan tersebut.

Transaksi Malam Bukan Hal Baru

Transaksi di luar jam reguler sebenarnya bukan hal baru di Korea Selatan.

Sistem transaksi alternatif Nextrade telah membuka sesi pra-pasar dan malam sejak Maret 2025 dengan mencakup sekitar 600 saham.

Dalam beberapa bulan setelah diluncurkan, platform tersebut berhasil mengambil hampir sepertiga aktivitas transaksi.

Korea Exchange kini mengambil langkah lebih jauh dengan membuka transaksi malam untuk sekitar 2.400 saham yang tercatat di KOSPI dan Kosdaq.

Transaksi short selling juga diperkenankan dalam sesi tersebut.

Namun, produk exchange-traded fund (ETF) untuk sementara belum masuk dalam transaksi malam.

Korea Exchange juga berencana membuka sesi pra-pasar pada akhir 2027.

"Ini merupakan langkah lain dalam evolusi pasar modal Korea dan peningkatan aksesibilitasnya bagi investor global," kata Edward Kim, Kepala Penjualan Ekuitas Korea di Bank of America.

Likuiditas Jadi Tantangan

Meski demikian, pelaku pasar tidak memperkirakan aktivitas transaksi langsung melonjak usai sesi malam dimulai.

Kapabilitas sesi tambahan dalam memikat volume transaksi yang cukup menjadi pertanyaan utama.

Kekhawatiran tersebut muncul setelah likuiditas yang relatif tipis terlihat pada transaksi valuta asing setelah jam operasional diperpanjang pada Juli.

Indeks Kospi sempat melonjak lebih dari dua kali lipat sepanjang tahun hingga mencapai level puncaknya, didorong euforia saham AI.

Namun, perubahan sentimen secara mendadak memicu aksi jual hingga 22% pada Juli dan menyebabkan penurunan tajam nilai transaksi.

Meski demikian, KOSPI masih mencatat kenaikan 64% sepanjang 2026 dan menjadi indeks saham utama dengan performa terbaik di dunia.

Dave Mazza, CEO Roundhill Financial, mengatakan pemodal asing kemungkinan akan menunggu dan melihat apakah terdapat cukup pembeli dan penjual pada saham-saham besar seperti Samsung Electronics dan SK Hynix selama sesi malam sebelum melakukan transaksi dalam jumlah besar.

"Memperpanjang jam perdagangan tidak menciptakan likuiditas, tetapi hanya mendistribusikannya," ujar Mazza.

Dia memperkirakan minat awal terhadap sesi transaksi malam akan relatif terbatas.

Pengalaman Nextrade juga dapat menjadi gambaran.

Data platform tersebut menunjukkan pemodal ritel menyumbang lebih dari 80% aktivitas transaksi di luar sesi reguler.

Volatilitas harga yang tidak menentu dan minimnya partisipasi pemodal institusi juga menjadi tantangan.

Risiko Lindung Nilai Mata Uang

Kapabilitas pemodal besar melakukan lindung nilai terhadap risiko mata uang juga menjadi persoalan lain.

Pasar valuta asing Korea secara teknis telah beroperasi selama 24 jam.

Namun, likuiditas di luar jam utama masih relatif tipis sehingga biaya hedging dapat menjadi lebih mahal.

Kondisi tersebut berpotensi membuat pemodal asing enggan menempatkan dana dalam jumlah besar pada transaksi saham Korea di malam hari.

Likuiditas yang rendah juga dapat memengaruhi harga saham.

Pemodal yang ingin membeli atau menjual saham dalam jumlah besar pada malam hari berisiko membayar harga jauh lebih tinggi atau menjual lebih murah dari perkiraan.

"Risiko terbesarnya adalah terjebak dalam kondisi likuiditas yang rendah," kata Sanghyun Park, pendiri Clepsydra Capital.

Kurangi Kesenjangan Informasi

Terlepas dari sejumlah tantangan tersebut, pelaku pasar secara umum mendukung perpanjangan jam operasional karena memberikan pemodal kesempatan lebih cepat merespons berita atau laporan keuangan yang dirilis setelah pasar reguler tutup.

Langkah Korea untuk semakin membuka pasar kepada pemodal asing juga terlihat dari pencatatan American depositary receipts (ADR) SK Hynix di AS.

Namun, instrumen tersebut masih menjadi saluran terbatas yang terutama memberikan akses terhadap saham sektor chip.

Tony Cheung, konsultan spesialis eksekusi di Instinet, mengatakan sesi transaksi tambahan dapat menciptakan kesetaraan yang lebih besar di pasar.

Menurutnya, pemodal yang lebih luas dapat merespons informasi setelah penutupan pasar secara langsung.

Hal itu berpotensi mengurangi kesenjangan informasi sekaligus meningkatkan keadilan pasar. (DK)

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua