Kurs Mata Uang Rupiah Awal Pekan Menguat, Dolar AS Turun Rp17.680 Usah

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Rabu, 26 Agustus 2026
Kurs Mata Uang Rupiah Awal Pekan Menguat, Dolar AS Turun Rp17.680 Usah
Kurs Mata Uang Rupiah Awal Pekan Menguat (FOTO: NET)

JAKARTA - Pergerakan kurs rupiah mengawali sesi transaksi awal pekan dengan menguat atas dolar Amerika Serikat (AS). Laju positif ini memperpanjang catatan bagus mata uang Garuda dalam kurun tiga sesi perdagangan terdahulu.

Mengutip data Refinitiv, di saat transaksi dibuka pada Senin (24/8/2026), rupiah menguat 0,03% pada posisi Rp17.680/US$.

Di sesi transaksi Jumat (21/8/2026), rupiah diakhiri melesat 0,31% ke angka Rp17.685/US$.

Posisi tersebut menjadi catatan akhir perdagangan tertinggi bagi rupiah semenjak 22 Mei 2026.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur tingkat kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pukul 09.00 WIB terlihat menguat kecil 0,03% pada angka 98,834.

Dinamika rupiah sepanjang hari ini masih dipengaruhi oleh situasi eksternal, terutama melonjaknya imbal hasil surat utang pemerintah AS, ketegangan kawasan Timur Tengah, hingga penantian keputusan kebijakan The Federal Reserve (The Fed).

Di sesi perdagangan Jumat, yield Treasury tenor 10 tahun merangkak ke 4,738%, sedangkan untuk tenor 30 tahun menyentuh 5,276%.

Melonjaknya yield obligasi AS dapat memperbesar pikat aset dalam mata uang dolar serta membatasi kelonggaran laju rupiah.

Pasar turut memperhatikan rencana sanksi anyar AS atas Iran sekaligus menunggu simposium tahunan The Fed di Jackson Hole pekan ini.

Mengenai situasi domestik, defisit transaksi berjalan Indonesia di kuartal II-2026 melebar menjadi US$12,49 miliar, dibanding US$3,58 miliar pada kuartal sebelumnya.

Pelebaran itu terdorong oleh bertambahnya defisit perdagangan migas serta merosotnya surplus perdagangan nonmigas.

Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz berpandangan pelebaran defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) hendak membatasi ruang laju positif rupiah.

Makin tinggi defisit transaksi berjalan, kian besar pula kebutuhan Indonesia terhadap aliran modal asing dalam memenuhi keperluan pembiayaan luar negeri.

Situasi ini memicu mata uang rupiah rawan menghadapi gejolak.

Berdasarkan paparan Irman, angka Rp18.000/US$ masih berpeluang kembali dites jika tekanan global bertambah besar atau aliran modal asing tidak mampu mencukupi kebutuhan pembiayaan itu.

"Baseline kami masih melihat USD/IDR akhir tahun di kisaran Rp17.900-18.150, sehingga Rp18.000 bukan merupakan tail-risk scenario, tetapi masih berada dalam range fundamental kami," tuturnya.

Para pelaku pasar pun bakal memantau alur seleksi Gubernur Bank Indonesia (BI).

Komisi XI DPR diagendakan menggelar uji kelayakan dan kepatutan bagi calon Gubernur BI Destry Damayanti pada Rabu (26/8/2026).

Kepastian tentang kepemimpinan BI menjadi sorotan pasar lantaran berkaitan dengan keberlanjutan arah moneter serta stabilitas nilai tukar rupiah.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua