Yield SRBI dan SBN Turun, Modal Asing Masuk dan Rupiah Siap Membaik

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Rabu, 26 Agustus 2026
Yield SRBI dan SBN Turun, Modal Asing Masuk dan Rupiah Siap Membaik
Yield SRBI dan SBN Turun (FOTO: NET)

JAKARTA - Aliran modal dari luar negeri ke sektor keuangan Indonesia diperkirakan tetap mengalir walaupun tingkat pengembalian atau yield surat utang dalam negeri mulai menurun.

Keadaan ini dinilai menjadi tanda baik bagi ketahanan kurs mata uang rupiah ke depannya.

Berdasarkan data dari Sumbernya, sepanjang Juni 2026, pemodal luar negeri tercatat melakukan pembelian bersih sebesar Rp 21,03 triliun pada Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp 70,39 triliun pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Di sisi lain, pada bursa saham penanam modal luar negeri masih membukukan penjualan bersih mencapai Rp 19,63 triliun.

Masuknya dana asing tersebut berlangsung setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan BI Rate menjadi 5,75% di Juni 2026.

Lonjakan suku bunga itu ikut memicu kenaikan yield beragam produk surat utang dalam negeri sehingga makin menarik bagi pemodal luar negeri yang sedang memburu instrumen bernilai imbal hasil tinggi di tengah ketatnya suku bunga global.

Maraknya dana luar negeri yang masuk ke produk berlandaskan rupiah terlihat dari melonjaknya kepemilikan investor asing di SRBI.

Porsi kepemilikan pemodal luar negeri pada produk tersebut menanjak dari Rp 114,05 triliun pada Desember 2025 menjadi Rp 293,16 triliun di Juni 2026.

Lantaran hal itu, porsi kepemilikan investor luar negeri di SRBI naik dari 16,15% menjadi 27,33% dari total outstanding yang berada di angka Rp 1.072,62 triliun.

Pada penghujung Juni 2026, imbal hasil SRBI jangka waktu enam bulan menyentuh 7,36%, jangka waktu sembilan bulan 7,54%, dan jangka waktu satu tahun 7,70% setiap tahunnya.

Pada saat yang sama, yield SBN juga berada pada level yang cukup tinggi, dengan jangka waktu satu tahun sekitar 6,94%, jangka waktu dua tahun 6,95%, jangka waktu lima tahun 7,02%, serta jangka waktu 10 tahun sekitar 7,10%.

Akan tetapi, saat memasuki Agustus 2026, imbal hasil surat utang pemerintah mulai memperlihatkan kecenderungan menurun.

Pada aktivitas perdagangan Jumat (21/8/2026), pasar Surat Utang Negara (SUN) melanjutkan penguatan sejalan dengan pergerakan rupiah yang kembali stabil di rentang Rp 17.695 per dolar AS.

Mengutip data Bloomberg, imbal hasil SUN melandai di hampir seluruh tenor.

Kelesuan terdalam dialami oleh tenor dua tahun yang melesat turun 12,8 basis poin (bps) ke level 6,64%.

Berikutnya, imbal hasil tenor sembilan bulan merosot 11,4 bps menuju 7,08%.

Sementara itu, imbal hasil SBN tenor 10 tahun yang menjadi patokan pasar obligasi tanah air kembali melandai 5,7 bps ke posisi 6,96%.

Penurunan yield juga tampak pada penawaran SRBI.

Di bulan Agustus, imbal hasil pemenang lelang melandai ke angka 7,06% untuk tenor enam bulan, 7,21% untuk tenor sembilan bulan, dan 7,37% untuk tenor 12 bulan.

Pejabat sementara Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan, penurunan imbal hasil SRBI tidak serta-merta membuat daya tarik pemodal asing pada instrumen itu memudar.

"Karena tentunya kita enggak ingin SRBI rate kita mengalami peningkatan. Sehingga, kalau kita lihat dalam dua minggu terakhir ini suku bunga SRBI atau yield SRBI terus mengalami penurunan, namun inflow tetap masuk," jelas Destry dalam RDG, Rabu (19/8/2026).

Rupiah Berpotensi Menguat

Chief Economist Citibank Indonesia Helmi Arman menganggap kondisi global serta domestik saat ini cenderung lebih kondusif bila dibandingkan triwulan sebelumnya.

Atmosfer tersebut berpeluang menekan beban terhadap rupiah sekaligus memberi celah bagi penurunan yield SRBI.

"Berbagai faktor global dan juga faktor-faktor domestik kelihatannya relatif lebih kondusif sekarang dibandingkan dengan kuartal sebelumnya dan ini mendukung penurunan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Prediksi kami ini akan bisa diikuti oleh penurunan suku bunga SRBI di dalam negeri," ujar Helmi dalam konferensi pers Paparan Kinerja Citi Indonesia, Kamis (20/8/2026).

Menurut Helmi, salah satu pemicu eksternal yang menopang rupiah yakni kecenderungan harga minyak dunia yang mulai merosot dibanding triwulan II 2026.

Citi memprediksikan ketegangan di kawasan Timur Tengah akan terus mereda.

Bila arus niaga minyak melalui Selat Hormuz beroperasi normal sepenuhnya, pasokan minyak dunia berpotensi melampaui tingkat permintaan.

Penurunan harga minyak bumi tersebut juga berpotensi memberikan dampak positif pada neraca transaksi berjalan Indonesia.

Helmi memproyeksikan defisit transaksi berjalan (CAD) Indonesia dapat menyusut pada paruh kedua 2026, seiring dengan melandainya harga minyak serta meredupnya pertumbuhan ekonomi yang menahan potensi lonjakan impor.

"Penurunan harga minyak kami perkirakan akan mengurangi defisit neraca transaksi berjalan Indonesia di kuartal III dibanding kuartal II," kata Helmi.

Pihaknya memprediksikan defisit transaksi berjalan Indonesia pada paruh kedua 2026 dapat kembali menyusut ke kisaran 1,5% dari produk domestik bruto (PDB), jika dibandingkan estimasi defisit di atas 2% PDB pada triwulan II.

Di samping harga minyak, elemen global lain yang dianggap menyokong mata uang rupiah ialah arah penurunan imbal hasil US Treasury sampai akhir tahun.

Citi mengestimasi The Federal Reserve (The Fed) tidak bakal menaikkan suku bunga bahkan masih membuka ruang pemangkasan suku bunga sebelum penutupan tahun.

Taksiran tersebut diperkuat oleh tren inflasi inti Amerika Serikat yang dinilai berpeluang melandai dari sekitar 2,5% menuju rentang 2,2%-2,3%.

Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed juga berpotensi menekan indeks dolar AS atau DXY.

Citi memproyeksikan dolar AS bakal melemah terhadap euro maupun yuan China.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat meredakan tekanan atas mata uang rupiah.

Asing Kembali Memburu SBN

Dari sudut pandang dalam negeri, Helmi melihat minat pemodal asing pada SBN Indonesia mulai menanjak di triwulan III 2026 dibandingkan triwulan sebelumnya.

Faktor pendorongnya yaitu kondisi keuangan negara Indonesia yang dinilai lebih sehat.

Defisit APBN 2026 diproyeksikan tetap di bawah 3% PDB, sejalan dengan langkah penyesuaian dan penundaan beberapa pengeluaran serta percepatan penerimaan pajak.

Bukan hanya itu, rancangan defisit APBN 2027 yang bertahan di bawah 3% PDB dinilai mengurangi kecemasan investor obligasi atas risiko kelebihan pasokan SBN di pasar lokal.

"Menurunnya defisit transaksi berjalan serta kembalinya appetite investor asing terhadap pasar SBN Indonesia kami perkirakan membuat suku bunga SRBI ke depannya memiliki ruang untuk penurunan," ujar Helmi.

Helmi memprediksi yield SRBI tenor 12 bulan masih dapat merosot sekitar 25-75 basis poin (bps) hingga penutupan 2026 dari posisi saat ini.

Menurut dia, penurunan imbal hasil SRBI berpotensi mendahului pemangkasan BI Rate.

Hal tersebut disebabkan lonjakan yield SRBI semenjak awal tahun dinilai jauh lebih tinggi dibanding kenaikan suku bunga BI.

"Ketika suku bunga bergerak turun, yang akan turun terlebih dahulu itu adalah SRBI, bukan BI Rate," jelasnya.

Dengan keadaan demikian, penurunan yield SRBI dan SBN tidak selalu bermakna menyusutnya daya pikat aset Indonesia di mata penanam modal luar negeri.

Sebaliknya, jika penurunan yield terjadi berbarengan dengan membaiknya proyeksi rupiah, berkurangnya ancaman eksternal, serta meningkatnya kepercayaan pada fundamental fiskal, arus modal luar negeri masih berpeluang berlanjut.

Kendati begitu, Helmi mengingatkan beberapa risiko yang sanggup merubah estimasi tersebut.

Salah satu antaranya ialah risiko inflasi akibat El Nino yang berpotensi lebih terasa mendekati akhir tahun maupun pada tahun selanjutnya.

Risiko lainnya bersumber dari potensi timbulnya kembali eskalasi konflik di Timur Tengah yang sanggup mengerek kembali harga minyak dunia dan memperbesar tekanan pada neraca transaksi berjalan serta nilai tukar rupiah.

Oleh sebab itu, arah imbal hasil SRBI dan rupiah ke depannya bakal sangat bergantung pada perpaduan dinamika global, harga komoditas, arah kebijakan bank sentral utama dunia, serta kondisi fundamental domestik Indonesia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua