Rupiah Menguat Menjadi Rp17.755 per Dolar AS, Melonjak Hingga 142 Poin

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Selasa, 11 Agustus 2026
Rupiah Menguat Menjadi Rp17.755 per Dolar AS, Melonjak Hingga 142 Poin
Ilustrasi - Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah (FOTO: NET)

JAKARTA - Kurs mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penguatan pada saat penutupan bursa perdagangan Senin (10/8/2026).

Mata uang garuda melonjak sebesar 142 poin atau setara 0,79 persen menuju posisi Rp17.755 per dolar AS dari angka penutupan sebelumnya yaitu Rp17.897 per dolar AS.

Ibrahim Assuaibi pengamat pasar uang menuturkan, apresiasi rupiah salah satu alasannya didukung oleh sentimen dalam negeri, khususnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang bertahan di area positif.

“Konsumen secara umum masih optimistis terhadap kondisi ekonomi, meski tingkat keyakinannya terus menurun dalam tiga bulan terakhir,” ujar Ibrahim dilansir dari Sumbernya.

Berdasarkan publikasi Bank Indonesia (BI), IKK pada Juli 2026 bertengger di angka 116,8, menyusut dibanding 117,8 pada Juni 2026. Landainya angka tersebut merupakan yang ketiga kalinya secara terus-menerus.

Walau kecenderungan kepercayaan publik merosot, posisi IKK yang berada di atas ambang 100 menandakan publik secara umum tetap optimistis atas performa perekonomian nasional.

Ibrahim berpendapat pola pergerakan itu tetap harus diwaspadai sebab penurunan kepercayaan publik secara persisten berisiko mengganggu daya beli rumah tangga. Masyarakat bisa menjadi semakin cermat dalam menggunakan dana dan cenderung menahan pembelanjaan.

“Dengan demikian, perkembangan IKK pada bulan-bulan berikutnya menjadi penting untuk melihat seberapa kuat daya tahan konsumsi domestik di tengah berbagai tantangan ekonomi,” katanya.

Di samping faktor keyakinan publik, pelaku pasar turut mengamati pergerakan regulasi di lingkungan Bank Indonesia. Prabowo Subianto Presiden RI secara resmi menyodorkan nama Destry Damayanti sebagai kandidat tunggal Gubernur BI definitif kepada pihak DPR RI.

Langkah pengusulan tersebut dikirimkan melalui Surat Presiden (Surpres) yang diserahkan ke pimpinan DPR demi mengisi jabatan Gubernur Bank Indonesia.

Mengenai aspek luar negeri, laju rupiah juga terpengaruh oleh dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah. Pasar mengawasi peluang terwujudnya kesepakatan antara Iran dan Oman yang berpotensi memulihkan arus transportasi kapal di Selat Hormuz.

Iran pada Minggu (9/8/2026) menegaskan bahwasanya negosiasi bersama Oman sudah memasuki fase pamungkas. Akan tetapi, pemulihan akses Selat Hormuz masih terikat beberapa ketentuan, termasuk ganti rugi dari pihak Amerika Serikat atas agresi yang dilancarkan ke Iran.

Isu terkait arah kebijakan moneter AS turut menyita perhatian para pedagang pasar. Meredupnya kecemasan soal laju inflasi Amerika Serikat dan lesunya data pasar kerja memicu pelaku bursa memangkas proyeksi kenaikan suku bunga sentral Federal Reserve (Fed).

“Apalagi, bersama dengan angka ketenagakerjaan yang lemah, hal ini semakin mengurangi ekspektasi bahwa Fed akan menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang,” ujar Ibrahim.

Merujuk pada indikator CME FedWatch Tool, peluang penyesuaian suku bunga pada agenda rapat Fed bulan September kini berada di kisaran 42 persen. Persentase ini merosot dari posisi 67 persen pada pekan sebelumnya.

Sorotan para investor berikutnya tertuju pada pengumuman data inflasi AS atau Consumer Price Index (CPI) periode Juli 2026 pada hari Rabu (12/8/2026).

Para ahli ekonomi memproyeksikan inflasi tahunan AS merosot tipis dari 3,5 persen ke level 3,4 persen. Sedangkan inflasi inti diprediksi terkikis dari 2,6 persen menjadi 2,5 persen secara basis tahunan.

Seirama dengan penguatan kurs rupiah di bursa spot, patokan nilai tukar Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) milik Bank Indonesia pun merangkak naik. Laju JISDOR pada Senin bertengger di kisaran Rp17.795 per dolar AS, ketimbang posisi sebelumnya yakni Rp17.913 per dolar AS.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua