Pentingnya Pelestarian Alam dalam Menopang Stabilitas Nilai Rupiah

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Selasa, 11 Agustus 2026
Pentingnya Pelestarian Alam dalam Menopang Stabilitas Nilai Rupiah
Menopang Stabilitas Nilai Rupiah (FOTO: NET)

JAKARTA - Kurun waktu bertahun-tahun, publik terbiasa menilai sektor lingkungan serta perekonomian sebagai dua entitas yang terpisah.

Alam sangat identik dengan kawasan hutan, aliran sungai, emisi gas karbon, hingga satwa liar.

Sedangkan sektor ekonomi amat erat dengan laju inflasi, tingkat suku bunga, nilai kurs, iklim investasi, serta pertumbuhan.

Layaknya kedua lini tersebut berjalan di atas relnya masing-masing.

Padahal, pada masa perubahan iklim seperti saat ini, perbatasan di antara keduanya kian tipis.

Anomali kemarau panjang yang memicu kegagalan panen mampu menaikkan harga bahan baku pangan.

Bencana banjir yang memutus jalur distribusi meningkatkan beban biaya logistik.

Cuaca ekstrem mengacaukan proses manufaktur energi dan ketersediaan pasokan.

Kendala yang semula terlihat sebagai permasalahan ekologis lambat laun bergeser menjadi masalah perekonomian.

Dan tatkala perekonomian mulai terganggu, kestabilan harga turut terkena imbasnya.

Di titik tersebut, isu ekologi bukan lagi melulu milik pegiat pelestari alam.

Sektor alam menjadi bagian pilar kestabilan moneter yang mesti dipelihara bersama.

Ketika Alam Menggerakkan Ekonomi

Umpamakan sebuah hunian yang bagian atapnya mulai mengalami kebocoran.

Tiap-tiap hujan datang, area lantainya basah.

Kami bisa saja terus-menerus membersihkan lantai saban hari.

Namun sepanjang atapnya tidak diperbaiki, air bakal terus merembes dan pekerjaan tersebut tidak pernah rampung.

Pada ranah ekonomi, tingkat inflasi bisa diibaratkan bagaikan kondisi lantai yang basah.

Otoritas bank sentral memiliki bermacam alat instrumen demi mengendalikan laju inflasi serta menjaga stabilitas moneter.

Akan tetapi bilamana muasal gangguannya bersumber dari cuaca ekstrem, gagal panen, atau kerusakan ekosistem yang menghambat produksi dan distribusi, maka permasalahannya tak cukup diselesaikan dari sektor moneter belaka.

Bagian atap yang bocor mesti ikut dibenahi.

Metafora tersebut menjelaskan bahwasanya mempertahankan kestabilan ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan moneter.

Daya tahan lingkungan juga menjadi bagian vital dalam ikhtiar merawat stabilitas tersebut.

Nusantara merupakan negara yang sangat bergantung pada potensi sumber daya alam serta sektor agrikultur.

Lantaran hal itu, pergeseran iklim mempunyai implikasi yang amat nyata terhadap dinamika ekonomi.

Gejala El Niño, contohnya, meningkatkan ancaman terganggunya panen beraneka ragam komoditas pangan.

Disaat pasokan merosot sedangkan permintaan tetap tinggi, harga jual pangan melonjak.

Tingkat inflasi merangkak naik.

Daya beli warga menjadi tertekan.

Para pelaku usaha menghadapi pembengkakan pengeluaran produksi.

Pada rentang Juli 2026, inflasi nasional tercatat pada angka 2,88 persen (year-on-year), yang mana masih masuk dalam rentang target Bank Indonesia pada kisaran 1,5–3,5 persen.

Hasil capaian ini menandakan bahwa stabilitas harga tetap terjaga di tengah gempuran tantangan global.

Namun dibalik data statistik tersebut terdapat perjuangan panjang dari Sumbernya dalam mengamankan ketersediaan pangan, mengelola ekspektasi inflasi, serta menguatkan keterpaduan kebijakan.

Tingkat inflasi bukan sekadar deret angka.

Hal tersebut menggambarkan bagaimana kondisi alam, kegiatan produksi, alur distribusi, regulasi kebijakan, serta tindakan ekonomi saling terikat.

Ketika Risiko Iklim Menjadi Risiko Moneter

Di area inilah peran bank sentral mengalami penyesuaian.

Dahulu kala, kewajiban bank sentral identik dengan menjaga inflasi serta stabilitas nilai kurs.

Tugas tersebut tetap bertahan hingga saat ini.

Namun ancaman yang dihadapi semakin rumit.

Anomali iklim mendatangkan ancaman baru yang dapat memengaruhi stabilitas harga, stabilitas sistem keuangan, hingga keputusan penanaman modal.

Ketika cuaca ekstrem memicu penurunan produksi panen, harga komoditas pangan membumbung.

Ketika banjir menyumbat alur rantai pasok, ongkos produksi ikut membengkak.

Ketika pergeseran menuju energi bersih mengubah peta industri, sektor keuangan juga menghadapi risiko pembiayaan yang berbeda jika dibandingkan sebelumnya.

Maknanya, fenomena perubahan iklim tidak berhenti sebagai persoalan lingkungan semata.

Hal tersebut telah menjelma sebagai bagian dari risiko makroekonomi.

Gara-gara itulah banyak bank sentral di dunia mulai memasukkan risiko iklim ke dalam analisis stabilitas keuangan dan kebijakan makroekonomi.

Bank Indonesia pun mengambil langkah melalui pengembangan pembiayaan berkelanjutan, pendalaman pasar keuangan hijau, serta penguatan koordinasi dari Sumbernya dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Bukan karena Bank Indonesia berubah menjadi lembaga lingkungan hidup.

Melainkan karena menjaga stabilitas moneter pada masa kini tidak dapat dilepaskan dari kemampuan ekonomi menghadapi risiko iklim.

Bank sentral memang tidak menanam pohon.

Namun ketika perubahan iklim memicu inflasi, mengganggu rantai pasok, atau meningkatkan risiko sektor keuangan, bank sentral ikut merasakan dampaknya melalui mandat yang diembannya.

Menjaga Lingkungan untuk Masa Depan Ekonomi

Sering kali ekonomi hijau dipahami hanya sebagai upaya mengurangi emisi karbon atau menanam lebih banyak pohon.

Padahal maknanya jauh lebih luas.

Ekonomi hijau adalah membangun sistem ekonomi yang tetap mampu tumbuh tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

Artinya, pembangunan tidak lagi hanya mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut efisien dalam menggunakan sumber daya, tahan terhadap berbagai guncangan, dan memberikan manfaat yang berkelanjutan.

Investasi pada energi terbarukan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang rentan terhadap gejolak harga.

Pertanian yang lebih adaptif menjaga pasokan pangan ketika cuaca berubah.

Bangunan hemat energi menekan konsumsi listrik dan biaya operasional.

Transportasi yang lebih efisien memperkuat konektivitas sekaligus mengurangi emisi.

Semua itu terlihat sebagai kebijakan sektoral.

Namun jika dirangkai, semuanya bermuara pada satu tujuan yang sama: menciptakan ekonomi yang lebih tangguh.

Dan ekonomi yang tangguh merupakan fondasi bagi stabilitas moneter.

Pandangan tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang menempatkan pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan sosial sebagai tujuan yang saling melengkapi.

Ekonomi hijau mendukung SDG 13 (Climate Action), memperkuat SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui pertumbuhan yang berkualitas, mendorong SDG 7 (Affordable and Clean Energy) lewat transisi energi, memperkuat SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui inovasi berkelanjutan, serta mendukung SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui pembangunan kota dan bangunan yang lebih efisien.

Dalam kerangka tersebut, Bank Indonesia bukanlah pelaksana seluruh agenda SDGs.

Namun mandatnya menjaga stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, dan kelancaran sistem pembayaran merupakan fondasi penting agar pembangunan berkelanjutan dapat berlangsung dengan baik.

Tanpa stabilitas harga, dunia usaha akan menunda investasi.

Tanpa sistem keuangan yang sehat, pembiayaan proyek hijau menjadi lebih mahal.

Tanpa kepercayaan terhadap perekonomian, transisi menuju ekonomi rendah karbon akan menghadapi hambatan yang jauh lebih besar.

Mungkin selama ini kami terlalu sering memisahkan lingkungan dan ekonomi.

Padahal keduanya saling menopang.

Lingkungan yang sehat menjaga produktivitas pertanian.

Produktivitas yang terjaga membantu mengendalikan inflasi.

Inflasi yang stabil meningkatkan kepastian dunia usaha.

Kepastian mendorong investasi.

Investasi menciptakan lapangan kerja.

Lapangan kerja meningkatkan kesejahteraan.

Dan kesejahteraan yang berkelanjutan merupakan tujuan utama pembangunan.

Di situlah lingkungan, nilai rupiah, dan pembangunan berkelanjutan bertemu.

Bukan karena pohon dapat menguatkan kurs mata uang secara langsung, melainkan karena lingkungan yang lestari membantu menciptakan perekonomian yang lebih stabil, lebih produktif, dan lebih tangguh menghadapi berbagai guncangan.

Pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan hanya tentang melindungi hutan, sungai, atau udara yang kami hirup.

Ia juga tentang menjaga sawah tetap produktif, rantai pasok tetap berjalan, harga tetap stabil, investasi terus tumbuh, dan perekonomian tetap tangguh menghadapi berbagai tantangan.

Karena itu, ketika kami berbicara tentang masa depan rupiah, sesungguhnya kami juga sedang berbicara tentang masa depan lingkungan.

Sebab nilai sebuah mata uang tidak hanya dibangun oleh angka-angka di pasar keuangan, tetapi juga oleh kekuatan fondasi ekonomi yang menopangnya.

Dan salah satu fondasi terpenting itu adalah lingkungan yang kami jaga bersama.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua