Harga Emas Dunia Melonjak Melesat Tinggi Di Tengah Tekanan Tiga Musuh

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Rabu, 22 Juli 2026
Harga Emas Dunia Melonjak Melesat Tinggi Di Tengah Tekanan Tiga Musuh
Harga Emas Dunia Melonjak Melesat Tinggi (FOTO: NET)

JAKARTA - Nilai jual emas kembali melonjak di tengah ekspektasi munculnya terobosan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.

Terobosan ini berpeluang meredakan lonjakan harga energi serta memangkas ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) bakal mempertahankan kebijakan moneter yang agresif (hawkish).

Mengacu Refinitiv, nilai jual emas pada penutupan Selasa (21/7/2026) berakhir pada level US$ 4076,29 per troy ons. Harganya menguat 1,76%.

Peningkatan ini menjadi kabar menggembirakan usai harganya melorot 0,27% pada Senin lalu. Nilai penutupan tersebut juga menjadi yang tertinggi semenjak 10 Juli 2026.

Pada hari ini, Rabu (22/7/2026) jam 06.29 WIB, nilai jual emas menguat 0,13% menjadi US$ 4081,38 per troy ons.

"Komoditas secara umum menguat karena pasar berharap gencatan senjata di Timur Tengah mulai menemukan titik terang," kata analis Marex, Edward Meir, dikutip dari Sumbernya.

Berdasarkan Meir, emas turut memperoleh sokongan dari aksi beli teknikal usai sukses menembus tren penurunan jangka pendek yang terjadi semenjak 6 Juli.

Walau begitu, dia memperkirakan nilai jual emas masih bakal bergerak pada kisaran terbatas dalam rentang dekat.

Seorang pejabat senior Iran menyampaikan bahwa Teheran sudah menerima usulan dari para perantara mengenai gencatan senjata selama 10 hari sebagai langkah menyelamatkan kesepakatan sementara yang sebelumnya telah diraih.

Selama ini, tingginya harga minyak akibat kendala pasokan dari wilayah Teluk justru menekan harga emas lantaran memicu kekhawatiran inflasi serta memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga bakal tetap tinggi dalam durasi lebih lama.

Walaupun emas dipahami sebagai aset pelindung nilai terhadap inflasi dalam rentang panjang, suku bunga yang tinggi menaikkan biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang aset yang tidak memberikan hasil seperti emas.

Pelaku pasar saat ini menantikan keputusan suku bunga Federal Reserve serta pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, usai agenda kebijakan moneter yang berlangsung selama dua hari pada minggu mendatang.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, para pelaku pasar mengestimasi peluang sekitar 68% bahwa The Fed bakal kembali menaikkan suku bunga pada September.

Dalam catatannya, Commerzbank menyebutkan ambang psikologis US$4.000 per troy ons masih bertahan kokoh sebagai area penahan harga emas. Namun, kekhawatiran atas arah suku bunga di Amerika Serikat diprediksi bakal membatasi ruang pemulihan nilai jual emas yang lebih besar.

Emas Menguat di Tengah Kenaikan Dolar, Imbal Hasil Obligasi AS dan Harga Minyak

Peningkatan harga emas kemarin tergolong menarik lantaran terjadi di tengah melonjaknya indeks dolar serta imbal hasil US Treasury.

Indeks dolar melonjak ke 101,173 pada perdagangan kemarin, titik tertingginya semenjak 1 Juli 2026. Sementara itu, imbal hasil US Treasury meroket ke 4,628% atau posisi tertingginya semenjak 19 Mei 2026.

Nilai jual emas biasanya langsung anjlok begitu indeks dolar serta imbal hasil US Treasury merambat naik. Masalahnya, transaksi emas dikonversi dalam dolar AS sehingga kenaikan indeks menjadikan emas lebih mahal bagi pemilik mata uang lain.

Emas pun tidak memberikan imbal hasil sehingga kenaikan imbal hasil US Treasury biasanya langsung menekan nilai jual emas.

Harga emas pun tetap merambat naik walaupun nilai jual minyak kembali meroket ke US$ 91,01 per barel atau posisi tertingginya semenjak 10 Juni 2026. Semenjak pertempuran, nilai jual emas sangat peka terhadap pergerakan harga minyak.

Peningkatan harga minyak biasanya langsung membuat emas terpuruk. Masalahnya, lonjakan harga minyak dapat memicu inflasi sehingga suku bunga terancam merambat naik.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua