Rupiah Menguat Tipis di Bawah Rp18.000 Kendati Terhadang Risiko Global

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Selasa, 21 Juli 2026
Rupiah Menguat Tipis di Bawah Rp18.000 Kendati Terhadang Risiko Global
Rupiah Menguat Tipis di Bawah Rp18.000 (FOTO: NET)

JAKARTA - Kurs rupiah mampu menguat tipis di bawah ambang psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) seiring melorotnya indeks dolar global, walaupun laju peningkatannya cenderung terhambat oleh serangkaian sentimen dalam negeri dan tingginya ancaman eksternal.

Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (17/7/2026), mata uang Garuda pada pasar spot ditutup melaju 0,36% menuju level Rp 17.921 per dolar AS.

Di sisi lain, data Trading Economics mencatat rupiah bergerak pada tingkat Rp17.946 per dolar AS, atau terapresiasi sekitar 0,74% sepanjang sepekan terakhir.

Baca Juga: IHSG Kembali Dibayangi Penutupan Selat Hormuz, Saham Energi Berpotensi Curi Perhatian

Sementara itu, kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia turut memperlihatkan penguatan rupiah ke level Rp 17.944 per dolar AS dibanding hari sebelumnya yang sempat tertahan pada Rp 18.041 per dolar AS.

Ekonom CORE Indonesia Dipo Satria Ramli menilai mata uang rupiah saat ini mengalami keterlambatan dampak jika dibandingkan pergerakan mata uang negara tetangga lantaran lebih didominasi faktor internal dibanding pergerakan murni dolar dunia.

Menurut Dipo, tekanan lepas saham dan obligasi oleh investor asing akibat isu tata kelola serta evaluasi indeks MSCI menjadi penghambat bagi kebangkitan portofolio domestik.

"Pelemahan dolar global memberi ruang napas, tapi faktor domestik (outflow asing, kebutuhan valas musiman, dan sentimen risk-off) masih kuat," ujar Dipo dari Sumbernya, Jumat (17/7/2026).

Sejalan dengan hal tersebut, Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menyampaikan bahwa kondisi dasar ekonomi Indonesia terbebani defisit transaksi berjalan kuartal I-2026 sebesar 1,1% PDB serta defisit perdagangan Mei senilai US$ 1,61 miliar akibat lonjakan impor minyak dan gas.

"Level di bawah Rp18.000 dapat bertahan jika pasokan devisa ekspor membaik, investor asing kembali masuk ke SBN dan saham, serta konflik geopolitik mereda," jelas Syafruddin dari Sumbernya, Jumat (17/7/2026).

Demi memperkuat nilai tukar ritel maupun makro, Bank Indonesia diperkirakan pasar bakal mengambil tindakan tegas dengan meningkatkan kembali BI-Rate sebesar 25 basis poin pada Juli 2026 ke level 5,75%.

Guna jangka pendek, Dipo memperkirakan mata uang Garuda bakal bergerak pada kisaran Rp17.800 sampai Rp18.200 per dolar AS.

Baca Juga: IHSG Menguat 4,24% dalam Sepekan, Transaksi Harian BEI Melonjak 36,25%

Sementara itu, Syafruddin memperkirakan rentang kuartal III-2026 berada pada Rp17.800 hingga Rp18.400 per dolar AS, dengan kecenderungan risiko melemah menuju Rp18.300 di akhir September apabila pasokan devisa perdagangan belum pulih sepenuhnya.

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menambahkan bahwa pemegang otoritas moneter kini menanggung beban biaya ekonomi yang kian membesar jika terus bergantung pada intervensi modal, cadangan devisa, dan suku bunga tinggi demi menjaga stabilitas nilai tukar.

"Penguatan jenis kedua (ditopang fundamental ekonomi dan masuknya devisa) tentu jauh lebih sehat dan berkelanjutan," tutup Yusuf.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua