Peluang Penguatan Rupiah Awal Pekan Jelang Bayang-Bayang Konflik Global

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Selasa, 21 Juli 2026
Peluang Penguatan Rupiah Awal Pekan Jelang Bayang-Bayang Konflik Global
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia (FOTO: NET)

JAKARTA - Pergerakan mata uang rupiah mengakhiri sesi perdagangan Jumat (17/7/2026) dengan apresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Walau begitu, laju nilai tukar rupiah untuk pembukaan pekan mendatang masih berada di bawah bayang-bayang ketidakpastian internasional, utamanya eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah yang dapat menahan harga komoditas minyak dunia tetap tinggi.

Merujuk pada catatan Bloomberg, di hari Jumat (17/7/2026) posisi rupiah spot berakhir naik Rp 65 atau 0,36% ke level Rp 17.921 per dolar AS.

Dalam kurun seminggu, mata uang garuda pasar spot terhitung menguat 0,80% dari level Rp 18.065 per dolar AS pada penutupan Jumat (10/7).

Patokan kurs rupiah Jisdor dilaporkan ikut menguat Rp 97 atau 0,54% menuju Rp 17.944 per dolar AS pada hari ini.

Capaian kurs rupiah Jisdor ini menandai tren positif empat hari perdagangan tanpa henti.

Secara mingguan, nilai rupiah berbasis Jisdor merangkak 0,69% dari acuan Rp 18.069 per dolar AS pada akhir minggu yang lalu.

Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengungkapkan kalau penguatan mata uang rupiah disokong oleh dorongan domestik yang terbilang positif, terutama setelah Bank Indonesia (BI) mempublikasikan bahwa roda bisnis pada triwulan II-2026 bertumbuh.

Merujuk temuan Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), angka Saldo Bersih Tertimbang (SBT) tercatat sebesar 12,97%, mengalami peningkatan dibanding angka 10,11% pada triwulan sebelumnya.

Pertumbuhan itu dipicu oleh menguatnya performa sejumlah bidang utama, seperti sektor pertanian, konstruksi, penggalian, hingga penyediaan tempat tinggal dan kuliner menyambut momen keagamaan serta hari libur sekolah.

Tak hanya itu, taraf kapasitas produksi yang dipakai juga meningkat menjadi 73,8% dari catatan sebelumnya di angka 73,33%.

Dorongan pada kapasitas produksi terpakai tersebut utamanya disumbang oleh LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, LU Pertambangan dan Penggalian, serta LU Pengadaan Listrik.

"Sementara itu, kondisi keuangan dunia usaha secara umum tetap baik pada aspek likuiditas maupun rentabilitas, dengan akses kredit yang tetap mudah," ujar Ibrahim, Jumat (17/7/2026).

Kendati demikian, Ibrahim mengingatkan kalau dinamika eksternal tetap menjadi variabel utama yang membebani rupiah.

Ketegangan di area Timur Tengah kembali membara usai Amerika Serikat meluncurkan gempuran ke markas di Iran, yang lalu ditanggapi Teheran melalui balasan rudal serta drone ke pangkalan militer AS di kawasan tersebut.

Kondisi ini menyulut ketakutan terganggunya distribusi minyak mentah dunia serta berpotensi menahan harga minyak berada pada taraf yang tinggi.

Keadaan ini diantisipasi pula dapat memicu kembali gelombang inflasi secara global.

Menurut pandangan Ibrahim, kenaikan pada harga minyak bisa memperumit langkah bank sentral Amerika Serikat (The Fed) guna memangkas acuan suku bunga secara cepat, meski data inflasi terbaru AS memperlihatkan penurunan tekanan harga.

"Pejabat Federal Reserve terus menekankan bahwa risiko inflasi tetap ada. Mereka membutuhkan beberapa bulan lagi data inflasi yang rendah sebelum mempertimbangkan penurunan suku bunga, terlebih harga minyak berpotensi tetap tinggi akibat konflik di Timur Tengah," jelasnya.

Menghadapi sesi transaksi Senin (20/7), Ibrahim memperkirakan posisi rupiah memiliki kans menguat saat penutupan.

Ia mengestimasi pergerakan nilai tukar rupiah berada di rentang Rp 17.870 hingga Rp 17.930 per dolar AS.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua