Mentan Sebut Produksi Pangan Tetap Stabil Meski Dinamika Cuaca Meningkat
- Jumat, 06 Februari 2026
JAKARTA - Mentan Produksi dan stok pangan tetap aman di tengah dinamika cuaca menjadi penegasan pemerintah dalam menjaga stabilitas pangan nasional.
Di tengah curah hujan yang meningkat di sejumlah wilayah, sektor pertanian tetap berjalan sesuai rencana. Pemerintah menilai langkah antisipasi yang dilakukan mampu menjaga produksi tetap stabil.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kondisi cuaca tidak mengganggu ketahanan pangan nasional. Menurutnya, penguatan pengendalian produksi dan pemantauan stok dilakukan secara ketat.
Baca JugaPrabowo Dorong Penguatan Integritas dan Kepercayaan Publik di Pasar Modal
“Kondisi hujan yang terjadi tidak berdampak terhadap ketahanan pangan karena pemerintah telah mengantisipasi melalui penguatan pengendalian produksi dan pemantauan stok secara ketat,” kata Mentan.
Langkah tersebut menunjukkan kesiapan pemerintah menghadapi dinamika iklim. Pengawasan dilakukan secara berkelanjutan di seluruh wilayah produksi. Dengan pendekatan ini, potensi gangguan dapat ditekan sejak awal.
Stok Beras Nasional Capai Rekor Tertinggi
Mentan menyampaikan bahwa stok beras nasional berada pada level yang sangat kuat. Hingga akhir Januari 2026, stok tercatat mencapai 3,3 juta ton. Angka ini disebut sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka.
Capaian tersebut mencerminkan stabilitas produksi nasional di tengah curah hujan tinggi. Pemerintah menilai kondisi ini sebagai hasil dari kebijakan yang konsisten. Produksi yang terjaga menjadi penopang utama ketahanan pangan.
“Insya Allah tidak berpengaruh sama sekali. Stok kita sekarang 3,3 juta ton. Itu tidak pernah terjadi selama Indonesia merdeka,” ujar Mentan. Pernyataan ini menegaskan optimisme pemerintah terhadap kondisi pangan nasional. Keyakinan tersebut didasarkan pada data produksi dan stok yang aktual.
Serapan Beras Pemerintah Mengalami Lonjakan
Selain stok yang kuat, Mentan juga menyoroti peningkatan serapan beras pemerintah. Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terjadi lonjakan yang signifikan. Kondisi ini menunjukkan sistem pangan nasional bekerja dengan baik.
Mentan menjelaskan bahwa peningkatan serapan mencerminkan ketahanan sistem pangan. Meskipun cuaca mengalami dinamika, distribusi dan penyerapan tetap berjalan. Hal ini menjadi indikator kekuatan kebijakan pangan nasional.
“Januari komparasi tahun lalu itu hanya 14.000 ton (serapan beras) sekarang 112 ribu ton. Jadi naik 700 persen di bulan Januari,“ ucapnya. Angka tersebut menunjukkan peningkatan yang sangat tajam. Pemerintah menilai capaian ini sebagai sinyal positif bagi sektor pertanian.
Curah Hujan Dinilai Dukung Aktivitas Tanam
Menurut Mentan, curah hujan tinggi tidak selalu menjadi hambatan bagi sektor pertanian. Justru dalam kondisi tertentu, hujan dapat mempercepat proses tanam. Hal ini berlaku selama pengelolaan air dilakukan dengan baik.
Ia menekankan bahwa tantangan terbesar justru datang saat kekeringan. Pengalaman menghadapi El Nino menjadi pembelajaran penting bagi pemerintah. Oleh karena itu, antisipasi terhadap kekeringan terus diperkuat.
“Cuaca ini berkah karena mendukung tanam. Tantangan terbesar justru ketika terjadi kekeringan seperti El Nino,” tegasnya. Pernyataan ini menegaskan sudut pandang pemerintah terhadap dinamika iklim. Pendekatan adaptif menjadi kunci menjaga produksi.
Pengawasan Lapangan dan Mitigasi Terus Diperkuat
Memasuki awal 2026, Kementerian Pertanian aktif memantau produksi dan stok pangan nasional. Fokus pengawasan diarahkan ke wilayah sentra produksi padi. Langkah ini bertujuan memastikan pasokan tetap aman.
Hasil pemantauan menunjukkan produksi di Pulau Jawa berjalan dengan baik. Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat masih berada dalam kondisi relatif aman. Pasokan beras nasional tetap terjaga meskipun terdapat laporan banjir di beberapa lokasi.
Sebagai bagian dari mitigasi, prakiraan cuaca dimanfaatkan sebagai dasar kebijakan. Pendekatan antisipatif dilakukan untuk menghadapi potensi curah hujan tinggi. Dengan langkah ini, gangguan dapat dicegah lebih dini.
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan juga melakukan peninjauan lapangan. Kunjungan dilakukan ke wilayah pertanian terdampak genangan. Langkah ini memastikan produksi tetap aman di tingkat petani.
Direktur Jenderal Tanaman Pangan Yudi Sastro menyampaikan bahwa kunjungan dilakukan atas arahan Menteri Pertanian. Ia meminta dinas setempat segera mengusulkan bantuan benih. Tujuannya agar tanam ulang bisa dilakukan secepat mungkin.
Bantuan diprioritaskan bagi wilayah yang mengalami genangan. Langkah ini dilakukan untuk menekan potensi gagal panen. Pemerintah memastikan gangguan lokal tidak berdampak nasional.
Selain itu, pemerintah daerah diminta mengajukan normalisasi saluran air. Perbaikan irigasi dipandang penting untuk jangka menengah dan panjang. Upaya ini bertujuan menjaga keberlanjutan produksi pangan.
Kementerian Pertanian menegaskan respons cepat menjadi kunci stabilitas pangan. Penguatan tata kelola air terus dilakukan secara berkelanjutan. Dengan langkah tersebut, ketahanan pangan nasional tetap terjaga.
Alif Bais Khoiriyah
wartafinansial.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
PLTSa Nasional Didorong Percepat Transisi Energi dan Pengelolaan Sampah Modern
- Jumat, 06 Februari 2026
Berita Lainnya
Kementerian ESDM Targetkan 250 Ribu Rumah Tangga Terima Bantuan Pasang Listrik
- Jumat, 06 Februari 2026
Stimulus Pajak Menjadi Motor Utama Penggerak Gairah Pasar Properti Nasional 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Optimisme Pakuwon Jati Terhadap Prospek Properti 2026 Berkat Insentif PPN DTP
- Jumat, 06 Februari 2026
Pramono Anung Andalkan Infrastruktur Dan Sport Science Demi Target Juara Umum
- Jumat, 06 Februari 2026












