Kamis, 05 Februari 2026

Industri Mobil Listrik Berkembang Pesat, Indonesia Kian Mantap Jadi Basis Produksi

Industri Mobil Listrik Berkembang Pesat, Indonesia Kian Mantap Jadi Basis Produksi
Industri Mobil Listrik Berkembang Pesat, Indonesia Kian Mantap Jadi Basis Produksi

JAKARTA - Perkembangan industri kendaraan listrik di Indonesia menunjukkan arah yang semakin positif. 

Peningkatan ekspor mobil listrik rakitan lokal menjadi sinyal kuat bahwa industri otomotif nasional mulai mendapat kepercayaan pasar regional. Kondisi ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk naik kelas sebagai basis produksi kendaraan listrik setir kanan.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia mencatat adanya lonjakan ekspor mobil merek China yang dirakit di pabrik Indonesia sepanjang 2025. 

Baca Juga

Mentan Pastikan Harga Daging Sapi Tetap Stabil Jelang Hari Besar Keagamaan

Kenaikan tersebut dipengaruhi meningkatnya permintaan kendaraan listrik di berbagai kawasan Asia. Tren ini sekaligus mencerminkan daya saing industri otomotif nasional di tengah persaingan global.

Ekspor mobil listrik dari Indonesia sebagian besar dilakukan dalam bentuk kendaraan utuh atau completely built-up. Model ekspor ini menunjukkan kesiapan fasilitas produksi dalam negeri yang telah memenuhi standar internasional. Situasi tersebut menjadi fondasi penting bagi ekspansi industri kendaraan listrik ke pasar yang lebih luas.

Lonjakan Ekspor Mobil Listrik Rakitan Lokal

Tiga merek produsen mobil China menjadi kontributor utama ekspor kendaraan listrik dari Indonesia. Chery, DFSK, dan Wuling mencatatkan total ekspor sebanyak 3.200 unit sepanjang periode tersebut. Angka ini menempatkan ketiganya sebagai merek papan atas dalam ekspor mobil listrik rakitan lokal.

Wuling menjadi merek dengan volume ekspor terbesar, yakni mencapai 2.411 unit. Chery menyusul dengan total ekspor sebanyak 745 unit, sementara DFSK mencatatkan 44 unit. Distribusi ini menunjukkan dominasi Wuling dalam pemanfaatan basis produksi di Indonesia.

Tujuan ekspor mobil listrik tersebut mencakup sejumlah negara di kawasan Asia. Negara tujuan utama meliputi Sri Lanka, Bangladesh, Brunei, dan Vietnam. Pasar-pasar ini menjadi pintu masuk penting bagi ekspansi kendaraan listrik buatan Indonesia.

Pengakuan Kualitas Tenaga Kerja Nasional

Pengamat otomotif dari ITB, Yannes Martinus Pasaribu, menilai capaian ekspor tersebut sebagai indikator peningkatan kualitas industri nasional. Ia menilai tenaga kerja Indonesia telah mampu memenuhi standar global dalam perakitan kendaraan listrik. Hal ini memperkuat posisi Indonesia di mata pabrikan internasional.

“Saya melihat Indonesia sedang naik kelas, tidak lagi hanya dipandang sebagai pasar, khususnya untuk kendaraan listrik, tetapi juga telah diakui sebagai basis produksi. Jika tren ini dijaga dengan regulasi yang konsisten, angka ekspor tersebut berpotensi melonjak dalam beberapa tahun mendatang,” kata Yannes.

 Pernyataan tersebut menegaskan perubahan persepsi terhadap industri otomotif Indonesia.

Menurut Yannes, keberhasilan ini tidak terlepas dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Proses transfer teknologi dan peningkatan keterampilan tenaga kerja berjalan seiring dengan investasi pabrikan asing. Kondisi tersebut menjadi modal penting untuk menjaga kesinambungan industri kendaraan listrik nasional.

Indonesia Strategis untuk Produksi Setir Kanan

Yannes menjelaskan terdapat sejumlah alasan pabrikan China memilih Indonesia sebagai basis produksi. Salah satu faktor utamanya adalah posisi strategis Indonesia di kawasan Asia Pasifik. Lokasi ini memudahkan distribusi kendaraan ke berbagai negara tujuan ekspor.

Indonesia dinilai memiliki peluang besar sebagai basis produksi mobil listrik setir kanan. Negara-negara Asia Tenggara, Bangladesh, Sri Lanka, hingga Australia menjadi pasar potensial untuk jenis kendaraan tersebut. Kebutuhan pasar ini sejalan dengan spesifikasi produksi yang dikembangkan di Indonesia.

Keunggulan lain adalah potensi penghindaran tarif impor yang lebih tinggi di negara tujuan. Mobil listrik produksi Indonesia dinilai lebih kompetitif dibandingkan kendaraan yang diproduksi langsung di China. Hal ini memberikan keuntungan harga bagi konsumen di pasar tujuan.

Perjanjian Dagang dan Ekosistem Baterai Lokal

Keberadaan berbagai perjanjian perdagangan bebas tarif menjadi faktor pendukung ekspor kendaraan listrik. Indonesia memiliki kerja sama dagang dengan sejumlah negara yang mempermudah akses pasar. Skema ini membantu menekan biaya masuk produk ke negara tujuan.

Selain itu, pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik di dalam negeri terus berjalan. Produksi baterai lokal diperkirakan akan menurunkan biaya produksi kendaraan listrik secara signifikan. Penurunan biaya ini berpotensi meningkatkan daya saing ekspor Indonesia.

Yannes menilai kombinasi regulasi, sumber daya manusia, dan ekosistem industri menjadi kunci utama. Jika dikelola secara konsisten, Indonesia berpeluang menjadi pusat produksi kendaraan listrik setir kanan di kawasan. Prospek ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta industri otomotif global.

Alif Bais Khoiriyah

Alif Bais Khoiriyah

wartafinansial.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Seskab Teddy Tegaskan Keanggotaan Indonesia di Board of Peace Tidak Mengikat

Seskab Teddy Tegaskan Keanggotaan Indonesia di Board of Peace Tidak Mengikat

Sinergi KKP dan TNI Perkuat Program Kelautan Nasional Berbasis Keamanan

Sinergi KKP dan TNI Perkuat Program Kelautan Nasional Berbasis Keamanan

Prabowo Tekankan Inovasi Energi untuk Menjawab Tantangan Sampah Nasional

Prabowo Tekankan Inovasi Energi untuk Menjawab Tantangan Sampah Nasional

Gibran Dorong Pendidikan Robotik Inklusif untuk Masa Depan Generasi Nasional

Gibran Dorong Pendidikan Robotik Inklusif untuk Masa Depan Generasi Nasional

BMKG Ingatkan Warga Jakarta untuk Waspada Cuaca Ekstrem Sepanjang Februari

BMKG Ingatkan Warga Jakarta untuk Waspada Cuaca Ekstrem Sepanjang Februari