Optimisme Pasar Modal dan Investasi RI di Tengah Volatilitas Global
- Jumat, 17 Oktober 2025
JAKARTA - Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam, dengan IHSG kembali menguat setelah tiga hari berturut-turut melemah.
Sektor saham bahan baku dan kesehatan menjadi penopang utama. Sementara rupiah mengalami koreksi tipis terhadap dolar AS, investor menunggu arah kebijakan The Fed dan sentimen global lainnya.
IHSG Bangkit dari Tekanan Tiga Hari Merah
Baca JugaPrudential Syariah Fokus Perlindungan dan Perencanaan Finansial Lintas Mata Uang Keluarga
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,91% ke level 8.124,76. Sebanyak 412 saham menguat, 250 melemah, dan 141 stagnan dengan nilai transaksi Rp19,5 triliun. Kapitalisasi pasar naik menjadi Rp15.227 triliun, meski investor asing mencatat net sell Rp622,3 miliar.
Kenaikan IHSG ditopang oleh sektor bahan baku (2,6%), sektor kesehatan (2,57%), dan utilitas (1,69%). Saham Amman Mineral Internasional (AMMN) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menyumbang lebih dari 36 poin terhadap indeks.
Saham perbankan besar seperti BBRI, BBCA, dan BBNI juga menguat, sedangkan saham konsumer terdorong wacana pemangkasan tarif PPN.
Pergerakan Rupiah dan Sentimen Global
Rupiah terkoreksi 0,03% ke level Rp16.565 per dolar AS, meski indeks dolar AS melemah 0,17% ke 98,63. Pelemahan rupiah terjadi karena investor menahan posisi di aset berisiko di tengah ketegangan perdagangan AS-China dan sinyal dovish dari The Fed.
Di pasar obligasi, Surat Berharga Negara (SBN) turun ke 5,92%, rekor terendah sejak Desember 2020. Imbal hasil menurun seiring meningkatnya permintaan investor terhadap SBN, menandai optimisme pada instrumen aman di tengah volatilitas global.
Dampak Ketegangan AS dan Wall Street
Bursa saham AS turun tajam, Dow Jones turun 301,07 poin ke 45.952,24, S&P 500 turun 0,6% ke 6.629,07, dan Nasdaq 0,5% ke 22.562,54. Kekhawatiran muncul dari pinjaman macet di bank regional, kebangkrutan perusahaan otomotif, serta penutupan pemerintah AS yang memasuki minggu ketiga.
Lonjakan Cboe Volatility Index (VIX) dan penurunan imbal hasil Treasury 10-tahun menunjukkan investor waspada. Ketegangan perdagangan AS-China menambah volatilitas, sehingga pasar menunggu kejelasan kebijakan The Fed dan sentimen global untuk menentukan arah investasi.
Agenda Investasi dan Hilirisasi RI
Pasar menanti rilis realisasi investasi triwulan III-2025 oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, yang menjadi tolok ukur kestabilan arus modal di tengah kondisi global.
Realisasi investasi hingga kuartal III-2025 mencapai Rp1.400 triliun, setara 73,68% dari target tahunan Rp1.905,6 triliun, dengan penanaman modal dalam negeri mendominasi 57,7% dan asing 42,3%.
Presiden Prabowo Subianto menekankan optimalisasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) untuk memperkuat cadangan devisa. Fokus pemerintah pada hilirisasi industri berbasis sumber daya alam bertujuan menjaga arus modal asing dan menciptakan lapangan kerja.
Agenda konferensi pers dan forum pasar modal menjadi perhatian pelaku pasar untuk menilai arah investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Alif Bais Khoiriyah
wartafinansial.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Juara Kelas Bulu UFC Ilia Topuria Isyaratkan Segera Kembali Bertarung Di Oktagon
- Jumat, 06 Februari 2026
Real Madrid Terobsesi Rekrut Bintang Premier League Dana Rp27 Triliun Disiapkan
- Jumat, 06 Februari 2026
Astra Hadirkan Karya Seni Kreatif Bersama indieguerillas di Stasiun MRT Setiabudi
- Jumat, 06 Februari 2026
Berita Lainnya
Harga Perak Hari Ini Mengalami Koreksi, Momentum Potensial untuk Para Investor
- Jumat, 06 Februari 2026
Syarat KUR Mandiri 2026: Hadir dengan Pinjaman Rp50 Juta untuk UMKM Nasional
- Jumat, 06 Februari 2026
Harga Emas Perhiasan Stabil, Meningkatkan Kepercayaan Investor dan Konsumen Pasar
- Jumat, 06 Februari 2026
BI Tegaskan Ekonomi Indonesia Tetap Solid Meski Moodys Pangkas Outlook
- Jumat, 06 Februari 2026












