Sabtu, 07 Februari 2026

IHSG Terus Catat Rekor Tertinggi Didukung Rupiah Terapresiasi

IHSG Terus Catat Rekor Tertinggi Didukung Rupiah Terapresiasi
IHSG Terus Catat Rekor Tertinggi Didukung Rupiah Terapresiasi

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatat rekor tertinggi meski terjadi shutdown pemerintah Amerika Serikat.

Kondisi ini justru memberi sentimen positif bagi pasar saham Indonesia karena melemahnya dolar AS mendorong apresiasi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup menguat 0,36% ke level 8.169, menambah tren positif dari penguatan pada perdagangan sebelumnya sebesar 0,27% ke 8.139, diikuti arus beli bersih asing sebesar Rp2,02 triliun.

Baca Juga

Prudential Syariah Fokus Perlindungan dan Perencanaan Finansial Lintas Mata Uang Keluarga

Rupiah Terapresiasi Dorong Aliran Modal Asing

Director Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada, menilai shutdown pemerintah AS memengaruhi pasar tergantung persepsi investor. Dampak utama yang terlihat adalah melemahnya dolar AS, yang membuat rupiah terapresiasi 0,13% atau 22 poin ke Rp16.561 per dolar AS.

Apresiasi rupiah dipandang positif karena memicu masuknya modal asing ke pasar domestik, khususnya ke saham dan obligasi pemerintah. Reza menekankan bahwa sektor-sektor yang berorientasi impor, seperti ritel, teknologi, IT, dan telekomunikasi, akan merasakan efek positif dari pergerakan ini.

Respons Positif pada Sektor Saham Tertentu

Data perdagangan menunjukkan beberapa sektor saham mengalami penguatan signifikan. IDX sektor teknologi naik 2,36% ke 11.741,88, sektor basic materials menguat 1,18% ke 2.021,45, dan sektor infrastruktur naik 2,01% ke 1.904,07.

Kenaikan ini sejalan dengan aliran modal yang masuk akibat apresiasi rupiah, memberikan optimisme bagi investor domestik maupun asing untuk memanfaatkan momentum pasar yang lebih likuid dan atraktif.

Kondisi Global dan Risiko Ketidakpastian

Meski ada dampak positif, shutdown pemerintah AS juga membawa risiko bagi pasar global. Gangguan operasional pemerintah berpotensi menunda negosiasi perdagangan internasional, termasuk antara AS dan Indonesia, serta menciptakan ketidakpastian kebijakan moneter.

Jika kondisi shutdown berlangsung lama, investor mungkin menghindari aset berisiko dan beralih ke instrumen safe haven seperti emas. Reza menegaskan bahwa dampak negatif atau positif pada IHSG sangat bergantung pada lamanya ketidakpastian ini dan respons The Fed terhadap kebijakan suku bunga di masa mendatang.

Alif Bais Khoiriyah

Alif Bais Khoiriyah

wartafinansial.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Harga Perak Hari Ini Mengalami Koreksi, Momentum Potensial untuk Para Investor

Harga Perak Hari Ini Mengalami Koreksi, Momentum Potensial untuk Para Investor

Syarat KUR Mandiri 2026: Hadir dengan Pinjaman Rp50 Juta untuk UMKM Nasional

Syarat KUR Mandiri 2026: Hadir dengan Pinjaman Rp50 Juta untuk UMKM Nasional

Harga Emas Perhiasan Stabil, Meningkatkan Kepercayaan Investor dan Konsumen Pasar

Harga Emas Perhiasan Stabil, Meningkatkan Kepercayaan Investor dan Konsumen Pasar

Update Harga Buyback Emas Galeri 24 dan UBS Hari Ini Tetap Stabil

Update Harga Buyback Emas Galeri 24 dan UBS Hari Ini Tetap Stabil

BI Tegaskan Ekonomi Indonesia Tetap Solid Meski Moodys Pangkas Outlook

BI Tegaskan Ekonomi Indonesia Tetap Solid Meski Moodys Pangkas Outlook