Sabtu, 07 Februari 2026

Nilai Tukar Rupiah Menguat di Tengah Optimisme Pasar Global

Nilai Tukar Rupiah Menguat di Tengah Optimisme Pasar Global
Nilai Tukar Rupiah Menguat di Tengah Optimisme Pasar Global

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada awal pekan ini menunjukkan penguatan di tengah dinamika global yang fluktuatif.

Dukungan dari inflasi domestik yang tetap terjaga serta ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed menjadi faktor utama penopang pergerakan rupiah. Pasar juga cenderung mengabaikan dampak penutupan pemerintahan AS dan lebih fokus pada prospek ekonomi global yang stabil.

Rupiah Awal Pekan Bergerak di Zona Positif

Baca Juga

Prudential Syariah Fokus Perlindungan dan Perencanaan Finansial Lintas Mata Uang Keluarga

Perdagangan hari ini memperlihatkan rupiah bergerak stabil dengan kecenderungan menguat di kisaran Rp16.520 hingga Rp16.560 per dolar AS. Berdasarkan data penutupan sebelumnya, rupiah menutup perdagangan dengan penguatan 0,21% atau naik 35 poin ke level Rp16.563 per dolar AS.

Kinerja mata uang Garuda ini sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS yang turun 0,08% ke posisi 97,76. Kondisi tersebut menunjukkan adanya pelepasan aset dolar oleh investor global di tengah meningkatnya optimisme terhadap aset berisiko, termasuk mata uang Asia.

Sejumlah mata uang di kawasan turut menguat, seperti dolar Hong Kong yang naik 0,02%, dolar Singapura 0,02%, dolar Taiwan 0,12%, peso Filipina 0,4%, yuan China 0,01%, dan baht Thailand 0,21%. Namun, sebagian lainnya justru melemah seperti yen Jepang 0,07%, won Korea Selatan 0,02%, rupee India 0,06%, serta ringgit Malaysia 0,1%.

Sentimen Global Dorong Kepercayaan Pasar

Pengamat forex Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa ada sejumlah sentimen eksternal yang memengaruhi pergerakan rupiah. Salah satunya berasal dari kondisi di Amerika Serikat, di mana pasar global relatif tenang menghadapi penutupan pemerintahan (shutdown).

Menurutnya, investor kini tidak terlalu khawatir terhadap dampak langsung shutdown tersebut, karena pengalaman sebelumnya menunjukkan efeknya terbatas terhadap pasar keuangan.

Fokus utama pasar saat ini justru beralih pada data ketenagakerjaan swasta yang lemah, yang semakin memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga kembali pada akhir Oktober.

Pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September lalu telah memberikan sinyal pelonggaran kebijakan moneter. Berdasarkan data CME Fedwatch, peluang bahwa The Fed akan kembali memangkas suku bunga di akhir bulan ini mencapai 99,3%. Harapan tersebut mendorong arus dana masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Faktor Domestik Perkuat Ketahanan Rupiah

Dari sisi domestik, kinerja rupiah turut ditopang oleh data inflasi yang tetap terkendali. Bank Indonesia mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2025 berada di kisaran sasaran 2,5% ±1%. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi bulanan tercatat 0,21%, sementara inflasi tahunan berada di level 2,65%.

Angka ini menunjukkan kestabilan harga yang membantu menjaga kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi nasional. Dengan inflasi yang masih dalam batas target, ruang bagi Bank Indonesia untuk tetap menjaga stabilitas nilai tukar semakin terbuka lebar.

Kondisi makroekonomi yang relatif stabil ini turut memberikan kepercayaan tambahan kepada pelaku pasar terhadap prospek rupiah. Investor menilai bahwa risiko pelemahan lebih lanjut dapat ditekan selama kebijakan fiskal dan moneter tetap terkoordinasi dengan baik.

Prospek Rupiah di Tengah Ketidakpastian Global

Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, rupiah dibuka menguat 0,21% ke posisi Rp16.563 per dolar AS, sementara indeks dolar AS justru naik tipis 0,21% ke 98,04. Pergerakan ini menandakan dinamika pasar yang masih fluktuatif, namun tren penguatan rupiah tetap berpeluang berlanjut seiring sentimen positif global.

Di kawasan Asia Pasifik, mata uang regional bergerak bervariasi. Yen Jepang melemah cukup dalam sebesar 1,55%, sementara dolar Singapura turun 0,19%, dolar Taiwan melemah 0,35%, dan won Korea Selatan turun 0,29%.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kinerja rupiah tergolong solid dibandingkan dengan sebagian besar mata uang Asia lainnya. Ke depan, pelaku pasar akan mencermati langkah lanjutan The Fed serta kebijakan moneter Bank Indonesia untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar.

Dengan inflasi yang terkendali dan ekspektasi suku bunga global yang menurun, rupiah berpeluang mempertahankan momentum penguatannya di pekan ini.

Alif Bais Khoiriyah

Alif Bais Khoiriyah

wartafinansial.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Harga Perak Hari Ini Mengalami Koreksi, Momentum Potensial untuk Para Investor

Harga Perak Hari Ini Mengalami Koreksi, Momentum Potensial untuk Para Investor

Syarat KUR Mandiri 2026: Hadir dengan Pinjaman Rp50 Juta untuk UMKM Nasional

Syarat KUR Mandiri 2026: Hadir dengan Pinjaman Rp50 Juta untuk UMKM Nasional

Harga Emas Perhiasan Stabil, Meningkatkan Kepercayaan Investor dan Konsumen Pasar

Harga Emas Perhiasan Stabil, Meningkatkan Kepercayaan Investor dan Konsumen Pasar

Update Harga Buyback Emas Galeri 24 dan UBS Hari Ini Tetap Stabil

Update Harga Buyback Emas Galeri 24 dan UBS Hari Ini Tetap Stabil

BI Tegaskan Ekonomi Indonesia Tetap Solid Meski Moodys Pangkas Outlook

BI Tegaskan Ekonomi Indonesia Tetap Solid Meski Moodys Pangkas Outlook