Kamis, 02 April 2026

Bursa Asia Bergerak Tipis Naik Dengan Fokus Sektor Teknologi

Bursa Asia Bergerak Tipis Naik Dengan Fokus Sektor Teknologi
Bursa Asia Bergerak Tipis Naik Dengan Fokus Sektor Teknologi

JAKARTA - Saham Asia bergerak tipis naik di tengah perhatian investor terhadap kebijakan moneter AS dan isu visa H-1B.

Pergerakan ini menunjukkan kehati-hatian pelaku pasar sekaligus peluang pada sektor teknologi. Berikut rangkuman kondisi pasar dan strategi investor.

Pergerakan Saham Asia di Awal Pekan

Baca Juga

Cara Bayar Indihome Lewat mBanking BCA Beserta Biaya Adminnya

Saham Asia menunjukkan kenaikan tipis dengan indeks MSCI Asia-Pasifik naik 0,09%. Nikkei Tokyo mencatat peningkatan 1% setelah penurunan pekan lalu. Futures saham AS sedikit melemah, mencerminkan kehati-hatian investor global.

Pasar tetap waspada terhadap perkembangan sektor teknologi dan kebijakan visa H-1B. Investor menimbang risiko biaya operasional dan margin perusahaan akibat perubahan aturan tenaga kerja asing.

Indeks dolar AS stabil, mendukung pergerakan pasar regional. Posisi greenback menjadi acuan bagi investor dalam menilai risiko mata uang dan imbal hasil obligasi global.

Dampak Isu Visa H-1B pada Teknologi

Pemerintah AS berencana meminta perusahaan membayar US$100.000 per visa H-1B baru. Langkah ini menekan sektor teknologi yang bergantung pada tenaga kerja India dan China.

Sektor teknologi India senilai US$283 miliar kemungkinan merasakan tekanan jangka pendek. Biaya upah dan operasional diperkirakan meningkat akibat pembatasan tenaga kerja asing.

Perusahaan menghadapi dilema dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja tanpa melanggar aturan baru. Investor memantau respons sektor ini terhadap potensi sanksi dan biaya tambahan.

Kebijakan Moneter AS dan Tren Dolar

The Fed memangkas suku bunga pekan lalu, namun memberikan sinyal pelonggaran bertahap. Investor menunggu data inflasi inti sebagai indikator ekspektasi suku bunga jangka pendek.

Ekspektasi pelonggaran sekitar 44 basis poin hingga akhir tahun mempengaruhi posisi dolar. Indeks dolar tercatat 97,716, menandakan tren menguat dalam jangka pendek.

Pidato pejabat Fed dan pasokan obligasi Treasury menjadi faktor penentu arus dolar. Para pedagang tetap cermat menilai langkah moneter dan dampaknya terhadap pasar global.

Kondisi Pasar Jepang dan Komoditas

Yen Jepang melemah ke 148,20 per dolar AS setelah keputusan Bank of Japan mempertahankan suku bunga 0,5%. Dua anggota dewan mengusulkan kenaikan menjadi 0,75% namun ditolak.

Langkah ini menunjukkan indikasi potensi kenaikan suku bunga jangka pendek. Investor menilai strategi bank sentral Jepang sebagai sinyal kehati-hatian pasar terhadap obligasi dan saham domestik.

Di sisi komoditas, harga minyak Brent naik 0,3% menjadi US$66,89 per barel, WTI naik 0,35% menjadi US$62,9. Harga emas juga naik 0,24% mendekati rekor tertinggi pekan lalu.

Alif Bais Khoiriyah

Alif Bais Khoiriyah

wartafinansial.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Indonesia Gadai Oke: Proyeksi Gadai Emas Tetap Diminati Masyarakat

Indonesia Gadai Oke: Proyeksi Gadai Emas Tetap Diminati Masyarakat

CNAF Optimistis Mampu Capai Target Pembiayaan Multiguna Tahun 2026

CNAF Optimistis Mampu Capai Target Pembiayaan Multiguna Tahun 2026

Asuransi Kesehatan Tetap Menjanjikan dengan Strategi Ciputra Life yang Efektif

Asuransi Kesehatan Tetap Menjanjikan dengan Strategi Ciputra Life yang Efektif

Perak Antam Kembali Menguat, Menjadi Peluang Investasi yang Menjanjikan

Perak Antam Kembali Menguat, Menjadi Peluang Investasi yang Menjanjikan

Bank Indonesia Catat Tren Positif Transaksi QRIS Antarnegara Tahun 2026

Bank Indonesia Catat Tren Positif Transaksi QRIS Antarnegara Tahun 2026