JAKARTA - Saham Asia bergerak tipis naik di tengah perhatian investor terhadap kebijakan moneter AS dan isu visa H-1B.
Pergerakan ini menunjukkan kehati-hatian pelaku pasar sekaligus peluang pada sektor teknologi. Berikut rangkuman kondisi pasar dan strategi investor.
Pergerakan Saham Asia di Awal Pekan
Baca JugaKredit Pintar Apakah Legal & Terdaftar di OJK? Cek Faktanya di Sini!
Saham Asia menunjukkan kenaikan tipis dengan indeks MSCI Asia-Pasifik naik 0,09%. Nikkei Tokyo mencatat peningkatan 1% setelah penurunan pekan lalu. Futures saham AS sedikit melemah, mencerminkan kehati-hatian investor global.
Pasar tetap waspada terhadap perkembangan sektor teknologi dan kebijakan visa H-1B. Investor menimbang risiko biaya operasional dan margin perusahaan akibat perubahan aturan tenaga kerja asing.
Indeks dolar AS stabil, mendukung pergerakan pasar regional. Posisi greenback menjadi acuan bagi investor dalam menilai risiko mata uang dan imbal hasil obligasi global.
Dampak Isu Visa H-1B pada Teknologi
Pemerintah AS berencana meminta perusahaan membayar US$100.000 per visa H-1B baru. Langkah ini menekan sektor teknologi yang bergantung pada tenaga kerja India dan China.
Sektor teknologi India senilai US$283 miliar kemungkinan merasakan tekanan jangka pendek. Biaya upah dan operasional diperkirakan meningkat akibat pembatasan tenaga kerja asing.
Perusahaan menghadapi dilema dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja tanpa melanggar aturan baru. Investor memantau respons sektor ini terhadap potensi sanksi dan biaya tambahan.
Kebijakan Moneter AS dan Tren Dolar
The Fed memangkas suku bunga pekan lalu, namun memberikan sinyal pelonggaran bertahap. Investor menunggu data inflasi inti sebagai indikator ekspektasi suku bunga jangka pendek.
Ekspektasi pelonggaran sekitar 44 basis poin hingga akhir tahun mempengaruhi posisi dolar. Indeks dolar tercatat 97,716, menandakan tren menguat dalam jangka pendek.
Pidato pejabat Fed dan pasokan obligasi Treasury menjadi faktor penentu arus dolar. Para pedagang tetap cermat menilai langkah moneter dan dampaknya terhadap pasar global.
Kondisi Pasar Jepang dan Komoditas
Yen Jepang melemah ke 148,20 per dolar AS setelah keputusan Bank of Japan mempertahankan suku bunga 0,5%. Dua anggota dewan mengusulkan kenaikan menjadi 0,75% namun ditolak.
Langkah ini menunjukkan indikasi potensi kenaikan suku bunga jangka pendek. Investor menilai strategi bank sentral Jepang sebagai sinyal kehati-hatian pasar terhadap obligasi dan saham domestik.
Di sisi komoditas, harga minyak Brent naik 0,3% menjadi US$66,89 per barel, WTI naik 0,35% menjadi US$62,9. Harga emas juga naik 0,24% mendekati rekor tertinggi pekan lalu.
Alif Bais Khoiriyah
wartafinansial.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Serie A Selesaikan Berbagai Proses Transfer Pada Hari Terakhir Bulan Januari
- Jumat, 06 Februari 2026
Juara Kelas Bulu UFC Ilia Topuria Isyaratkan Segera Kembali Bertarung Di Oktagon
- Jumat, 06 Februari 2026
Berita Lainnya
Mengenal Aplikasi Faspay Adalah: Solusi Pembayaran Digital Era Modern
- Sabtu, 07 Februari 2026
Prudential Syariah Fokus Perlindungan dan Perencanaan Finansial Lintas Mata Uang Keluarga
- Jumat, 06 Februari 2026
AXA Mandiri Capai Pertumbuhan Positif Premi Asuransi Kesehatan Tahun Ini
- Jumat, 06 Februari 2026
Harga Perak Hari Ini Mengalami Koreksi, Momentum Potensial untuk Para Investor
- Jumat, 06 Februari 2026
Syarat KUR Mandiri 2026: Hadir dengan Pinjaman Rp50 Juta untuk UMKM Nasional
- Jumat, 06 Februari 2026











