Rupiah Melemah Rp17.694 Akibat Ketegangan Geopolitik Wilayah Asia Barat

Rupiah Melemah Rp17.694 (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Rabu, 16 September 2026 | 13:22:00 WIB

JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah atas dolar AS saat penutupan bursa Selasa (15/9/2026) mengalami penurunan 25 poin atau 0,14 persen menuju Rp17.694 per dolar AS, dari posisi penutupan kemarin pada angka Rp17.669 per dolar AS.

Seorang pengamat pasar uang menyatakan, merosotnya nilai rupiah terdorong oleh meningginya konflik geopolitik pada area Asia Barat.

“Kelompok Houthi (Ansarullah) di Yaman melancarkan serangan lanjutan terhadap Arab Saudi pada Senin (14/9/2026), sembari memperkuat posisi mereka di titik-titik strategis di sepanjang Laut Merah,” ucap Ibrahim.

Berdasarkan paparan pengamat pasar uang, kedudukan strategis itu dianggap membuat kubu Ansarullah dapat melakukan aksi gempuran balasan pada kapal pelayaran di Selat Bab al-Mandab.

Keadaan ini dapat membahayakan ketersediaan pasokan minyak regional.

Usai kelompok Ansarullah Yaman menghentikan kegiatan operasional pipa minyak lintas wilayah timur-barat kepunyaan Arab Saudi di pekan kemarin, jajaran pakar memprediksi kejadian itu bisa mengganggu pasokan minyak dunia sebesar 4-5 persen.

Dampak buruk bagi nilai rupiah pun hadir atas penundaan diskusi terkait Selat Hormuz di antara Iran dengan Amerika Serikat (AS).

Mengutip informasi dari berita terkait, agenda dialog antara Oman, Iran, serta negara-negara kawasan Teluk untuk membicarakan pembukaan kembali Selat Hormuz turut mengalami penundaan.

Pengamat pasar uang menuturkan Donald Trump selaku Presiden AS pada Senin (14/9/2026) kembali mengutarakan klaim kalau pihak Iran hendak mengupayakan traktat perdamaian.

Akan tetapi, klaim itu mendapat penolakan tegas dari Teheran.

“Presiden AS Donald Trump pada hari Senin (14/9/2026) kembali melontarkan klaim yang sering ia sampaikan bahwa Iran sedang mengupayakan kesepakatan damai. Namun, Teheran membantah klaim Trump tersebut dan menyatakan bahwa tidak akan ada pembicaraan sampai syarat-syarat mereka dipenuhi, terutama tuntutan agar AS mematuhi ketentuan gencatan senjata bulan Juni yang kini sudah tidak berlaku lagi,” ungkap Ibrahim.

Di samping iklim geopolitik, rupiah pun memperoleh tekanan beruntun atas pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat.

Lonjakan pada data Consumer Price Index (CPI) AS di bulan Agustus 2026 membuat pelaku pasar mulai memperhitungkan potensi kenaikan acuan suku bunga.

Para pelaku pasar kini menghitung potensi kenaikan tingkat suku bunga berada di angka 89 persen, melonjak dibandingkan kisaran 59,4 persen pada pekan lalu.

Pada saat yang sama, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) milik Bank Indonesia di hari Selasa juga terkoreksi menuju posisi Rp17.687 per dolar AS dari hari sebelumnya sebesar Rp17.635 per dolar AS.

Reporter: Moch Febrianto