Harga Emas Turun 2 Persen dan Perak Anjlok akibat Kondisi Inflasi di AS

Harga Emas Turun 2 Persen (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Jumat, 11 September 2026 | 19:36:30 WIB

JAKARTA - Nilai jual emas merosot melebihi 1% usai laporan inflasi Amerika Serikat (AS) yang kokoh serta lonjakan harga minyak memicu anggapan jika The Federal Reserve (The Fed) bakal mendongkrak suku bunga pada minggu mendatang.

Berdasarkan laporan, nilai jual emas pada penutupan transaksi Kamis (10/9/2026) berakhir di level US$ 4315,69 per troy ons.

Nilainya terperosok sebesar 1,93%.

Kelesuan ini berlawanan dengan kenaikan 1,06% di hari Rabu.

Nilai jual logam mulia ini nyaris tidak bergeming pada hari ini.

Pada Jumat (11/9/2026) jam 06.24 WIB, nilai jual emas berada di angka US$ 4315,8 atau menguat 0,003%.

Pengamat pasar keuangan senior Capital.com, Kyle Rodda, menyebutkan laporan Producer Price Index (PPI) memperlihatkan adanya lonjakan tekanan inflasi mendasar pada perekonomian AS.

Pemicu utamanya yakni pembengkakan biaya energi.

"Data PPI menunjukkan adanya sedikit peningkatan inflasi yang mendasari ekonomi AS, dan sebagian disebabkan oleh kenaikan biaya energi," ujar Rodda.

Laporan Departemen Tenaga Kerja AS memperlihatkan inflasi harga produsen AS untuk permintaan akhir naik 0,4% pada bulan kemarin, usai sebelumnya meningkat 0,1% pada Juli.

Angka bulan Juli itu juga direvisi meningkat.

Laporan inflasi ini seketika merubah ekspektasi pasar mengenai arah kebijakan moneter The Fed.

Merujuk pada CME FedWatch Tool, para pemain pasar saat ini memprediksi peluang kenaikan suku bunga AS pada minggu mendatang menyentuh 70%, melesat dari 62% sebelum data inflasi dipublikasikan.

Meski demikian, mayoritas ahli ekonomi yang didata dari Sumbernya masih memproyeksikan The Fed mempertahankannya pada pertemuan 15-16 September dan tidak mengubahnya sampai akhir tahun.

Penguatan mata uang dolar AS juga turut memberatkan posisi emas.

Lonjakan dolar menjadikan emas yang ditakar menggunakan greenback terasa kian mahal bagi pemilik mata uang lainnya.

Tekanan turut datang dari melonjaknya imbal hasil US Treasury 10 tahun.

Indeks dolar saat ini telah menyentuh angka 99,05 atau yang paling tinggi dalam rentang tiga hari.

Sementara itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun melonjak ke 4,98% atau tertinggi sejak Oktober 2023.

Logam mulia tidak menyajikan imbal hasil sehingga lonjakan yield US Treasury menjadikan emas kurang menarik.

Menurut Rodda, kenaikan harga minyak memaksa pasar obligasi merestrukturisasi potensi inflasi yang kian tinggi serta bertahan lebih panjang.

Keadaan ini ikut menekan nilai jual emas.

Kenaikan imbal hasil obligasi umumnya menjadi sentimen negatif buat emas lantaran mendongkrak opportunity cost dalam memegang aset tanpa imbal hasil layaknya emas.

Berdasarkan laporan, nilai jual perak pada penutupan transaksi Kamis (10/9/2026) berakhir di level US$ 53,55 per troy ons.

Nilainya terjerembap 5,5%.

Kelesuan ini berlawanan dengan penguatan 2,3% pada hari Rabu.

Nilai jual perak masih melemah pada hari ini.

Pada Jumat (11/9/2026) jam 06.26 WIB, nilai jual perak berada di angka US$ 63,42 atau melorot 0,2%.

Reporter: Moch Febrianto