Ramalan Pergerakan Emas dan Minyak Dunia di Tengah Eskalasi Perang AS

Ramalan Pergerakan Emas dan Minyak Dunia (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Senin, 07 September 2026 | 10:59:41 WIB

JAKARTA - Banderol emas sepekan mendatang berpeluang menguat, walau saat penutupan bursa akhir pekan lalu harganya mengalami penurunan.

Naik turunnya nilai emas masih akan dituntut oleh eskalasi ketegangan geopolitik serta ekspektasi kebijakan bunga bank di Amerika Serikat.

“Harga logam mulia dalam sepekan ke depan kemungkinan ditransaksikan di Rp2.500.000- per gram hingga Rp2.754.000 per gram,” kata Pengamat Pasar Finansial dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi dikutip dari Sumbernya, Minggu, 6 September 2026.

Tercatat sebelumnya, pada hari Sabtu, banderol logam mulia berada di patokan Rp2.634 per gram.

Sementara itu, pasaran emas internasional pada pekan mendatang diperkirakan bergerak pada rentang USD 4.276 - ISD4.668 dolar per troi ons.

Adapun tarif minyak jenis WTI pekan depan diprediksi beredar di patokan USD82,50-USD98,70 per barel.

Pergerakan indeks dolar AS, pekan depan berdasarkan penjelasan Ibrahim, akan berada di rentang 98,30-100,20.

“Artinya indeks dolar AS akan kembali menuju level 100,” ucap Ibrahim.

Menurut analisisnya, pemicu utama yang bakal mempengaruhi pasaran emas global, indeks dolar AS dan tarif minyak yaitu pertikaian AS dan Iran.

Gempuran AS yang mendapat balasan dari Iran menjadikan atmosfer Timur Tengah masih memanas.

“Kondisi itu mendorong kenaikan harga minyak, yang berdampak pada kenaikan harga bensin di Amerika Serikta. Harga gasoline yang semula hanya 3 dolar AS, sekarang rata-rata di 5,85 dolar per gallon,” ujar Ibrahim.

Ketegangan yang kian memuncak juga memicu guncangan di Eropa Timur tempat berkecamuknya perang antara Rusia dan Ukraina.

Sehingga para analis ekonomi memprediksi masih sukar mengharapkan kondisi damai pada tahun 2027.

Melonjaknya tarif minyak mengerek ekspektasi kenaikan tingkat suku bunga the Fed, ditambah lagi data ketersediaan lapangan kerja di AS naik pesat.

Pasokan tenaga kerja non-sektor pertanian (Non-Farm Payrolls atau NFP) menyentuh 162 ribu, melampaui estimasi awal sebesar 53.000-56.000 kesempatan kerja.

Di saat bersamaan, presentase pengangguran di AS masih tertahan stabil pada 4,1 persen.

“Berdasarkan jajak pendapat, hampir 58 persen para ekonom di AS memprediksi the Fed akan menaikkan suku bunga,” ucap Ibrahim.

“Kemungkinan kenaikkan suku bunga dilakukan pada pertemuan the Fed pada 16 September 2026. Kenaikan suku bunga bank sentral AS itu diprakirakan sebesar 25 basis poin,” ucap Ibrahim.

Reporter: Moch Febrianto