Prospek Gerak Harga Emas Seminggu Ke Depan Saat Konflik Global Memanas

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Senin, 07 September 2026
Prospek Gerak Harga Emas Seminggu Ke Depan Saat Konflik Global Memanas
Prospek Gerak Harga Emas Seminggu Ke Depan (FOTO: NET)

JAKARTA - Nilai jual emas pada seminggu ke depan memiliki potensi melonjak, kendati pada akhir perdagangan pekan lalu harganya sempat terkoreksi.

Dinamika nilai komoditas emas masih bakal terpengaruh oleh dinamika pertikaian geopolitik dan harapan tingkat bunga di Amerika Serikat.

“Nilai logam mulia dalam rentang seminggu mendatang berpotensi diperdagangkan pada kisaran Rp2.500.000- per gram sampai Rp2.754.000 per gram,” tutur Pengamat Pasar Finansial dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi dikutip dari Sumbernya, Minggu, 6 September 2026.

Sebelumnya, pada hari Sabtu, nilai logam mulia berada di posisi Rp2.634 per gram.

Di samping itu, nilai emas internasional pada seminggu mendatang diproyeksikan bakal berfluktuasi pada kisaran USD 4.276 - ISD4.668 dolar per troi ons.

Mengenai harga minyak WTI seminggu ke depan diprediksi berada pada batas USD82,50-USD98,70 per barel.

Indikator dolar AS, seminggu mendatang menurut Ibrahim, bakal meluncur pada kisaran 98,30-100,20.

“Maksudnya indikator dolar AS bakal kembali mendekati level 100,” kata Ibrahim.

Sesuai pemaparannya, elemen pokok yang bakal memicu harga emas internasional, indikator dolar AS serta nilai minyak merupakan perselisihan AS dan Iran.

Aksi militer AS yang dibalas oleh Iran menjadikan situasi kawasan Timur Tengah tetap bergejolak.

“Kondisi itu mendorong kenaikan harga minyak, yang berdampak pada kenaikan harga bensin di Amerika Serikta. Harga gasoline yang semula hanya 3 dolar AS, sekarang rata-rata di 5,85 dolar per gallon,” ujar Ibrahim.

Eskalasi perselisihan yang memuncak turut menguncang kawasan Eropa Timur di mana berlangsung pertempuran antara Rusia dan Ukraina.

Lantaran hal tersebut para pakar ekonomi memprediksi masih sukar mengharapkan terciptanya perdamaian pada tahun 2027.

Lonjakan nilai minyak memicu proyeksi kenaikan suku bunga the Fed, terlebih data lapangan kerja di AS melonjak signifikan.

Sektor tenaga kerja non-pertanian (Non-Farm Payrolls atau NFP) menembus angka 162 ribu, melampaui proyeksi sebesar 53.000-56.000 lowongan.

Di sisi lain, tingkat pengangguran di AS masih berada di posisi stabil 4,1 persen.

“Berdasarkan jajak pendapat, hampir 58 persen para ekonom di AS memprediksi the Fed akan menaikkan suku bunga,” ucap Ibrahim.

“Kemungkinan kenaikkan suku bunga dilakukan pada pertemuan the Fed pada 16 September 2026. Kenaikan suku bunga bank sentral AS itu diprakirakan sebesar 25 basis poin,” ucap Ibrahim.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua