Laporan Pekerjaan AS Tekan Harga Emas Dunia Merosot 1,1 Persen Seminggu
JAKARTA - Angka jual emas internasional mengalami koreksi sekitar 1,1 persen selama masa perdagangan satu minggu.
Landasan penurunan tersebut berawal dari rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang melampaui perkiraan, sehingga memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve (The Fed) memiliki peluang untuk menaikkan acuan bunga pada September 2026.
Mengutip dari Sumbernya, angka emas berjangka penyerahan terdekat (gold futures) berakhir melemah 1,4 persen di penutupan bursa Jumat (4/9/2026) pada level 4.429,80 dollar AS per troy ounce.
Atas pencapaian ini, pergerakan emas mengonfirmasi pelemahan 1,1 persen secara mingguan.
Beban terhadap angka emas kian berat setelah laporan ketenagakerjaan AS membuktikan ekspansi lapangan kerja pada Agustus 2026 berada melampaui prediksi awal.
Menurut berita dari Sumbernya, ekspansi lapangan kerja AS naik signifikan pada Agustus, sementara angka pengangguran konsisten di posisi 4,1 persen.
Fenomena tersebut mengindikasikan iklim tenaga kerja AS masih cukup solid sehingga peluang The Fed melambungkan acuan bunga pada September tetap ada.
Keterangan itu pun membuat imbal hasil surat utang AS (Treasury) tenor pendek naik sekaligus memacu estimasi lonjakan acuan bunga The Fed.
"Pasar tenaga kerja yang tangguh akan memberi The Fed ruang untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan September jika data inflasi Agustus yang akan datang tidak menunjukkan perbaikan berkelanjutan," kata Mike Castle dari StoneX dalam catatannya.
"Meski begitu, tekanan politik untuk mempertahankan suku bunga yang lebih rendah masih membayangi," imbuhnya.
Merujuk pada angka kesepakatan acuan bunga tenor pendek, pemodal bursa kini memperhitungkan peluang lonjakan acuan bunga The Fed di sesi 15-16 September 2026 mendatang mencapai sekitar 65 persen, naik dibanding rentang 55 persen sebelum rilis tenaga kerja AS disebarkan.
"Pidato hawkish Ketua Warsh di Jackson Hole dan laporan ketenagakerjaan terbaru ini tampaknya semakin membuka peluang bagi The Fed untuk mempertahankan kecenderungan menaikkan suku bunga, mungkin pada bulan ini," kata Han Tan, chief market analyst di Bybit.
"Data CPI AS pekan depan masih dapat memicu pergerakan yang lebih besar pada logam mulia," lanjutnya.
Selain lonjakan estimasi acuan bunga, keperkasaan dollar AS selepas rilis data tenaga kerja turut mengimpit emas.
Apresiasi dollar mengakibatkan emas terkesan lebih mahal untuk pemegang nilai tukar lain, sehingga menekan antusiasme investor pada logam mulia itu.
Kini perhatian bursa tertuju pada rilis inflasi AS, yakni indeks harga konsumen (CPI) serta indeks harga produsen (PPI), yang bakal diluncurkan minggu depan.
Laporan inflasi tersebut menjadi instrumen penting bagi investor guna mengukur arah panduan moneter The Fed, yang bakal menentukan pergerakan angka emas ke depannya.
Adapun bagi logam mulia lain, angka perak spot terkikis 1,7 persen ke level 65,83 dollar AS per ounce pada Jumat dan berada dalam tren penurunan mingguan.
Serupa dengan itu, angka platinum menyusut 0,8 persen ke level 1.810,96 dollar AS per ounce, serta palladium menyusut 2,5 persen ke level 1.385,50 dollar AS per ounce.