Sektor Saham dan Kripto Berpotensi Bangkit Investor Mulai Belanja
JAKARTA - PT Samuel Sekuritas Indonesia memantau prospek kebangkitan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kian terbuka lebar, seiring stabilnya kurs rupiah, meredanya ekspektasi penyesuaian suku bunga, melimpahnya likuiditas domestik, hingga kembali masuknya modal asing.
Lantaran kondisi ini, pemodal disarankan mengikis porsi dana tunai dan melakukan penyeimbangan ulang portofolio pada instrumen berisiko.
Pernyataan itu disampaikan dalam sesi Media Connect yang diselenggarakan Samuel Sekuritas Indonesia di Jakarta, Jumat (04/09/2026).
Agenda perjumpaan media tersebut membedah peta pasar modal, situasi makroekonomi, hingga tren aset kripto.
Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama Tae Yong Shim menerangkan pertanyaan utama investor saat ini adalah kapan IHSG dapat kembali pulih setelah mengalami tekanan sepanjang tahun berjalan.
Lewat pemaparan bertajuk September Market Navigation: Victory is Just Around the Corner, Samuel Tumbuh Bersama mencatat bahwa IHSG secara historis beberapa kali membentuk pemulihan menyerupai huruf V atau V-shaped recovery setelah mengalami penurunan tajam dalam dua dekade terakhir.
“Pertanyaan utama investor saat ini adalah kapan IHSG bisa kembali rebound. Jika melihat sejarah, IHSG beberapa kali menunjukkan pemulihan berbentuk V setelah mengalami penurunan tajam. Namun, pemulihan tersebut membutuhkan prasyarat yang jelas, terutama dari arah rupiah dan suku bunga,” ujar Shim.
Menurut pandangannya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan tingkat suku bunga merupakan dua faktor utama yang menentukan arah pemulihan pasar saham.
Pergerakan rupiah dan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun tercatat memiliki korelasi negatif yang kuat terhadap IHSG.
Maksudnya, pelemahan rupiah dan kenaikan imbal hasil obligasi cenderung memberikan tekanan terhadap pasar saham.
Sebaliknya, rupiah yang lebih stabil dan penurunan imbal hasil dapat memperbaiki sentimen sekaligus membuka ruang bagi kenaikan valuasi saham.
Samuel Tumbuh Bersama menaksir tekanan atas mata uang garuda telah menemui puncaknya di paruh pertama 2026.
Berdasarkan konsensus Bloomberg yang dikutip dalam materi tersebut, rupiah diproyeksikan menguat hingga 2028.
Nilai tukar rupiah sebelumnya sempat menyentuh Rp18.187 per dolar AS pada 8 Juni 2026, kemudian bergerak lebih stabil.
“Jika pelemahan rupiah sudah melewati titik terburuknya, maka alasan untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi juga menjadi semakin lemah. Ini penting bagi pasar karena rupiah dan suku bunga merupakan dua prasyarat utama untuk membuka jalan pemulihan IHSG,” kata Shim.
Pasar, lanjut dia, mulai memperkirakan Bank Indonesia tidak akan kembali menaikkan suku bunga hingga kuartal IV-2026, bahkan sepanjang 2027.
Meski demikian, proyeksi tersebut tetap sangat bergantung pada pergerakan rupiah.
Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun yang berada di sekitar 7% juga dinilai masih setara dengan negara-negara berperingkat kredit BBB.
Namun, apabila memperhitungkan tingkat inflasi negara-negara pembanding, imbal hasil tersebut secara teoritis berpeluang turun menuju kisaran 6%.
Domestik dan Asing Menopang Pasar
Di samping penguatan rupiah dan suku bunga, ketersediaan likuiditas dalam negeri dianggap penyokong krusial bagi kebangkitan IHSG.
Uang beredar dalam arti luas atau M2 Indonesia tercatat mencapai Rp10.371 triliun, tumbuh 8% secara tahunan.
Nominal ini membuktikan masih banyaknya dana simpanan yang berpeluang membanjiri pasar modal sewaktu optimisme investor pulih.
Jumlah investor pasar modal Indonesia juga telah melampaui 30 juta.
Pada saat bersamaan, manajer investasi institusional dan Danantara dinilai memiliki kapasitas untuk masuk ke pasar ketika sinyal bahwa IHSG telah mencapai titik terendah atau bottoming semakin jelas.
“Kami melihat investor masih memiliki likuiditas yang cukup besar. Ketika sentimen mulai berbalik dan dana mulai bergerak kembali ke pasar saham, pergerakan harga dapat berlangsung cukup cepat,” ujar Shim.
Aliran dana asing pun mulai memperlihatkan perbaikan.
Sejak Juni 2026, investor asing kembali mencatatkan pembelian pada obligasi dan saham Indonesia.
Pelemahan dolar AS dinilai dapat mendorong rotasi dana global menuju aset-aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
Lantaran Indonesia masih terhitung sebagai pasar berkinerja terbelakang secara year-to-date, IHSG menjadi salah satu indeks dengan performa terbaik selama semester kedua 2026 berjalan.
Capaian tersebut ditopang melesunya dolar AS dan memudarnya ketakutan pasar terhadap potensi lonjakan suku bunga Bank Indonesia.
Mengenai aspek valuasi, bursa saham nasional juga mulai menyuguhkan potensi yang kian memikat.
IHSG diperdagangkan pada trailing price-to-earnings ratio sekitar 14,2 kali, mendekati level terendah dalam 10 tahun sebesar 12,5 kali.
Valuasi itu juga jauh di bawah rata-rata 10 tahun yang mencapai sekitar 20,6 kali.
Atas valuasi yang makin murah dan daya tahan laba emiten yang terjaga, Samuel Tumbuh Bersama menilai potensi kenaikan IHSG kini mulai lebih besar dibandingkan risiko penurunannya.
“Valuasi pasar saat ini sudah berada di level yang lebih menarik, sementara fundamental korporasi Indonesia masih solid. Dengan rupiah yang lebih stabil, ekspektasi suku bunga yang mereda, likuiditas domestik yang besar, dan asing mulai kembali masuk, kami melihat peluang pemulihan pasar semakin terbuka,” tutur Shim.
Mengenai taktik alokasi aset, Samuel Tumbuh Bersama menyarankan investor mulai mengurangi porsi kas dan kembali meningkatkan eksposur terhadap aset berisiko.
Komposisi yang direkomendasikan terdiri atas saham sebesar 40% atau marketweight, instrumen pendapatan tetap 40%, kripto 10%, emas 5%, dan kas 5%.
Mengenai portofolio saham, sasaran difokuskan pada saham-saham berkapitalisasi besar di luar konstituen MSCI atau non-MSCI blue chips.
Sementara itu, pada instrumen pendapatan tetap, Samuel Tumbuh Bersama masih memilih obligasi bertenor pendek.
Reli Kripto Memasuki Fase Repricing
Di forum serupa, Samuel Kripto Indonesia mengamati tren kenaikan pasar kripto pada Agustus 2026 bukan sekadar tren kenaikan harga secara linear.
Langkah tersebut dianggap sebagai fase repricing yang dipicu tekanan anggaran AS, pembukaan akses investasi melalui exchange-traded fund atau ETF, serta hadirnya token berlandaskan fungsi ekonomi konkret.
Dalam materi bertajuk Crypto Market Outlook: The Repricing, defisit fiskal AS pada 2026 diproyeksikan mencapai US$1,8 triliun. Pada saat bersamaan, arus masuk bersih ke ETF Bitcoin selama Agustus 2026 mencapai sekitar US$3,5 miliar.
Bitcoin bergerak dari sekitar US$62.800 menjadi US$78.600 sepanjang Agustus 2026, menghasilkan imbal hasil close-to-close sebesar 25,1%.
Samuel Kripto Indonesia mengingatkan bahwa urutan peristiwa tersebut tidak serta-merta menjadi bukti hubungan sebab akibat.
Namun, arus dana ETF memberikan konfirmasi bahwa perubahan narasi makro telah diterjemahkan menjadi permintaan Bitcoin di pasar spot yang dapat diukur.
“Reli Agustus menunjukkan bahwa pasar kripto tidak lagi hanya bergerak karena narasi harga. ETF membuat tesis makro berubah menjadi permintaan spot yang bisa diukur, sementara investor mulai membedakan aset berdasarkan fungsi dan kualitas ekonominya,” ujar perwakilan dari Sumbernya.
Data olahan internal berdasarkan SoSoValue, CryptoQuant, dan data pasar Bitcoin (17–25 Agustus 2026)
Dunia kripto juga tidak lagi dapat dipandang sebagai satu kelompok aset yang seragam.
Bitcoin semakin diposisikan sebagai aset dengan narasi kelangkaan moneter atau monetary scarcity.
Ethereum atau ETH dan Solana atau SOL lebih merepresentasikan eksposur terhadap pertumbuhan jaringan, sedangkan HYPE mencerminkan keluaran ekonomi dari aktivitas platform.
Sementara itu, stablecoin dan real-world assets atau RWA mulai berkembang sebagai infrastruktur layanan keuangan digital.
Maka dari itu, investor perlu membedakan aset kripto yang memiliki utilitas, sumber pendapatan, dan mekanisme penangkapan nilai dengan token yang pergerakannya semata-mata didorong sentimen pasar.
Aset digital yang menuai perhatian yaitu HYPE sebab dianggap memuat ikatan kian nyata antara pemanfaatan jaringan dan nilai tokennya.
Hyperliquid mengalokasikan sebagian besar pendapatan bersih dari biaya perdagangan untuk membeli kembali token HYPE.
Di penghujung Agustus sampai awal September 2026, HYPE mencetak rekor tertinggi di level US$86,71. Kapitalisasi pasar beredarnya mencapai sekitar US$18,8 miliar, sedangkan valuasi terdilusi penuh atau fully diluted valuation berada di kisaran US$80,6 miliar. Total pembelian kembali token sejak peluncuran tercatat sekitar US$1,3 miliar.
Samuel Kripto Indonesia menegaskan bahwa pembelian kembali token tidak memiliki kedudukan hukum yang sama dengan dividen ataupun pembelian kembali saham.
Karena itu, investor tetap perlu mencermati struktur dan risiko setiap aset digital.
Menjelang September 2026, kontinuitas penguatan kripto akan diuji oleh sejumlah agenda ekonomi utama di AS.
Pertimbangan yang mesti dipantau meliputi data ketenagakerjaan, dimulainya operasi pembelian kembali surat utang pemerintah AS pada 9 September, rilis indeks harga produsen dan konsumen, serta rapat Komite Pasar Terbuka Federal atau FOMC pada 15–16 September 2026.
Dinamika data ekonomi tersebut akan memengaruhi imbal hasil obligasi dan pergerakan dolar AS.
Imbasnya, fluktuasi dua variabel itu berpeluang memicu arah arus dana ETF, nilai Bitcoin, serta deretan token bersensitivitas atau beta lebih tinggi.