Desa Adat Sade Lombok Terbakar, Benda Pusaka dan Naskah Kuno Musnah!

Desa Adat Sade Lombok Terbakar (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Senin, 24 Agustus 2026 | 13:07:23 WIB

JAKARTA - Musibah kebakaran hebat melanda kawasan permukiman Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Sabtu (22/8/26) malam.

Kobaran si jago merah menghancurkan puluhan tempat tinggal tradisional hingga bermacam benda keramat dan peninggalan kebudayaan warga Sasak.

Melihat data yang dihimpun dari Sumbernya, insiden kebakaran tersebut diperkirakan bermula sekitar pukul 22.05 WITA.

Munculnya api disinyalir kuat dipicu oleh adanya gangguan korsleting listrik.

Kondisi susunan kabel yang berada saling berdempetan diperkirakan menjadi akar penyulut kebakaran.

Kobaran api selanjutnya bergerak cepat menjalar lantaran jarak antar bangunan di area tempat tinggal warga yang sangat berhimpitan.

Bahan atap bangunan berupa jerami serta alang-alang yang gampang dilahap api turut membuat pergerakan api sukar dikendalikan hingga semakin meluas ke area Desa Adat Sade.

Dampaknya, timbul kehancuran berskala besar pada tatanan kebudayaan fisik maupun non-fisik di Desa Adat Sade.

Dari Sumbernya mencatat terdapat 167 unit aset bangunan warga yang mengalami dampak merusak.

Kurang lebih 75 unit tempat tinggal adat beserta 69 toko kerajinan habis dilahap api.

Tidak hanya itu, delapan bangunan Lumbung Alang ikut hangus terbakar.

Peristiwa ini pun merusak 12 unit rumah panggung tradisional yang menjadi ciri khas Suku Sasak.

Kendati demikian, dampak kehancuran tidak cuma menimpa area bangunan saja.

Bermacam benda pusaka dan warisan kebudayaan warga Sasak yang memegang nilai spiritual serta sejarah yang tinggi ikut luluhpasak.

"Di antaranya adalah berbagai jenis keris, tombak, klewang (setiap keluarga rata-rata kehilangan 3-4 bilah keris yang tidak sempat diselamatkan), 10 set peralatan seni Peresean, 8 unit Gendang Beleq (4 unit berhasil diselamatkan), serta kemusnahan Gong Tua ritual dan naskah-naskah kuno berbahasa Sanskerta," tulis dari Sumbernya.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan pihak pemerintah saat ini mengutamakan langkah penanganan serta pendataan terhadap artefak budaya yang masih tersisa di lokasi bencana.

"Prioritas utama dalam fase tanggap darurat ini adalah mengamankan dan mengidentifikasi seluruh objek material yang tersisa, baik penyelamatan fisik maupun non-fisik. Penyelamatan fisik dengan menyisir sisa-sisa reruntuhan demi menyelamatkan sisa kain tenun (wastra), benda pusaka (keris/tombak), dan fragmen manuskrip kuno yang hangus dan penyelamatan non-fisik, yaitu mendokumentasikan ingatan, cerita rakyat, sejarah lokal, dan pengetahuan tradisional langsung dari para tetua adat agar memori kolektif masyarakat Sade," ungkap Fadli Zon.

Tindakan evakuasi dan penyelamatan tersebut ditempuh sebab peninggalan budaya Desa Adat Sade tidak hanya sebatas struktur bangunan fisik, melainkan juga mencakup benda berharga dan pengetahuan tradisi yang diwariskan warga Sasak secara bergenerasi.

Kawasan Desa Adat Sade telah memperoleh status resmi sebagai desa wisata semenjak tahun 1982.

Selanjutnya pada tahun 1993, desa ini memperoleh pengakuan resmi dari kementerian terkait sebagai bagian penting dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional.

Ke depannya, pihak pemerintah pusat beserta pemerintah daerah bakal menjalankan berbagai program pemulihan pascabencana.

Rangkaian langkah tersebut mencakup evakuasi objek kebudayaan, pencatatan ulang, proses digitalisasi naskah kuno, hingga penguatan sistem mitigasi bencana.

Reporter: Moch Febrianto