MOSKWA - Rusia menghadapi tekanan ekonomi yang semakin kompleks. Di tengah krisis pasokan bahan bakar minyak (BBM) akibat gangguan terhadap infrastruktur energi, Bank Sentral Rusia terus mengurangi kepemilikan emas hingga mencapai level terendah dalam lebih dari enam tahun.
Dikutip dari Sumbernya, Minggu (23/8/2026), data Bank Sentral Rusia menunjukkan kepemilikan emas negara tersebut berkurang 1,6 juta ons sejak awal 2026 menjadi 73,2 juta ons per 1 Agustus 2026.
Jumlah tersebut merupakan level kepemilikan emas terendah Rusia sejak Januari 2020.
Nilai cadangan emas bank sentral juga turun US$ 33,7 miliar selama tujuh bulan berturut-turut.
Penurunan kepemilikan emas berlangsung ketika Rusia menghadapi tekanan terhadap pendapatan sektor energi dan kebutuhan pembiayaan defisit anggaran.
Pada tahun lalu, Kementerian Keuangan Rusia menjual emas dan valuta asing dari Dana Kesejahteraan Nasional (National Wellbeing Fund) untuk membantu menutup defisit akibat berkurangnya pendapatan energi.
Melalui mekanisme yang disebut mirror mechanism, Bank Sentral Rusia melakukan operasi penyeimbang di pasar domestik untuk mengurangi dampak transaksi terhadap nilai tukar rubel dan sistem keuangan.
Sebelumnya, Bank Sentral Rusia merupakan salah satu pembeli emas terbesar di dunia.
Bank sentral tersebut menyerap sebagian besar produksi emas domestik sebelum menghentikan pembelian pada awal 2020.
Pada 2022, Bank Sentral Rusia sempat kembali berkomitmen membeli emas.
Kebijakan itu membantu menyerap sebagian pasokan emas yang sulit diekspor setelah Rusia dikenai sanksi terkait invasi ke Ukraina pada Februari 2022.
Namun, pembelian emas dalam skala besar tidak kembali berlanjut.
Tekanan terhadap sektor energi Rusia juga terlihat dari krisis pasokan BBM yang semakin meluas.
Serangkaian serangan pesawat nirawak Ukraina terhadap infrastruktur minyak Rusia mengganggu kapasitas pengolahan dan distribusi BBM domestik.
Antrean kendaraan mulai terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di Moskwa.
Data aplikasi pemantauan Gdebenz menunjukkan ketersediaan bensin secara nasional hanya mencapai 28% dari total stasiun pengisian bahan bakar pada Rabu (20/8/2026), turun dari 41% sepekan sebelumnya.
Pembatasan pembelian BBM juga diberlakukan di hampir seluruh wilayah Rusia.
Pembatasan tersebut mencakup batas volume pembelian per konsumen, sistem penjatahan berbasis kode QR, hingga pembatasan berdasarkan nomor pelat kendaraan.
Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar milik Gazprom Neft di Moskwa membatasi pembelian maksimal 40 liter untuk setiap pengisian.
Sementara itu, Tatneft menetapkan batas 50 liter untuk bensin dan 60 liter untuk solar.
Layanan Yandex Fuel pada Rabu menunjukkan bensin AI-92 hanya tersedia di sekitar satu dari 10 stasiun pengisian bahan bakar di Moskwa.
Krisis pasokan tersebut terjadi meskipun Rusia merupakan salah satu produsen dan eksportir minyak terbesar dunia.
Serangan terhadap infrastruktur energi membuat kapasitas pengolahan dalam negeri terganggu dan memaksa pemerintah mengambil sejumlah langkah untuk menjaga pasokan domestik.
Hingga awal Juli 2026, seluruh kilang minyak utama Rusia dilaporkan telah menjadi sasaran serangan setidaknya satu kali.
Dalam dua pekan pertama Agustus 2026, hampir 12 fasilitas energi kembali diserang.
Fasilitas yang terdampak antara lain kilang Yaroslavnefteorgsintez di Yaroslavl, dua kilang di Bashkortostan, serta infrastruktur ekspor di Pelabuhan Ust-Luga.
Dikutip dari Sumbernya, fasilitas kilang yang mengalami kerusakan kini mencakup sekitar 54% dari total kapasitas pengolahan minyak Rusia.
Akibatnya, produksi bensin harian Rusia turun menjadi sekitar 75.000-80.000 ton pada Juli 2026.
Angka tersebut jauh di bawah permintaan selama musim panas yang mencapai 115.000-120.000 ton per hari.
Dengan kondisi tersebut, Rusia mengalami kekurangan pasokan sekitar 35% dari kebutuhan harian.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui adanya kelangkaan BBM pada akhir Juli 2026, meski menyebut dampaknya tidak kritis.
“Tidak ada konsekuensi kritis dari serangan tersebut, tidak pernah ada dan tidak mungkin ada. Namun, serangan tersebut tentu saja menimbulkan kerugian bagi kami. Itu jelas, kami memahami, melihat, dan mengetahuinya,” ujar Putin.
Untuk mengatasi kekurangan pasokan, Rusia meningkatkan impor BBM melalui jalur kereta api dari Belarus dan Kazakhstan serta, untuk pertama kalinya, dari Maroko.
Pengiriman BBM dari Belarus melonjak 25 kali lipat secara tahunan selama Januari-Juli 2026.
Sekitar 30.000 ton bensin AI-92 yang dipasok Lukoil juga dimuat di Tangier, Maroko, untuk dikirim ke Murmansk.
Namun, pasokan impor tersebut belum sepenuhnya dapat mengatasi kelangkaan.
Sejumlah besar bensin asal India dan Maroko dilaporkan tertahan di Murmansk karena pemasok meminta harga 110.000-130.000 rubel per ton, sementara regulator pemerintah menetapkan harga di bawah 78.000 rubel per ton.
Kekurangan pasokan juga berpotensi kembali terjadi pada September ketika kilang Novopolotsk di Belarus menjalani pemeliharaan terjadwal.
Belarus memasok 212.000 ton bensin dan 162.000 ton solar ke Rusia pada Juli 2026.
Keduanya merupakan rekor pasokan bulanan.
Belarus kini menjadi sumber BBM eksternal terpenting bagi Rusia dengan mengolah minyak mentah Rusia melalui skema tolling.
Dua kilang Belarus, Novopolotsk dan Mozyr, memiliki kapasitas ekspor gabungan sekitar 2 juta ton per tahun.
Kapasitas tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan kebutuhan BBM Rusia.
Kelangkaan BBM juga memicu keresahan masyarakat.
Di Volgograd, lima warga ditahan setelah merekam video yang ditujukan kepada Kepala Komite Investigasi Rusia Alexander Bastrykin.
Mereka mengeluhkan perlakuan berbeda karena pejabat disebut dapat mengisi BBM tanpa pembatasan, sementara masyarakat menghadapi sistem penjatahan.
Salah satu warga dijatuhi hukuman penahanan administratif selama lima hari, sementara warga lainnya didenda.
Di Perm, seorang warga yang melakukan aksi protes seorang diri terkait akses BBM juga dikenai denda.
Di tengah situasi tersebut, pengurangan kepemilikan emas oleh Bank Sentral Rusia menjadi bagian dari dinamika pengelolaan cadangan dan keuangan negara ketika pendapatan energi menghadapi tekanan dan pemerintah harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menjaga stabilitas pasokan domestik.