Harga Emas Dunia Melonjak 5 Persen Sepekan Tembus 4.623 Dollar AS Terbaru

Harga Emas Dunia Melonjak (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Senin, 24 Agustus 2026 | 13:07:05 WIB

JAKARTA - Nilai jual logam mulia global meningkat melebihi 5 persen pada pekan ini, mencatat apresiasi mingguan untuk ketiga kalinya secara beruntun.

Dorongan peningkatan harga emas dipicu oleh melesunya mata uang dolar Amerika Serikat (AS) dan sinyal teknikal bullish pasca nilai emas melewati beberapa titik teknikal krusial.

Berdasarkan laporan Reuters, nilai emas pasar spot terangkat 2,4 persen menuju angka 4.623,94 dollar AS per troy ounce pada penutupan sesi transaksi Jumat (21/8/2026) waktu setempat.

Banderol emas sempat menyentuh level 4.631,99 dollar AS per troy ounce, yang menjadi pencapaian tertinggi sejak 15 Mei 2026.

Secara akumulasi mingguan, nilai emas spot tercatat melonjak melebihi 5 persen.

Pertumbuhan tersebut sekaligus mengarahkan logam mulia menuju penguatan mingguan untuk ketiga kalinya secara beruntun.

Pada saat yang sama, nilai emas berjangka AS terangkat 2,4 persen dan berakhir pada posisi 4.680,60 dollar AS per troy ounce.

Posisi harga emas juga telah berada di atas beberapa rata-rata pergerakan utama.

Emas berhasil menembus moving average 200 hari yang berada di kisaran 4.513 dollar AS per troy ounce.

"Faktor besarnya tentu saja adalah teknikal. Langkah berikutnya adalah 4.700 dollar AS jika momentum ini berlanjut, tetapi menurut saya penguatan ini juga sangat didorong oleh penurunan dollar AS," ujar Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities Bart Melek.

Mata uang dolar AS berada di posisi mendekati level paling rendah sejak pertengahan Mei 2026.

Para pemodal meragukan apakah langkah Departemen Keuangan AS untuk menenangkan pasar obligasi justru dapat mengikis tingkat kepercayaan terhadap mata uang tersebut.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan pada Kamis (20/8/2026) bahwa pihak pemerintah dapat memperbesar cakupan pembelian kembali obligasi pemerintah AS (Treasury buyback).

Pernyataan tersebut diutarakan sehari setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan agenda penggandaan pembelian kembali surat utang dengan jangka waktu lebih panjang.

Pelemahan dolar AS berpotensi menjadikan emas lebih memikat di mata para investor, sebab harga emas berubah menjadi lebih terjangkau bagi pemilik mata uang lainnya.

Di samping keterpurukan dolar AS, minat atas opsi beli emas (gold call option) turut melambung tinggi seiring kembali meningkatnya kebutuhan para pemodal pada instrumen lindung nilai (safe haven) dari ancaman kebijakan makroekonomi dunia.

Pihak dari Sumbernya menyatakan peningkatan permintaan tersebut dapat memperbesar pergerakan harga emas, baik ke arah kenaikan maupun penurunan.

Pihak dari Sumbernya juga menandai keyakinan pasar terhadap kenaikan suku bunga AS mengendur usai Federal Reserve (The Fed) mempertahankan tingkat suku bunga pada pertemuan Juli dan data perekonomian AS memperlihatkan penurunan.

Situasi tersebut kembali mendongkrak minat spekulasi atas emas di bursa COMEX serta mempertinggi permintaan terhadap produk exchange-traded fund (ETF) emas yang peka terhadap fluktuasi suku bunga.

Pada pasar fisik, lonjakan nilai jual emas dalam kurun waktu terakhir mulai menekan daya beli eceran di India.

Di sisi lain, daya serap emas di China, selaku salah satu pengguna emas terbesar di dunia, masih tergolong stabil.

Otoritas bank sentral Polandia turut memperlambat aktivitas akumulasi emas menjadi 7,8 ton pada Juli 2026, merujuk pada data yang dipublikasikan pada Jumat (21/8/2026).

Kendati telah menguat lebih dari 5 persen dalam kurun waktu seminggu, nilai emas masih terpaut sekitar 1.000 dollar AS di bawah rekor tertinggi sepanjang masa.

Banderol emas sempat mencetak rekor 5.594,82 dollar AS per troy ounce pada 29 Januari 2026.

Reporter: Moch Febrianto