WARTAFINANSIAL.COM — Program ambisius ini masuk dalam Program Kerja Prioritas Nasional Klaster Kemandirian Energi dan Air. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan instruksi Presiden untuk mempercepat pembangunan PLTS tersebut demi mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
"Presiden telah menginstruksikan agar pembangunan 100 GWp PLTS dipercepat dan diselesaikan pada 2029, dengan efisiensi biaya listrik diperkirakan mencapai Rp73,9 triliun per tahun," ujar Prasetyo dalam keterangan resminya.
Kapasitas Terpasang Masih Jauh dari Potensi
Indonesia sebenarnya memiliki potensi energi surya yang luar biasa, mencapai 3.294 GWp. Namun, kapasitas PLTS yang baru terpasang hingga April 2026 masih sangat kecil, baru sekitar 1,5 GWp.
Artinya, dari total potensi yang ada, pemanfaatan energi surya di tanah air baru sekitar 0,04 persen. Proyek 100 GWp ini menjadi lompatan besar untuk mengejar ketertinggalan tersebut.
Target 2026: 30 GWp dan Pensiunkan PLTD
Tahun ini pemerintah menargetkan pembangunan 30 GWp PLTS. Sebagai kompensasi, sebanyak 13 GW pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) akan dihentikan operasinya.
Langkah pensiun dini PLTD ini dinilai strategis. Selain mengurangi emisi karbon, penggantian dengan PLTS juga menekan biaya operasional pembangkit yang selama ini bergantung pada harga BBM yang fluktuatif.
Lokasi Groundbreaking di Gerbang Bali
Groundbreaking dilakukan di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa Bali, Gilimanuk, Bali. Pemilihan lokasi ini simbolis karena Gilimanuk merupakan pintu masuk utama dari Jawa menuju Bali.
Dengan target penyelesaian pada 2029, pemerintah optimistis proyek ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga mendorong investasi hijau dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor energi terbarukan. Keberhasilan program ini akan menjadi tolok ukur komitmen Indonesia dalam transisi energi global.