ETF Emas Mengangkasa di BEI, Mengapa Manufaktur Emas Ikut Diuntungkan?

ETF Emas Mengangkasa di BEI (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Jumat, 21 Agustus 2026 | 17:50:45 WIB

JAKARTA - World Gold Council (WGC) menyambut baik peluncuran instrumen ETF (Exchange Traded Fund) berbasis emas oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin, 10 Agustus 2026 lalu.

Marissa Salim, Senior Research Lead for APAC WGC, menilai ETF emas ini diluncurkan di waktu yang tepat, meningat permintaan terhadap kelas aset emas, beserta produk investasi terkait, tengah meningkat.

“Para investor kini memiliki lebih banyak pilihan dan lebih mudah untuk mengalokasikan investasinya ke emas,” ujarnya dari Sumbernya dalam wawancara tertulis, Senin (17/8).

Meski begitu, ia mengaku bahwa WGC belum dapat memantau sentimen pasar terhadap instrumen investasi ini, karena ETF berbasis emas di Indonesia baru berusia kurang dari dua minggu.

Namun, ia menegaskan WGC akan terus memantau minat pasar Indonesia ke depannya.

Pasalnya, data WGC menunjukkan bahwa pembelian ETF emas di kawasan Asia terus meningkat sejak paruh kedua tahun 2024—bahkan mampu melampaui aktivitas beli di Eropa dan Amerika Utara pada akhir semester I 2026.

“Jika investor Indonesia telah menantikan kesempatan untuk mengalokasikan dananya ke emas melalui ETF, penyerapan di tahun-tahun mendatang patut diperhatikan,” katanya.

Marissa juga menambahkan bahwa peluncuran instrumen investasi berbasis emas ini berpotensi membawa dampak positif kepada produsen emas batangan (gold bullion) di Indonesia.

Pasalnya, ETF berbasis emas yang diluncurkan BEI ini memiliki underlying asset berupa Electronic Gold Receipt (EGR), yang merepresentasikan emas fisik murni.

“Permintaan investor ETF yang lebih tinggi akan diikuti permintaan terhadap bullion fisik yang menjadi ‘backing’ ETF tersebut, seiring minat yang tumbuh di tahun-tahun mendatang,” jelasnya.

Proyeksi ini juga turut dilemparkan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), salah satu produsen emas batangan yang menjadi supplier bagi ekosistem bullion nasional, termasuk PT Pegadaian (Persero) dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS).

Thendra Crisnanda, Direktur Investor Relation HRTA, menyatakan bahwa secara struktural, perkembangan ETF serta emas batangan sebagai underlying asset ini berpotensi menggenjot permintaan emas yang bersifat institusional.

“Dalam jangka panjang, apabila AUM (aset kelolaan) berkembang signifikan, demand dari ETF dapat menjadi complementary growth driver di samping retail investment dan bullion banking,” jelas Thendra dari Sumbernya dalam wawancara terpisah, Kamis (20/8).

Mengutip laman resmi platform investasi Pluang, Pegadaian juga dicatut sebagai bullion bank underlying provider bagi emas fisik yang menjadi basis aset ETF emas.

Sementara itu, hingga akhir semester I 2026, HRTA berhasil menggenjot kinerja pendapatan dan laba bersihnya hingga 100% lebih secara tahunan, didorong kontribusi tiga pelanggan utamanya, yaitu PT Pegadaian Galeri Dua Empat, PT Pegadaian (Persero), dan BRIS.

Thendra mengklaim bahwa HRTA memang memiliki posisi yang unggul di industri emas batangan, karena menguasai proses hilirisasi mid-to-end, mulai dari fasilitas pemurnian, manufaktur, jaringan suplai emas domestik, hingga distribusi.

“Jika kebutuhan physical backing ETF berkembang, HRTA berpotensi menjadi salah satu supplier dalam ekosistem tersebut—tentunya mengikuti persyaratan dari pihak regulator dan perjanjian komersial yang ada,” tutup Thendra.

Reporter: Moch Febrianto