Tekanan Rupiah Mulai Mereda Akibat Penurunan Imbal Hasil Obligasi AS

Tekanan Rupiah Mulai Mereda (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Jumat, 21 Agustus 2026 | 17:50:32 WIB

JAKARTA - Analis dari Sumbernya, Sim Moh Siong dan Christopher Wong, mencatat bahwa nilai tukar Rupiah Indonesia (IDR) harusnya mendapatkan sedikit angin segar dari pelemahan Dolar serta penurunan imbal hasil obligasi Pemerintah AS jangka panjang, seiring langkah BI menjaga suku bunga utamanya tetap di level 5,75% dan memfokuskan pada kestabilan mata uang.

BI semakin memprioritaskan penggunaan instrumen non-suku bunga seperti insentif lindung nilai Valas dan instrumen SRBI.

Pergerakan USD/IDR mengindikasikan kecenderungan bearish, dengan titik support di level 17760 dan 16630 serta resistance di angka 17940.

BI Tahan Suku Bunga, Maksimalkan Instrumen Non-Suku Bunga

"IDR kemungkinan akan mendapat sedikit kelegaan dari USD yang lebih lemah dan pullback pada imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor panjang. Kemarin, BI mempertahankan suku bunga kebijakannya tidak berubah di 5,75% dan tetap fokus pada stabilitas IDR, sambil menegaskan kembali langkah-langkah untuk menarik arus masuk asing dan memperdalam pasar Valas."

"Keputusan ini juga memperkuat kesinambungan kebijakan di bawah Pejabat Gubernur Sementara Destry Damayanti. BI tampaknya semakin cenderung mengandalkan instrumen-instrumen non-suku bunga, termasuk insentif lindung nilai Valas dan SRBI, alih-alih mendorong suku bunga domestik naik secara material."

"Dalam jangka pendek, pullback USD yang berkelanjutan akan meredakan sebagian tekanan eksternal pada IDR, meskipun harga minyak yang tinggi tetap menjadi kendala bagi Indonesia."

"USD/IDR terakhir ditutup di level 17830. Momentum bearish pada grafik harian masih utuh sementara RSI untuk saat ini datar. Perdagangan dua arah kemungkinan terjadi."

“Support di 17760, 16630 (MA 100 Hari, Fibonacci retracement 38,2% dari terendah ke tertinggi 2026). Resistance di 17940 (MA 21 dan 50 Hari).”

Reporter: Moch Febrianto