Suku Bunga BI Bertahan Saat Dolar Anjlok Buat IHSG Dan Rupiah Berpeluang
JAKARTA - Pasar finansial tanah air ditutup bervariasi pada transaksi Rabu kemarin. Pasar saham tertekan sementara mata uang Rupiah memamerkan keunggulannya. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan pada transaksi Rabu (19/8/2026).
Penyusutan terjadi usai emiten PT Bayan Resources Tbk (BYAN) merosot cukup dalam setelah memberikan penjelasan terkait kabar rencana aksi korporasi.
Berdasarkan pencatatan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada penutupan transaksi Rabu merosot 55,70 poin atau 0,86% ke posisi 6.394,12.
IHSG mengawali di posisi 6.408,18 dan sempat menyentuh posisi tertinggi 6.490 serta terendah 6.373.
Keseluruhan transaksi kemarin menembus Rp 14,27 triliun, yang melibatkan 36,01 miliar lembar saham yang berpindah tangan 2,20 juta kali.
Sebanyak 238 saham merambat naik, 363 terkoreksi dan 188 tidak berubah.
Pemodal asing pada akhirnya mencatatkan net buy sebesar Rp 933,53 miliar.
Salah satu pendorong pelemahan utama indeks bersumber dari saham BYAN yang terperosok 9,41% ke posisi Rp 15.650.
Padahal, pada perdagangan Selasa (18/8/2026), saham produsen batu bara tersebut ditutup melonjak 19,97% ke Rp17.275 dan menjadi salah satu penopang utama lonjakan IHSG.
Beralih ke pasar mata uang, nilai tukar Garuda ditutup menguat di hadapan dolar Amerika Serikat (AS), sesudah Bank Indonesia (BI) menetapkan untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026.
Merujuk Refinitiv, pada transaksi Rabu (19/8/2026), rupiah ditutup terangkat 0,14% ke posisi Rp17.825/US$.
Kenaikan ini menjadikan nilai tukar Garuda sanggup bertahan di zona hijau sampai akhir sesi transaksi.
Penetapan BI menjadi salah satu sentimen yang diamati pelaku pasar di sepanjang sesi transaksi kemarin.
RDG Bank Indonesia pada 18-19 Agustus 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%.
"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18-19 Agustus 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%," ujar Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers online, Rabu (19/8/2026).
Selaras dengan hal itu, suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 4,75% dan suku bunga Lending Facility tetap sebesar 6,50%.
Melihat pasar obligasi, hasil imbal Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun menurun ke 7,04% pada Rabu kemarin, dari 7,1% di hari Selasa.
Menurunnya imbal hasil menandakan harga SBN yang sedang menguat lantaran dicari investor.
Dari bursa ekuitas AS, lantai bursa Wall Street pada akhirnya terangkat pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Indeks S&P 500 mengakhiri tren pelemahan selama tiga hari berturut-turut sesudah imbal hasil surat utang berkurang mengikuti pengumuman Departemen Keuangan AS tentang peningkatan program pembelian kembali (buyback) surat utang pemerintah tenor panjang.
Indeks S&P menguat 0,21% dan berlabuh di posisi 7.707,98, sedangkan Nasdaq Composite terangkat 0,16% menjadi 26.331,09.
Indeks Dow Jones Industrial Average, yang berisikan 30 emiten, terangkat 119,65 poin atau 0,22% dan berakhir pada posisi 53.463,05.
Akan tetapi, dorongan penguatan saham mulai kehilangan daya di sepanjang sesi transaksi.
Pada awal transaksi, Dow sempat melonjak melebihi 360 poin atau 0,7%, yang merupakan posisi tertinggi pada hari tersebut.
S&P 500 juga sempat menanjak 0,7%, sementara Nasdaq terangkat 0,6%.
Penguatan awal saham berlangsung saat imbal hasil surat utang Treasury AS jangka panjang merosot sesudah Departemen Keuangan AS menyatakan bakal setidaknya melipatgandakan jumlah pembelian kembali surat utangnya.
Penambahan buyback tersebut diarahkan untuk surat utang dengan tenor 10 sampai 30 tahun, termasuk obligasi tenor 20 tahun.
Imbal hasil Treasury 30 tahun yang pada sesi transaksi sebelumnya mencatatkan posisi puncak baru dalam 19 tahun, yaitu di atas 5,33% berkurang melebihi 10 basis poin menjadi 5,184%.
Di samping itu, imbal hasil Treasury 10 tahun merosot melebihi 6 basis poin menjadi 4,637%.
Saham-saham yang dinilai memperoleh keuntungan dari penurunan suku bunga ikut menguat.
Saham Lowe's dan Home Depot masing-masing naik sekitar 2%.
"Saham-saham berbasis value, misalnya, berkinerja sangat baik hari ini. Ini menunjukkan bahwa perekonomian dan siklus laba perusahaan masih sangat kuat," kata Massimo Santicchia, Kepala Ekuitas AS di Procyon, dikutip dari Sumbernya.
Meski begitu, menurut pandangannya, saat ini muncul "ketegangan di pasar", lantaran di satu sisi fondasi ekonomi tetap kokoh, namun di sisi lain beban modal meningkat berkat tingginya imbal hasil obligasi.
Secara umum, Santicchia menilai situasi saat ini masih berupa "lingkungan yang sangat, sangat baik bagi saham" lantaran proyeksi keuntungan perusahaan tetap kokoh.
Saham Moderna melesat lebih dari dua kali lipat, lewat kenaikan berkisar 177%, mencetak raihan harian terbaik sepanjang riwayat perusahaan.
Kenaikan tajam tersebut terjadi usai vaksin uji coba kanker kulit yang dirancang bersama Merck memperlihatkan hasil positif pada pengujian klinis fase akhir.
Saham Merck turut melonjak melebihi 12%, sehingga ikut menopang indeks Dow.
Saham Marvell Technology menguat mendekati 10% sesudah perseroan mengumumkan kesepakatan bersama Google terkait tensor processing unit (TPU) milik Google.
Marvell juga menyerahkan waran kepada Alphabet guna membeli saham biasa Marvell senilai hingga US$12,2 miliar.
Akan tetapi, beberapa saham teknologi lain justru merosot usai The Wall Street Journal memberitakan, merujuk beberapa sumber, bahwa OpenAI membeberkan pencapaian triwulan II yang mengecewakan pelaku pasar.
Kendati penerimaan meningkat 18% di antara triwulan pertama dan kedua, tingkat kerugian perseroan turut membengkak.
Saham Broadcom terkoreksi melebihi 4%, sementara Advanced Micro Devices (AMD) terperosok mendekati 4%.
ETF iShares AI Innovation and Tech Active (BAI) turut menyusut sekitar 2%.
Sebelumnya, rerata indeks saham utama AS melemah pada hari Selasa usai imbal hasil obligasi pemerintah di pelbagai negara menyentuh posisi puncak dalam beberapa tahun, salah satunya dipicu kecemasan atas inflasi.
Bukan cuma imbal hasil Treasury 30 tahun AS yang menyentuh level tertinggi dalam 19 tahun, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun juga menyentuh level tertinggi dalam tiga dekade.
Imbal hasil obligasi Prancis tenor 30 tahun menyentuh posisi tertinggi sejak 2008, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Jerman tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2011.
Potensi suku bunga yang lebih tinggi turut membayangi.
Risalah pertemuan terkini Federal Reserve yang diterbitkan pada Rabu mengindikasikan bahwa jajaran pejabat The Fed melihat peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi tak juga melandai.
Di dalam pertemuan The Fed pada Juli lalu, terdapat tiga pejabat yang bersilang pendapat (dissenters) dan menentukan pilihan untuk menaikkan suku bunga.
Pasar keuangan Indonesia hari ini akan dibayangi sejumlah sentimen baik dari dalam ataupun luar negeri.
Sentimen luar negeri datang dari risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) sementara dari dalam negeri adalah keputusan moneter BI serta data ekonomi.
BI Mempertahankan Suku Bunga
Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026.
Keputusan tersebut membuat BI telah menahan suku bunga acuan selama tiga bulan berturut-turut sejak Juni 2026, di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan tekanan terhadap pasar keuangan internasional.
Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan keputusan mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% tetap sejalan dengan arah kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027.
Menurutnya, kebijakan tersebut juga diarahkan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah tingginya gejolak global yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Selain mempertahankan BI-Rate, BI juga tidak mengubah suku bunga Deposit Facility di level 5,00% dan Lending Facility sebesar 6,50%.
Bank sentral menegaskan bauran kebijakan akan terus diperkuat melalui kombinasi instrumen moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna menjaga stabilitas sekaligus mendorong aktivitas ekonomi.
Dari sisi moneter, BI akan terus mengoptimalkan strategi stabilisasi rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing, baik menggunakan instrumen Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
BI juga memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dengan menjaga pertumbuhan uang primer tetap berada di atas 10% sejalan dengan ekspansi moneter.
Bank sentral juga memperluas kebijakan insentif bagi transaksi lindung nilai.
Insentif pengurangan premi swap jual lindung nilai sebesar 12,5% kini tidak lagi hanya berlaku untuk aliran dana portofolio asing, tetapi juga mencakup pinjaman luar negeri perbankan dan investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI).
Kebijakan tersebut mulai berlaku efektif pada pekan kedua September 2026 untuk dana yang masuk sejak 1 Juli 2026.
Di sisi makroprudensial, BI mempercepat implementasi dua instrumen baru.
Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial Pendalaman Pasar Uang (KLM PPU) akan mulai berlaku pada 1 September 2026 untuk memperkuat distribusi likuiditas dan mendorong penyaluran kredit ke sektor prioritas.
Sementara itu, Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) akan diterapkan mulai 1 Oktober 2026 guna meningkatkan pembiayaan ke sektor-sektor inklusif dan berkelanjutan.
Pada sektor sistem pembayaran, BI melanjutkan agenda digitalisasi melalui implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030.
Fokus kebijakan diarahkan pada percepatan penggunaan Kartu Kredit Indonesia (KKI), perluasan kebijakan Merchant Discount Rate (MDR) QRIS sebesar 0% untuk transaksi hingga Rp100.000 yang efektif mulai 1 Oktober 2026, serta penyelenggaraan Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) dan Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) pada 24-26 September 2026.
Ke depan, BI menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, memperkuat ketahanan nilai tukar rupiah, meningkatkan aliran modal asing, serta memastikan bauran kebijakan tetap mampu menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Imbal Hasil Surat Utang Melandai, Dolar Melemah
Pasar keuangan global kembali bergairah setelah Departemen Keuangan AS menggandakan program buyback obligasi tenor panjang menjadi sedikitnya US4miliarperoperasidarisebelumnyaUS2 miliar.
Langkah ini mendorong imbal hasil Treasury AS tenor panjang turun hingga 10 basis poin.
US Treasury 30 tahun yang sebelumnya menyentuh 5,34%, level tertinggi hampir 20 tahun, kembali turun.
Penurunan yield menjadi angin segar bagi saham.
Namun, dolar AS justru tertekan.
Indeks dolar turun 0,84%, sementara emas melonjak 4,05% menjadi US$4.508,64 per troy ounce.
Bitcoin juga melesat 6,06%.
Kekhawatiran terhadap utang pemerintah AS dan inflasi membuat investor memburu aset lindung nilai seperti emas.
Di pasar energi, harga minyak naik setelah ketegangan Timur Tengah meningkat.
WTI naik 0,77% menjadi US85,59perbarel,sedangkanBrentmenguat0,4491,42.
Bagi Indonesia, pelemahan yield obligasi AS juga menekan lonjakan imbal hasil SBN pada Rabu kemarin.
Jika imbal hasil US Treasury terus melandai maka tekanan terhadap SBN akan berkurang sehingga rupiah bisa ikut menguat.
Melandainya imbal hasil juga berimbas pada dolar AS.
Indeks dolar terjun ke 98,83 atau posisi terlemahnya sejak akhir Mei 2026 atau dua bulan terakhir.
Pelemahan ini menjadi kabar baik buat rupiah.
Indeks dolar yang melemah menandai investor tengah menjual instrumen berdenominasi dolar sehingga ada harapan investor membeli instrumen non-denominasi dolar seperti rupiah.
Neraca perdagangan Jepang
Jepang hari ini akan mengumumkan neraca perdagangan periode Juli 2026
Juni kembali mencatat defisit sebesar 406,9 miliar yen.
Angka tersebut berbalik dari surplus 122,3 miliar yen pada periode yang sama tahun lalu dan jauh lebih besar dibandingkan ekspektasi pasar yang diperkirakan defisit sekitar 120 miliar yen.
Defisit ini menjadi yang kedua secara beruntun seiring laju impor yang kembali melampaui pertumbuhan ekspor.
Nilai impor melonjak 25,4% secara tahunan menjadi rekor tertinggi 11,34 triliun yen.
Kenaikan tersebut lebih cepat dibandingkan pertumbuhan 12,5% pada bulan sebelumnya, sekaligus melampaui proyeksi pasar sebesar 21%.
Lonjakan impor mencerminkan kuatnya permintaan domestik yang didorong paket stimulus pemerintah sejak akhir 2025.
Selain itu, impor minyak mentah melonjak 59,3% seiring upaya Jepang mendiversifikasi sumber pasokan energi di tengah ketegangan yang masih berlangsung di sekitar Selat Hormuz.
Di sisi lain, ekspor Jepang tetap menunjukkan kinerja solid dengan naik 19,3% secara tahunan menjadi 10,93 triliun yen, tertinggi dalam tiga bulan terakhir.
Pertumbuhan tersebut juga melampaui perkiraan konsensus sebesar 18,6% dan menjadi yang terkuat sejak November 2022.
Kinerja ekspor telah mencatat pertumbuhan selama 10 bulan berturut-turut.
Pelemahan nilai tukar yen serta tingginya permintaan global terhadap chip untuk kecerdasan buatan (AI) menjadi faktor utama yang menopang ekspor, meski rantai pasok masih menghadapi gangguan akibat konflik di Iran.
Bagi Indonesia data perdagangan Jepang ditunggu karena mencerminkan tinggi lemahnya permintaan barang dari luar negeri.
Jepang adalah salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.
Jika impor Jepang naik maka ini menjadi kabar baik buat Indonesia karena ada harapan permintaan kiriman dari Indonesia ke Jepang naik.
China akan mengumumkan Loan Prime Rate (LPR)
China akan mengumumkan keputusan mengenai Loan Prime rate (LPR).
Untuk Agustus, pasar memperkirakan LPR 1 tahun tetap 3,00% dan LPR 5 tahun tetap 3,50%.
Jika sesuai ekspektasi, ini berarti China kembali mempertahankan suku bunga acuannya tanpa perubahan.
Bulan lalu, LPR 1 tahun yang menjadi acuan utama pinjaman korporasi dan rumah tangga tetap di 3,0%, sementara LPR 5 tahun yang menjadi referensi kredit properti dan KPR bertahan di 3,5%.
Keputusan ini menarik karena ekonomi China menunjukkan tanda-tanda pelemahan.
Penyaluran kredit baru yuan pada Juli bahkan mengalami kontraksi rekor, sementara permintaan domestik masih lemah.
Namun, bank sentral China (PBOC) tampaknya lebih memilih menggunakan stimulus fiskal dan kebijakan yang lebih terarah ketimbang langsung memangkas LPR.
Pengumuman LPR ini menjadi salah satu agenda penting pasar Asia karena investor menunggu apakah PBOC akan memberikan stimulus moneter baru atau tetap mempertahankan LPR.
Risalah FOMC, Trump Geram ke The Fed
Bank sentral AS The Fed merilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia (20/8/2026).
Dokumen terbaru menunjukkan inflasi AS masih tinggi, sementara pasar tenaga kerja relatif stabil dan ekonomi terus tumbuh.
Meski mayoritas pejabat mendukung mempertahankan suku bunga, sejumlah pejabat justru mendukung kenaikan suku bunga.
Banyak pejabat menilai suku bunga yang lebih tinggi kemungkinan diperlukan jika inflasi gagal turun.
Namun, beberapa lainnya memilih kenaikan segera karena dinilai dapat mencegah kebutuhan kenaikan yang lebih besar di kemudian hari.
The Fed mencatat kenaikan harga dalam setahun terakhir terjadi secara luas, baik pada barang maupun jasa.
Proyeksi inflasi dinilai relatif sama dengan perkiraan pada Juni, sementara prospek ekonomi sedikit lebih lemah.
Meski demikian, para pejabat secara umum masih memperkirakan pertumbuhan ekonomi tetap solid dalam jangka pendek.
Investasi terkait kecerdasan buatan (AI) dan belanja rumah tangga menjadi sejumlah faktor yang menopang pertumbuhan.
The Fed juga menilai ketidakpastian ekonomi masih tinggi, salah satunya akibat konflik di Timur Tengah.
Sementara itu, Ketua The Fed Kevin Warsh mengusulkan agar rapat FOMC digelar enam kali setahun, atau sekitar setiap dua bulan.
Menurutnya, jadwal tersebut memberikan lebih banyak waktu bagi pejabat untuk mengumpulkan data dan membahas strategi kebijakan moneter.
Namun, belum ada keputusan terkait perubahan jadwal tersebut dan agenda rapat The Fed sepanjang 2026 masih tetap sama.
Dalam perkembangan terbaru, Presiden AS Donald Trump kembali mendesak The Fed memangkas suku bunga.
Ia menilai data ekonomi yang kuat justru seharusnya menjadi alasan untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Trump juga menuding sejumlah pejabat The Fed bermotif politik, tetapi memuji Ketua The Fed Kevin Warsh yang disebutnya telah bekerja dengan baik.
Trump menilai suku bunga rendah diperlukan untuk menopang pertumbuhan sekaligus meringankan beban pembiayaan utang AS yang hampir US$40 triliun.
Desakan ini muncul setelah risalah FOMC Juli menunjukkan banyak pejabat The Fed masih membuka peluang suku bunga lebih tinggi jika inflasi tak kunjung turun menuju target 2%.
Sementara itu, ekonomi AS hanya tumbuh 1,5% pada kuartal II 2026, melambat dari 2,1% pada kuartal sebelumnya.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
Komisi V DPR menggelar Rapat Kerja bersama mitra (kementerian/lembaga) membahas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2025 di ruang rapat Komisi V DPR, Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat
Opening Ceremony Karya Kreatif Indonesia 2026 yang akan dibuka oleh Pejabat Gubernur Sementara (PGS) Bank Indonesia di Hall B, Jakarta International Convention Center, Jakarta Pusat
Peluncuran Indonesia Bullion Market Association di Monas Grand Ballroom BSI Tower, Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Direktur Utama BSI
Kemlu RI mengundang rekan media untuk menghadiri Press Briefing mengenai Rencana Pelaksanaan Comprehensive Strategic Dialog RI-RRT dan Perkembangan Isu Terkini Polugri di Ruang Palapa, kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat
Jepang akan mengumumkan data neraca dagang Juni 2026
Bank sentral China mengumumkan kebijakan suku bunga
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
RUPS PT Krom Bank Indonesia Tbk
RUPS PT Organon Pharma Indonesia Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Interim Indonesian Paradise Property Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional: