Langkah FTSE dan MSCI Tahan Pasar Indonesia, Sinyal Asing Tinggalkan BEI?

Langkah FTSE dan MSCI Tahan Pasar Indonesia (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Kamis, 20 Agustus 2026 | 10:51:43 WIB

JAKARTA - Ketetapan penyedia indeks dunia, yakni FTSE Russell yang kembali menangguhkan penambahan saham baru asal tanah air berpotensi menghambat arus dana asing menuju Bursa Efek Indonesia (BEI), utamanya dari pemodal pasif atau passive fund.

Pada 18 Agustus 2026, FTSE Russell memperpanjang penangguhan penambahan saham baru dari bursa tanah air beserta sebagian besar pergeseran klasifikasi indeks sampai sekurang-kurangnya Desember 2026.

Keputusan ini diterapkan demi menyediakan rentang waktu pengamatan terhadap pembenahan pasar.

Menanggapi kabar tersebut, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik menyatakan pihak bursa hendak terus membangun komunikasi bersama seluruh Global Index Provider demi menjawab seluruh perhatian dari pemodal dunia serta meningkatkan integritas dan tata kelola pasar.

“Sejak implementasi empat aksi reformasi transparansi Pasar Modal Indonesia, BEI terus melakukan continuous improvement atas reformasi transparansi tersebut,” paparnya dari Sumbernya, Rabu (19/8/2026).

Sejak 15 Juli 2026, BEI memasukkan Price Impact Ratio sebagai salah satu formula guna penetapan emiten yang tergolong High Shareholding Concentration (HSC).

Jeffrey menyatakan hal ini menyokong efektivitas demi meningkatkan sisi tradeability pada proses replikasi indeks.

“BEI juga saat ini melihat potensi untuk dapat menggabungkan informasi afiliasi dengan laporan disclosure informasi pemegang saham di atas 1% untuk meningkatkan informasi dan transparansi kepada seluruh pelaku pasar,” jelas dia.

Pada penutupan bursa Rabu (19/8/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi dengan melorot 0,86% atau 55,70 poin menuju 6.394,13.

Dinamika ini memperlihatkan sentimen penyedia indeks dunia masih menjadi fokus para pemodal.

Terlebih, MSCI baru saja mengeliminasi saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dari MSCI Global Standard Index pada penyesuaian atau rebalancing Agustus 2026.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus membeberkan MSCI dan FTSE Russell merupakan pintu masuk vital untuk pemodal dunia ke pasar saham tanah air.

“Karena seperti yang kami ketahui, pintu masuk investor global adalah dari MSCI dan FTSE. Sehingga apabila semakin banyak saham dikeluarkan, tentu semakin sedikit dana inflow yang masuk,” bebernya dari Sumbernya, Rabu (19/8/2026).

Menurut pandangan Nico, ketetapan penyedia indeks itu berpotensi mengikis daya pikat tanah air di mata pemodal dunia lantaran semakin sedikit emiten domestik yang memenuhi kualifikasi investasi mereka.

Namun demikian, pergerakan modal juga dipengaruhi kondisi internal.

Nico menyebutkan arah kebijakan fiskal dan moneter beserta dinamika politik dalam negeri turut menentukan seberapa besar pemodal asing bersedia menyalurkan dananya ke pasar saham tanah air.

Oleh karena itu, perbaikan pasar menjadi variabel yang sangat vital.

“Sedikit atau banyak, kehadiran pelaku pasar dan investor asing di Indonesia memberikan dampak dan pengaruh. Ketika asing keluar, IHSG juga langsung mengalami penurunan secara dalam,” terangnya.

Direktur Purwanto Asset Management Edwin Sebayang melengkapi bahwa ketetapan FTSE Russell memang berimbas negatif pada foreign flow, namun dampaknya wajib dipisahkan antara berkurangnya aliran dana pasif dan terhentinya pemodal asing memborong saham tanah air.

Dia menyebut pemodal pasif atau index-tracking fund merupakan pihak yang paling terdampak sebab mempunyai kewajiban mengikuti indeks acuan.

Penangguhan pergeseran indeks secara otomatis memutus potensi permintaan mekanis terhadap saham tanah air.

“Keputusan FTSE ini jelas menjadi sentimen negatif bagi aliran dana asing ke BEI dalam jangka pendek, tetapi jangan langsung diterjemahkan bahwa seluruh investor asing melakukan sell-off,” ungkap Edwin.

Sebaliknya, pemodal aktif masih mempunyai kelonggaran memilih saham berdasarkan penilaian, pertumbuhan keuntungan, kesehatan neraca serta prospek sektor.

Artinya, pemodal asing tetap berpeluang masuk bilamana menemukan peluang investasi yang menjanjikan.

Namun, Edwin memberi peringatan bahwa kendala dapat berkembang lebih serius bilamana penangguhan FTSE berlanjut sampai penutup tahun dan berlangsung serentak dengan pembekuan pergeseran indeks oleh MSCI.

Berdasarkan analisisnya, keadaan tersebut dapat berubah dari kendala teknikal jangka pendek menjadi kendala persepsi struktural terhadap investability tanah air.

Pemodal dunia berpeluang mempertanyakan keterbukaan, likuiditas, tata kelola, serta aksesibilitas pasar domestik.

“Masalahnya bukan sekadar apakah asing masih mau membeli saham Indonesia, tetapi berapa besar return premium yang harus ditawarkan Indonesia agar investor global bersedia mengambil risiko Indonesia,” tutur Edwin.

Edwin menilai posisi tanah air sebagai emerging market tetap menyajikan landasan positif, tetapi predikat tersebut tidak secara otomatis menjamin kenaikan alokasi pemodal dunia.

Pemodal tetap mengantongi banyak pilihan negara di dalam portofolio pasar berkembang.

Sehingga, Edwin menganjurkan pemodal tidak tergesa-gesa mengambil opsi all in atau all out.

Pemodal jangka pendek ada baiknya menanti kepastian pergerakan dana, sedangkan pemodal jangka menengah dapat mengangsur saham berfundamental kokoh.

Untuk pemodal jangka panjang, Edwin menyarankan perhatian lebih besar diarahkan pada pertumbuhan laba, arus kas, profitabilitas, neraca, penilaian dan tata kelola perusahaan.

Faktor-faktor tersebut tetap menjadi pijakan utama pada penetapan nilai saham.

Sementara itu, untuk jangka panjang, Nico memprediksi risiko terhadap IHSG dapat semakin membesar bilamana tanah air terus kehilangan daya pikat di mata pemodal dunia.

Menurutnya, IHSG turut mencerminkan tingkat kepercayaan atas prospek ekonomi tanah air.

Nico memproyeksikan IHSG masih bergerak di dalam rentang 6.390–7.470 sepanjang 2026.

Pemodal dianjurkan mencermati dinamika transformasi pasar modal tanah air serta beragam arah kebijakan yang mampu memengaruhi ketetapan pemodal dunia.

“Investor sebaiknya wait and see dan memperhatikan situasi dalam negeri, terutama transformasi pasar modal yang ikut menentukan seberapa jauh capital inflow mulai terjadi,” tandas dia.

Reporter: Moch Febrianto