Menantikan Suku Bunga BI, Rupiah Diperkirakan Melemah Sebelum RDG
JAKARTA - Kurs mata uang rupiah mengawali perdagangan dengan kenaikan tipis menghadapi dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi pembukaan hari Rabu, (19/8/2026).
Meskipun demikian, pengamat memperkirakan rupiah bakal terkoreksi pada hari ini seiring investor yang sedang mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) mengenai suku bunga acuan atau BI Rate.
Berdasarkan laporan dari Sumbernya, nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS diawali menguat sebesar dua poin atau 0,01% menuju Rp17.860 per dolar AS jika dibandingkan posisi penutupan sebelumnya pada angka Rp17.862 per dolar AS.
Kendati demikian, Pengamat Bank Woori Saudara Rully Nova memperkirakan rupiah akan mengalami penurunan seiring sikap waspada para pelaku pasar dalam mengamati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada siang ini.
"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp17.850-Rp17.900 dipengaruhi oleh domestik sikap hati-hati pelaku pasar mencermati hasil RDG Bank Indonesia siang nanti," ucapnya dari Sumbernya, Rabu.
Rully memproyeksikan bahwa BI bakal mempertahankan tingkat suku bunga acuan pada posisi 5,75%, namun bakal bertindak lebih dinamis pada pasar mata uang asing maupun pasar obligasi.
Para pengamat lain juga turut memperkirakan BI bakal menjaga tingkat suku bunga tersebut.
Beberapa penyebab diantaranya yaitu laju inflasi yang telah kembali menembus ke bawah 3% beserta membaiknya arus modal masuk yang menyokong pergerakan kurs rupiah.
Hal tersebut diutarakan oleh Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman.
Di samping itu, terdapat pula penurunan proyeksi kenaikan suku bunga acuan The Fed yang lebih cepat seirama dengan data inflasi, ketenagakerjaan, serta sektor riil Amerika Serikat (AS) yang memperlihatkan indikasi perlemahan.
Bukan hanya itu, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) turut memprediksi bahwa BI-Rate akan tetap berada pada tingkatan 5,75 persen.
BI Dinilai Masih Memiliki Peluang Menjaga BI Rate
BI dipandang masih mempunyai ruang guna mempertahankan BI-Rate sejalan dengan menyusutnya tekanan luar negeri untuk sementara waktu yang disebabkan oleh kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang relatif stabil dalam kurun beberapa pekan terakhir.
Mempertimbangkan dinamika global, Rully menjelaskan bahwa harga komoditas minyak bumi yang konsisten berada di tingkat tinggi serta melonjaknya imbal hasil obligasi pemerintah AS khususnya untuk jangka panjang turut memberikan dampak bagi pergerakan nilai tukar rupiah.
"Obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun sempat menyentuh 5,34% dan 4,75% untuk 10 tahun," kata dia.