Menjaga Kedaulatan dan Kepercayaan Rupiah di Tengah Maraknya Digitalisasi

Menjaga Kedaulatan dan Kepercayaan Rupiah (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Selasa, 18 Agustus 2026 | 10:54:23 WIB

JAKARTA - Kami tengah memasuki masa saat masyarakat makin jarang menyentuh mata uang fisik. Membayar segelas kopi cukup dengan melakukan pemindaian QRIS. Menyetor biaya tol tidak perlu lagi menyodorkan uang kertas Rupiah. Kegiatan belanja daring, membayar bermacam tagihan, memesan tiket, hingga menyalurkan donasi bisa dirampungkan hanya melalui beberapa sentuhan jemari di telepon seluler.

Di tengah kecenderungan tersebut, pihak Bank Indonesia kembali menggelar Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) 2026 pada tanggal 14–16 Agustus 2026.

Memasuki edisi kelima sejak tahun 2022, FERBI membawa pesan utama yakni Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah. Posisi Rupiah diletakkan bukan sekadar sebagai instrumen bertransaksi, namun juga pendorong roda ekonomi, tingkat kesejahteraan, sekaligus simbol pemersatu dan kedaulatan bangsa.

Kendati demikian, muncul sebuah fenomena yang unik: saat uang fisik perlahan-lahan menghilang dari genggaman publik, mengapa kami justru dituntut untuk kian mencintai Rupiah?

Kesalahan pemahaman yang acap terjadi yaitu mengidentikkan Rupiah sebatas uang kertas maupun logam. Padahal, cakupan Rupiah jauh lebih besar daripada sekadar benda yang kami simpan di dompet. Saat seseorang melakukan pembayaran sebesar Rp 25.000 memakai sarana QRIS, hal yang berpindah memang bukanlah fisik uang Rp 20.000 dan Rp 5.000. Namun besaran nilai yang ditukarkan tetaplah Rupiah. Hal serupa berlaku saat jutaan orang melakukan pengiriman uang via perbankan digital, dompet digital, atau bermacam saluran transaksi elektronik. Proses digitalisasi mengubah mekanisme transaksi, bukan melenyapkan keberadaan mata uang.

Perkembangan tersebut berjalan sangat cepat. Pihak otoritas BI mencatat aktivitas transaksi ekonomi serta keuangan digital tanah air terus berkembang seiring kian meluasnya penggunaan sistem perbankan digital dan sarana QRIS.

Oleh lantaran itu, publik mungkin makin jarang melihat fisik Rupiah, namun justru kian sering menggunakannya dalam bentuk digital. Di sinilah letak pesan FERBI menjadi sangat relevan. Mencintai Rupiah tidak boleh terhenti sekadar merawat uang fisik agar tidak terlipat, dicoret, atau mengalami kerusakan. Di era serba elektronik, sikap mencintai Rupiah harus bertransformasi menjadi kesadaran dalam memelihara kepercayaan pada mata uang nasional beserta sistem pembayarannya. Karena pada dasarnya mata uang tetap hidup berkat adanya rasa percaya.

Inisiatif Gerakan Cinta, Bangga, Paham Rupiah memiliki tahapan yang menarik. Aspek cinta menumbuhkan keterikatan emosi. Aspek bangga membangun identitas. Namun kedua hal itu belumlah memadai tanpa adanya pemahaman. Justru kata “paham” semestinya memegang peranan yang semakin krusial. Publik perlu mengerti penyebab nilai Rupiah bisa menguat atau melorot. Mengapa laju inflasi dapat memangkas tingkat daya beli. Mengapa kebijakan suku bunga Bank Indonesia berdampak pada sektor kredit dan simpanan. Mengapa transaksi memakai valuta asing di dalam negeri membawa konsekuensi terhadap kedaulatan moneter.

Dengan demikian, tingkat literasi terhadap Rupiah hendaknya berkembang menjadi bentuk literasi ekonomi. Seseorang yang paham Rupiah tidak sekadar bisa membedakan keaslian lembaran uang. Ia pun mengerti nilai uang, mampu mengelola pemasukan, mengerem pola konsumsi, menghindari pinjaman berlebih, menabung, melakukan investasi, serta memakai jaringan pembayaran secara aman.

Pada titik inilah tantangan bagi FERBI seusai lima kali diselenggarakan. Acara festival dilarang berhenti hanya sebagai kegiatan seremonial. Ukuran keberhasilannya bukan semata-mata berapa warga yang hadir, berapa stan yang ada, berapa mata acara dilaksanakan, atau seberapa ramai topik tersebut dibicarakan di media sosial. Sudut pandang pertanyaan wajib diubah: perubahan apa yang terjadi setelah publik selesai mengunjungi FERBI?

Dalam ilmu manajemen kebijakan publik dipahami perbedaan antara keluaran (output) dan hasil akhir (outcome). Kegiatan festival, lokakarya, pameran, kompetisi, serta aktivitas kampanye merupakan bentuk output. Akan tetapi peningkatan pengetahuan, perubahan perilaku publik, serta menguatnya rasa percaya terhadap Rupiah merupakan bentuk outcome. Oleh sebab itu, FERBI memerlukan tolok ukur kesuksesan yang bertambah substantif. Apakah pemahaman warga mengenai Rupiah semakin meningkat? Apakah warga kian bijaksana dalam membelanjakan uang? Apakah mereka kian sigap membaca risiko penipuan transaksi digital? Apakah kelompok pemuda mengerti keterkaitan Rupiah dengan laju inflasi, tingkat daya beli, suku bunga, dan perekonomian nasional? Bahkan, lebih jauh dibanding itu, apakah publik kian menaruh percaya kepada Rupiah?

Pertanyaan pamungkas ini menjadi sangat krusial. Rekam jejak berbagai negara memperlihatkan, krisis mata uang pada hakikatnya juga merupakan krisis atas rasa percaya. Saat publik kehilangan kepercayaan pada kemampuan mata uang dalam memelihara nilainya, mereka bakal mencari pilihan lain: mata uang asing, komoditas emas, instrumen keuangan lain, bahkan aset kripto. Oleh sebab itu, memelihara Rupiah tidak cukup sekadar lewat aksi kampanye. Otoritas penentu kebijakan juga wajib memelihara kondisi fundamental yang menjadikan publik percaya padanya: inflasi yang terkelola, nilai tukar yang tepercaya, sistem pembayaran yang terjamin aman, serta arah kebijakan moneter yang konsisten. Dengan kata lain, publik diminta mengasihi Rupiah, sedangkan negara berkewajiban menjadikan Rupiah patut untuk dikasihi.

Tantangan di masa mendatang bahkan jauh lebih besar. Masa depan instrumen uang tidak lagi melulu berwujud kertas. Pembayaran elektronik, QRIS, perbankan seluler, dompet elektronik, sampai pengembangan Rupiah Digital menandakan bahwa persaingan kedaulatan mata uang bakal kian berlangsung di arena digital. Oleh sebab itu, kedaulatan Rupiah pada masa depan pun bergantung pada pihak yang menguasai infrastruktur pembayaran, data aktivitas transaksi, pengembangan teknologi, standar keamanan, serta ekosistem digitalnya. Bangsa Indonesia tentu tidak boleh menentang arus globalisasi dalam sistem keuangan.

Namun demikian, keterbukaan sektor ekonomi wajib berjalan seiring dengan kemampuan memelihara kedaulatan sistem pembayaran dalam negeri. Di sinilah tempat FERBI semestinya melakukan evolusi. Acara ini bukan sekadar perayaan seputar mata uang, melainkan sebuah gerakan literasi ekonomi dan kedaulatan moneter yang mampu merambah sekolah, area kampus, para pelaku UMKM, lingkungan komunitas, serta ruang digital sepanjang tahun.

Bayangkan jika generasi muda bukan sekadar diajari melihat gambar sosok pahlawan pada uang kertas, melainkan turut mengerti mengapa inflasi dapat timbul, bagaimana mekanisme nilai tukar terbentuk, mengapa transaksi elektronik wajib terjamin aman, dan bagaimana keputusan finansial perseorangan memberi kontribusi pada ketahanan ekonomi nasional. Itulah pemaknaan baru dari sikap mencintai Rupiah.

Pada akhirnya, kelak di suatu hari dompet kami mungkin tidak lagi berisi banyak lembaran uang kertas. Bahkan bisa jadi generasi mendatang kian jarang memegang fisik uang tunai. Namun terdapat satu hal yang dilarang ikut sirna: rasa percaya pada Rupiah. Sebab Rupiah boleh bertransformasi dari lembaran kertas menjadi sekumpulan angka di layar ponsel. Teknologi transaksi pembayaran boleh berganti. Cara kami bertransaksi boleh berubah sepenuhnya. Namun selama negara Indonesia tetap berdiri sebagai bangsa yang berdaulat, Rupiah wajib tetap menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Maka, pada era tanpa uang tunai, mencintai Rupiah justru menjadi hal yang kian vital. Bukan lantaran fisik kertasnya, melainkan karena nilai, tingkat kepercayaan, serta kedaulatan bangsa yang berdiri di belakangnya.

Reporter: Moch Febrianto