Deretan Mata Uang dengan Kurs Paling Lemah di Dunia dan Peringkat Rupiah

Deretan Mata Uang dengan Kurs Paling Lemah (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Selasa, 18 Agustus 2026 | 10:54:22 WIB

JAKARTA - Merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, rentang perjalanan lebih dari delapan dekade tersebut menjadikan rupiah bagian yang tidak terpisah dari sejarah dan ekonomi Indonesia.

Uang kertas Garuda masih tergolong mata uang yang membutuhkan jumlah nominal cukup besar untuk dikonversikan ke dolar Amerika Serikat (AS).

Dari Sumbernya sudah menghimpun 10 mata uang ber-nilai terendah atas dolar AS pada 17 Agustus 2026.

Patokannya simpel, yakni kian banyak unit mata uang setempat yang dibutuhkan demi memperoleh US$1, kian rendah nilai mata uang tersebut atas dolar AS.

Catatan pentingnya, angka nilai tukar yang tinggi tidak serta-merta mengindikasikan perekonomian suatu bangsa adalah yang paling buruk.

Tingginya nominal kurs bisa dipengaruhi pelbagai hal, berawal dari inflasi yang lama terjadi, garis kebijakan moneter, kondisi di pasar, sampai sejarah redenomasi mata uang pada negara tersebut.

Daftar berikut menampilkan mata uang mana yang membutuhkan angka nominal paling banyak untuk menukarkan satu dolar AS, sehingga mengindikasikan nilai mata uang yang lebih rendah terhadap dolar.

Rial Iran menjadi uang resmi dengan nilai paling rendah atas dolar AS.

Guna meraih US$1, dibutuhkan kurleb 1.374.126 rial Iran.

Urutan berikutnya dihuni pound Lebanon dengan nilai tukar sekitar 89.500 per US$1, menyusul dong Vietnam bernilai 26.205 per US$1 dan kip Laos berada di 22.523 per US$1.

Nilai tukar rupiah juga masuk ke dalam susunan 10 besar.

Uang Garuda ada pada posisi Rp17.820 per US$1, yang menempatkannya di tangga kelima pada daftar mata uang ber-nilai terendah atas dolar AS.

Seturut rupiah, terdapat som Uzbekistan dengan konversi 11.891 per US$1, franc Guinea berjumlah 8.785 per US$1, guarani Paraguay sebanyak 6.025 per US$1, ariary Madagaskar bernilai 4.301 per US$1, serta riel Kamboja di angka 4.044 per US$

Reporter: Moch Febrianto