Anjloknya Permintaan Minyak Global Tahun 2026 Menurut Laporan IEA

Anjloknya Permintaan Minyak Global Tahun 2026 (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Kamis, 13 Agustus 2026 | 12:49:06 WIB

JAKARTA - Badan Energi Internasional atau the International Energy Agency (IEA) memaparkan, permintaan minyak bumi akan meluncur lebih dalam dibanding estimasi terdahulu pada 2026.

Kondisi ini menyusul semakin hebatnya imbas penutupan Jalur Hormuz.

Mengutip dari Sumbernya, Rabu (12/8/2026), IEA memproyeksikan permintaan minyak akan menyusut 1,6 juta barel per hari pada 2026.

Angka ini 510.000 barel per hari lebih tinggi daripada prediksi bulanan pamungkas pada Juli.

IEA menyebutkan, tingginya harga BBM yang bakal terus menekan level konsumsi walaupun permintaan akan merangkak naik sepanjang tahun dan kembali terangkat di kuartal akhir.

Keadaan di Jalur Hormuz masih diliputi ketidakpastian.

Kesepakatan di antara Washington dan Teheran guna membendung atau membuka kembali perlintasan vital tersebut belum jua terealisasi lantaran kedua belah pihak terus melempar tuntutan secara terbuka.

"Munculnya kembali konflik dan gangguan pelayaran menghambat upaya peningkatan pasokan minyak global," ujar IEA pada Rabu pekan ini.

Di samping itu pasokan pada Juli tercatat 6,3 juta barel per hari lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.

Keadaan ini memicu ketidakstabilan harga minyak mentah.

Minyak mentah Brent, sebagai tolok ukur internasional, sempat menembus US$100 per barel bulan lalu, namun juga sempat meluncur hingga mendekati US$ 70 per barel.

Terakhir, nilainya ditransaksikan sedikit di bawah US$ 90 per barel.

Kekhawatiran akan timbulnya kelangkaan minyak yang bisa mengganggu ketenangan global akibat penutupan jalur tersebut pada Maret ternyata tidak terbukti.

Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, meliputi penurunan drastis impor Tiongkok, penggunaan jalur pelayaran alternatif, serta pengurangan cadangan minyak.

Data minggu ini mengindikasikan cadangan minyak mentah AS telah merosot di bawah 300 juta barel, level paling rendah dalam waktu lebih dari empat dekade.

Sementara itu, kenaikan harga minyak mentah cenderung terkontrol karena para pelaku pasar terus merespons setiap sinyal yang menunjukkan potensi terwujudnya kesepakatan, sebuah kondisi yang menurut para analis tidak akan berlangsung selamanya.

Konsumen ikut menanggung dampaknya, mengingat kapasitas kilang, yang menentukan harga produk seperti bensin dan solar, mengalami hambatan yang amat berat.

Dana Moneter Internasional (IMF) telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahunan menjadi 3% dari sebelumnya 3,3% sejak pecahnya perang Iran pada Februari.

Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, sebelumnya menyatakan tahun ini segala arah kini menuju pada harga lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat.

Reporter: Moch Febrianto