Prospek Harga Emas Dunia Berpotensi Menguat Menuju US$4.900 per Ons Troi

Prospek Harga Emas Dunia Berpotensi Menguat (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Kamis, 13 Agustus 2026 | 12:49:04 WIB

JAKARTA - Nilai jual emas global berpotensi meneruskan tren kenaikan sampai penghujung tahun usai konsisten berada di atas US$ 4.400 per ons troi.

Berdasarkan catatan statistik Bloomberg pada Rabu (12/8) pukul 17.06 WIB, nilai jual emas menempati posisi US$ 4.415 per ons troi.

Pengamat Komoditas yang juga Pendiri Traderindo.com, Wahyu Laksono memantau dinamika nilai jual emas masih berada dalam tahap konsolidasi usai mengalami penurunan dari titik puncaknya.

Ia memperkirakan pergerakan berikutnya bakal ditentukan oleh daya tahan emas melampaui beberapa batas resistance.

“Target penguatan ke area 4600-4900,” kata Wahyu.

Wahyu menetapkan US$ 4.600 sebagai cermin resistance selanjutnya, sedangkan US$ 4.900 menjadi resistance yang jauh lebih kokoh.

Bila titik tersebut sanggup dilewati, nilai jual emas memiliki peluang meneruskan lonjakan hingga mencapai US$ 5.000–US $6.000 per ons troi.

Sesuai penjelasannya, kans peningkatan tersebut didukung oleh sinyal pembalikan arah tren.

Nilai jual emas dianggap telah menemui titik terendah usai sebelumnya merosot lumayan tajam.

“XAUUSD sepertinya sudah bottom out di 3943. Bullish Reversal potensial terjadi,” ujar Wahyu.

Melihat aspek fundamental, dugaan arah kebijakan tingkat suku bunga Federal Reserve menjadi pendorong utama pergerakan nilai jual emas.

Tingkat suku bunga serta yield US Treasury yang melonjak menjadi beban sebab menaikkan biaya kesempatan menyimpan emas yang tak menghasilkan imbal hasil.

Meskipun begitu, merosotnya dolar AS serta melandainya inflasi bisa menjadi pemicu positif buat emas.

“Saat ini, ekspektasi suku bunga The Fed merupakan pengemudi utama yang menentukan arah harian harga emas,” ujar Wahyu.

Wahyu menganggap turunnya performa data ekonomi AS, khususnya bidang ketenagakerjaan, dapat memberi kelonggaran bagi nilai jual emas untuk meneruskan tren positifnya.

Situasi itu berpotensi menekan porsi bagi The Fed guna mempertahankan garis kebijakan moneter yang kaku.

Akan tetapi, lonjakan harga minyak lantaran memanasnya kondisi geopolitik tetap menjadi tantangan lantaran bisa memicu kembali angka inflasi dan memperkuat pandangan hawkish The Fed.

Reporter: Moch Febrianto