Harga Minyak dan Emas Melonjak Jelang Rilis Data Inflasi AS Terlengkap
JAKARTA - Harga minyak dan emas menguat pada perdagangan Rabu (12/8/2026), sementara bursa regional Asia bergerak hati-hati di tengah meningkatnya tensi geopolitik serta penantian angka inflasi Amerika Serikat (AS).
Para pemodal memperhatikan angka Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang bakal diumumkan hari ini.
Keterangan tersebut dianggap mampu memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan September mendatang.
"Sentimen pasar masih lesu di tengah risiko geopolitik yang terus membayangi dan investor bersiap menghadapi data CPI AS," kata Kyle Rodda, analis pasar keuangan senior dari Sumbernya.
Menurut dia, minimnya perkembangan signifikan dalam perundingan AS-Iran serta sikap Iran yang tetap mempertahankan kendali atas Selat Hormuz membuat risiko harga minyak cenderung bergerak ke atas.
Minyak dan Emas Menguat
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terangkat 0,89% menjadi US$83,94 per barel.
Sementara harga minyak Brent menguat 0,78% menjadi US$89,60 per barel.
Kedua patokan harga tersebut pada transaksi Selasa (11/8) ditutup melesat lebih dari US$1 per barel.
Tingkat tersebut merupakan penutupan tertinggi sejak 31 Juli.
Kenaikan harga minyak berlanjut usai kedua benchmark tersebut melonjak sekitar 5% pada Senin (10/8), seiring memudarnya harapan terhadap kesepakatan damai antara AS dan Iran.
Harga emas spot juga menguat 0,46% menjadi US$4.387,03 per ons troi.
Serangan Kapal Picu Kekhawatiran Energi
Ketegangan geopolitik menjadi salah satu pendorong nilai komoditas.
AS serta kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melaporkan insiden serangan terpisah terhadap kapal di jalur pelayaran strategis.
Kementerian Transportasi Yaman menyatakan empat awak kapal milik Mesir tewas dalam serangan Houthi pada Selasa.
Apabila dikonfirmasi, korban jiwa tersebut bakal menjadi kematian pertama akibat serangan Houthi terhadap pelayaran sejak konflik Iran dimulai pada 28 Februari.
Militer AS juga menyampaikan pihaknya telah menembak sebuah kapal kontainer yang berupaya berlayar menuju pelabuhan Iran.
Konflik tersebut belum memperlihatkan tanda-tanda bakal usai meski Presiden AS Donald Trump berulang kali menyampaikan kesepakatan dengan Iran sudah semakin dekat.
Korea Utara dan Taiwan Tambah Risiko Geopolitik
Sentimen bursa Asia turut tertekan oleh dinamika geopolitik lainnya.
Korea Utara meluncurkan rudal balistik ke arah lepas pantai timur Semenanjung Korea.
Peluncuran itu terjadi beberapa hari sebelum latihan militer gabungan skala besar antara Korea Selatan dan AS yang selama ini ditentang Pyongyang.
Sementara itu, Taiwan mengecam rencana latihan angkatan laut China bersama kapal perang Indonesia di perairan sebelah timur Taiwan.
MSCI Asia Pasifik di luar Jepang terangkat 0,5%.
Indeks Nikkei Jepang bergerak datar seusai bursa kembali dibuka setelah libur.
CPI AS Jadi Perhatian Utama
Angka CPI AS yang dipublikasikan Rabu tidak akan secara utuh mencerminkan kenaikan harga energi terbaru.
Kendati demikian, indikator tersebut tetap berpeluang memengaruhi ekspektasi pasar atas keputusan The Fed bulan depan.
Pasar uang saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed berada pada kisaran 50%.
Jajak pendapat dari Sumbernya memperkirakan harga konsumen AS naik 0,1% pada Juli setelah turun 0,4% pada Juni.
Secara tahunan, inflasi CPI diperkirakan melambat menjadi 3,4% dari 3,5% pada bulan sebelumnya.
"Semua mata tertuju pada laporan CPI," kata Skye Masters, kepala riset pasar National Australia Bank.
Menurut dia, jika data CPI menunjukkan inflasi tidak berubah, pasar obligasi AS berpotensi menguat karena investor mengurangi ekspektasi terhadap pengetatan kebijakan The Fed.
Imbal Hasil Obligasi Jepang Capai Rekor
Di Jepang, pasar kian memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga lebih cepat.
Kondisi itu memberikan tekanan pada obligasi pemerintah Jepang tenor pendek.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor lima tahun naik menjadi 2,1%, tingkat tertinggi sepanjang sejarah.
Sementara imbal hasil tenor dua tahun menyentuh 1,63%, tingkat tertinggi dalam 31 tahun.
Di pasar valuta asing, indeks dolar AS naik tipis 0,04% menjadi 99,85.
Euro melemah 0,02% menjadi US$1,1538, sedangkan yen Jepang turun 0,03% menjadi 159,31 per dolar AS.
Yen masih berada jauh dari kisaran 155,20 per dolar AS yang diraih pekan lalu seusai muncul dugaan intervensi pasar valas.
Poundsterling Inggris turut terkoreksi tipis 0,01% menjadi US$1,3501.
Pada awal transaksi Eropa, kontrak berjangka Euro Stoxx 50 turun 0,15% menjadi 6.563.
DAX Jerman melemah 0,12% menjadi 26.444, sedangkan FTSE futures turun 0,25% menjadi 10.825.
Sementara itu, kontrak berjangka S&P 500 AS naik tipis 0,03% menjadi 7.750.