Mata Uang Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS Melewati Posisi Rp17.830

Mata Uang Rupiah Melemah (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:01:55 WIB

JAKARTA - Posisi kurs mata uang domestik berakhir menyusut menghadapi dolar Amerika Serikat (AS) dalam penutupan bursa Selasa (11/8/2026), mengakhiri reli kenaikan nilai yang sempat berlangsung empat hari berturut-turut.

Mengutip data pergerakan, mata uang Garuda tergelincir 0,45 persen menuju posisi Rp17.830 per dolar AS.

Padahal pada hari perdagangan sebelumnya, Senin (10/8/2026), nilai tukar dalam negeri berhasil ditutup menguat 0,75 persen ke posisi Rp17.750 per dolar AS.

Beban terhadap nilai tukar domestik sudah terlihat sejak awal dibukanya sesi transaksi.

Mata uang lokal diawali dengan penurunan 0,17 persen di titik Rp17.780 per dolar AS, kemudian bergerak pada kisaran Rp17.770 hingga Rp17.850 per dolar AS sepanjang hari.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang menakar daya tahan greenback atas enam mata uang utama internasional, pada pukul 15.00 WIB tercatat menguat 0,07 persen di level 99,883.

DXY berbalik menguat setelah sempat terkoreksi 0,06 persen pada pagi harinya.

Pergerakan ini melanjutkan peningkatan 0,27 persen yang diukir indeks dolar pada hari transaksi sebelumnya.

Penyusutan mata uang dalam negeri terjadi di tengah sikap para pelaku pasar yang menantikan rilis data inflasi konsumen AS periode Juli pada Rabu (12/8/2026) waktu setempat.

Keterangan tersebut akan menjadi acuan teranyar dalam memproyeksikan arah kebijakan bunga bank sentral AS (The Fed).

Mata uang AS sebelumnya mendapatkan dorongan dari harga komoditas minyak yang merangkak naik lebih dari 4 persen kemarin.

Harga energi tersebut terangkat setelah pihak Iran dan AS saling melontarkan tuntutan ganti rugi, yang memperkecil peluang tercapainya kepastian pembukaan akses Selat Hormuz dalam waktu singkat.

Kenaikan harga minyak dunia kembali memunculkan kekhawatiran atas ancaman inflasi di AS.

Walaupun demikian, batas penguatan bagi greenback tetap tertahan oleh kabar pasar kerja yang melenceng jauh lebih lemah dari estimasi.

Pasar saat ini menghitung potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed pada bulan September sebesar 52 persen, tergerus dari angka 67 persen pada pekan sebelumnya.

Dari kondisi dalam negeri, bank sentral mengumumkan bahwa angka penjualan eceran pada Juni 2026 berhasil tumbuh 0,7 persen secara bulanan sesudah terkontraksi 1,5 persen pada Mei.

Capaian pertumbuhan ini ditopang oleh penjualan barang lainnya, onderdil dan aksesori, serta peralatan rumah tangga, seiring terjaganya konsumsi masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah.

Pelaku pasar juga tetap memperhatikan tahapan suksesi kepemimpinan bank sentral.

Legislatif DPR RI bakal menyusun agenda uji kepatutan dan kelayakan untuk calon tunggal Gubernur bank sentral selepas periode reses parlemen berakhir.

Sosok calon tersebut saat ini mengemban tugas sebagai Pejabat Sementara Pimpinan bank sentral setelah pimpinan sebelumnya memilih mundur dari posisi pada 25 Juli 2026.

Kepastian jadwal proses uji kelayakan tersebut masih menunggu koordinasi internal pimpinan parlemen.

Reporter: Moch Febrianto