Upaya Menjaga Lingkungan Demi Mempertahankan Stabilitas Nilai Rupiah
JAKARTA - Selama bertahun-tahun, masyarakat terbiasa memandang lingkungan serta ekonomi sebagai dua ranah yang tidak saling berhubungan.
Lingkungan erat kaitannya dengan hutan, sungai, pelepasan karbon, serta keanekaragaman hayati.
Sementara ekonomi identik dengan tingkat inflasi, suku bunga, nilai tukar mata uang, investasi, hingga pertumbuhan nasional.
Tampaknya kedua hal tersebut berjalan pada lintasan masing-masing.
Namun, pada era perubahan iklim saat ini, sekat di antara keduanya kian samar.
Masa kemarau panjang yang mengakibatkan gagal panen sanggup mendongkrak harga komoditas pangan.
Bencana banjir yang memotong jalur logistik memicu pembengkakan biaya distribusi.
Kondisi cuaca ekstrem merusak proses produksi energi serta ketersediaan bahan baku.
Permasalahan yang mulanya tampak seperti isu lingkungan perlahan berubah menjadi kendala ekonomi.
Serta sewaktu ekonomi mulai terganggu, stabilitas harga ikut terkena dampaknya.
Pada momen itulah, sektor lingkungan tidak lagi sekadar menjadi urusan para aktivis alam.
Lingkungan menjelma sebagai bagian dari pilar stabilitas ekonomi yang wajib dirawat bersama.
Ketika Alam Menggerakkan Ekonomi
Bayangkan sebuah kediaman yang bagian atapnya mulai bocor.
Saban kali hujan turun, bagian lantainya basah.
Kami dapat terus mengepel lantai saban hari.
Akan tetapi selama atap tersebut tidak diperbaiki, air bakal terus masuk dan pekerjaan itu tidak bakal pernah usai.
Dalam konteks perekonomian, inflasi dapat diumpamakan bagai lantai yang basah.
Bank sentral memiliki bermacam instrumen guna mengendalikan inflasi sekaligus merawat stabilitas moneter.
Akan tetapi bilamana sumber gangguannya berasal dari cuaca ekstrem, gagal panen, atau kerusakan alam yang menyumbat produksi dan distribusi, maka persoalannya tidak cukup dituntaskan dari sisi moneter semata.
Atap yang bocor pun mesti diperbaiki.
Perumpamaan ini menerangkan bahwa merawat stabilitas ekonomi tidak cukup cuma melewati kebijakan moneter.
Ketahanan lingkungan juga menjadi bagian krusial dari langkah menjaga stabilitas tersebut.
Indonesia merupakan negara yang amat menggantungkan diri pada sumber daya alam serta sektor agraris.
Oleh sebab itu, perubahan iklim memiliki dampak yang sangat nyata bagi kehidupan ekonomi.
Fenomena El Niño, contohnya, mendongkrak risiko terganggunya hasil produksi pelbagai komoditas pangan.
Saat produksi merosot sementara permintaan tetap tinggi, harga bahan pangan melambung.
Inflasi kian meningkat.
Daya beli warga tertekan.
Dunia usaha menghadapi lonjakan biaya produksi.
Pada Juli 2026, tingkat inflasi Indonesia tercatat sekitar 2,88 persen (year-on-year), masih berada di dalam kisaran target Bank Indonesia sebesar 1,5–3,5 persen.
Capaian ini memperlihatkan bahwasanya stabilitas harga tetap terjaga di tengah beraneka tantangan global.
Namun di balik angka tersebut terdapat ikhtiar panjang beragam pihak dalam merawat pasokan pangan, mengelola ekspektasi inflasi, hingga memperkuat koordinasi kebijakan.
Angka inflasi bukan sekadar deretan statistik.
Hal itu mencerminkan bagaimana kondisi alam, produksi, distribusi, kebijakan, serta perilaku ekonomi saling berkaitan.
Ketika Risiko Iklim Menjadi Risiko Moneter
Di sinilah peran bank sentral mengalami perkembangan.
Dahulu, tugas bank sentral identik dengan merawat inflasi serta nilai mata uang.
Tugas pokok tersebut tetap sama hingga detik ini.
Akan tetapi tantangan yang dihadapi kian kompleks.
Perubahan iklim menghadirkan ancaman baru yang sanggup memengaruhi stabilitas harga, stabilitas sistem keuangan, bahkan keputusan investasi.
Saat cuaca ekstrem memicu hasil panen merosot, harga pangan melambung.
Saat banjir mengganggu rantai pasokan, biaya produksi ikut membengkak.
Saat transisi menuju energi bersih mengubah struktur industri, sektor keuangan turut menghadapi risiko pembiayaan yang berbeda dibandingkan sebelumnya.
Artinya, perubahan iklim tidak lagi berhenti sebagai isu lingkungan.
Ia telah bertransformasi menjadi bagian dari risiko makroekonomi.
Gara-gara itulah banyak bank sentral di dunia mulai memasukkan risiko iklim ke dalam analisis stabilitas keuangan dan kebijakan makroekonomi.
Bank Indonesia pun mengambil langkah melalui pengembangan pembiayaan berkelanjutan, pendalaman pasar keuangan hijau, serta penguatan koordinasi dengan pemerintah, OJK, industri keuangan, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Bukan karena Bank Indonesia berubah menjadi lembaga lingkungan hidup.
Melainkan karena menjaga stabilitas moneter pada masa kini tidak dapat dilepaskan dari kemampuan ekonomi menghadapi risiko iklim.
Bank sentral memang tidak menanam pohon.
Namun ketika perubahan iklim memicu inflasi, mengganggu rantai pasok, atau meningkatkan risiko sektor keuangan, bank sentral ikut merasakan dampaknya melalui mandat yang diembannya.
Menjaga Lingkungan untuk Masa Depan Ekonomi
Sering kali ekonomi hijau dipahami hanya sebagai upaya mengurangi emisi karbon atau menanam lebih banyak pohon.
Padahal maknanya jauh lebih luas.
Ekonomi hijau adalah membangun sistem ekonomi yang tetap mampu tumbuh tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Artinya, pembangunan tidak lagi hanya mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut efisien dalam menggunakan sumber daya, tahan terhadap berbagai guncangan, dan memberikan manfaat yang berkelanjutan.
Investasi pada energi terbarukan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang rentan terhadap gejolak harga.
Pertanian yang lebih adaptif menjaga pasokan pangan ketika cuaca berubah.
Bangunan hemat energi menekan konsumsi listrik dan biaya operasional.
Transportasi yang lebih efisien memperkuat konektivitas sekaligus mengurangi emisi.
Semua itu terlihat sebagai kebijakan sektoral.
Namun jika dirangkai, semuanya bermuara pada satu tujuan yang sama: menciptakan ekonomi yang lebih tangguh.
Dan ekonomi yang tangguh merupakan fondasi bagi stabilitas moneter.
Pandangan tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang menempatkan pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan sosial sebagai tujuan yang saling melengkapi.
Ekonomi hijau mendukung SDG 13 (Climate Action), memperkuat SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui pertumbuhan yang berkualitas, mendorong SDG 7 (Affordable and Clean Energy) lewat transisi energi, memperkuat SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui inovasi berkelanjutan, serta mendukung SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui pembangunan kota dan bangunan yang lebih efisien.
Dalam kerangka tersebut, Bank Indonesia bukanlah pelaksana seluruh agenda SDGs.
Namun mandatnya menjaga stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, dan kelancaran sistem pembayaran merupakan fondasi penting agar pembangunan berkelanjutan dapat berlangsung dengan baik.
Tanpa stabilitas harga, dunia usaha akan menunda investasi.
Tanpa sistem keuangan yang sehat, pembiayaan proyek hijau menjadi lebih mahal.
Tanpa kepercayaan terhadap perekonomian, transisi menuju ekonomi rendah karbon akan menghadapi hambatan yang jauh lebih besar.
Mungkin selama ini kami terlalu sering memisahkan lingkungan dan ekonomi.
Padahal keduanya saling menopang.
Lingkungan yang sehat menjaga produktivitas pertanian.
Produktivitas yang terjaga membantu mengendalikan inflasi.
Inflasi yang stabil meningkatkan kepastian dunia usaha.
Kepastian mendorong investasi.
Investasi menciptakan lapangan kerja.
Lapangan kerja meningkatkan kesejahteraan.
Dan kesejahteraan yang berkelanjutan merupakan tujuan utama pembangunan.
Di situlah lingkungan, nilai rupiah, dan pembangunan berkelanjutan bertemu.
Bukan karena pohon dapat menguatkan kurs mata uang secara langsung, melainkan karena lingkungan yang lestari membantu menciptakan perekonomian yang lebih stabil, lebih produktif, dan lebih tangguh menghadapi berbagai guncangan.
Pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan hanya tentang melindungi hutan, sungai, atau udara yang kami hirup.
Ia juga tentang menjaga sawah tetap produktif, rantai pasok tetap berjalan, harga tetap stabil, investasi terus tumbuh, dan perekonomian tetap tangguh menghadapi berbagai tantangan.
Karena itu, ketika kami berbicara tentang masa depan rupiah, sesungguhnya kami juga sedang berbicara tentang masa depan lingkungan.
Sebab nilai sebuah mata uang tidak hanya dibangun oleh angka-angka di pasar keuangan, tetapi juga oleh kekuatan fondasi ekonomi yang menopangnya.
Dan salah satu fondasi terpenting itu adalah lingkungan yang kami jaga bersama.