Mata Uang Garuda Melaju Kencang Dolar AS Tertekan Hingga Rp17.750 Baru

Mata Uang Garuda Melaju Kencang Dolar AS Tertekan (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:50:17 WIB

JAKARTA - Angka tukar rupiah mampu menutup sesi perdagangan awal pekan dengan penguatan besar atas dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data dari Sumbernya, saat penutupan perdagangan Senin (10/8/2026), mata uang nasional terangkat 0,75% pada angka Rp17.750/US$.

Peningkatan hari ini sekaligus melestarikan tren menguntungkan rupiah yang berjalan sejak 5 Agustus 2026 atau dalam empat hari transaksi secara beruntun.

Selama perdagangan hari ini, mata uang lokal telah terangkat sejak awal buka. Saat pagi hari, rupiah dibuka terangkat 0,48% menuju angka Rp17.800/US$, kemudian semakin bertenaga hingga akhir perdagangan.

Rupiah bergerak pada rentang Rp17.730-Rp17.825/US$ sepanjang hari transaksi. Tingkat penutupan hari ini juga lebih bertenaga 50 poin ketimbang posisi pembukaan.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur daya saing mata uang AS terhadap enam mata uang utama dunia, pada jam 15.00 WIB teramati terangkat 0,12% menuju posisi 99,656.

Rupiah tetap sanggup terangkat besar meskipun DXY bergerak sedikit di kawasan hijau. Penambahan daya mata uang Garuda kian membesar pada waktu siang setelah Istana mengabarkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI).

Presiden Prabowo Subianto telah melayangkan surat bagi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terkait sosok calon Gubernur BI. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memastikan hanya terdapat satu figur yang disodorkan.

"Namanya tunggal, satu nama, Bu Destry Damayanti," kata Prasetyo kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (10/8/2026).

Destry pada saat ini menjabat sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI usai Perry Warjiyo meletakkan jabatan pada 25 Juli 2026 lantaran alasan pribadi.

Usulan nama tunggal menghadirkan kepastian lebih kuat terkait arah pergantian kepemimpinan BI. Kepastian itu sangat penting bagi pasar lantaran berkaitan atas kesinambungan arah moneter, ketahanan rupiah, serta independensi bank sentral.

Kendati demikian, Destry tetap wajib melewati alur di DPR sebelum diresmikan sebagai Gubernur BI definitif.

Adapun dari sudut eksternal, DXY yang masih berada di sekitar titik terendahnya dalam kurun dua bulan terakhir ikut memberikan sokongan positif untuk rupiah. Dolar AS sempat tertekan pada Jumat minggu lalu setelah laporan pasar kerja periode Juli yang mengindikasikan ekonomi AS secara mendadak kehilangan lapangan kerja, sedangkan data dua bulan sebelumnya direvisi merosot tajam.

Pelemahan sektor tenaga kerja ini mengikis dugaan kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), pada September mendatang. Para pelaku pasar saat ini memprediksi peluang kenaikan suku bunga berada di angka 44%, turun dibanding 67% pada minggu sebelumnya.

Pelaku pasar dunia selanjutnya menantikan data inflasi AS kurun waktu Juli. Hasil laporan tersebut bakal menjadi petunjuk penting terkait arah tindakan The Fed yang sekaligus sanggup menentukan pergerakan dolar AS sampai efeknya terhadap rupiah.

Reporter: Moch Febrianto