Pergerakan Rupiah Terangkat Aksi Destry, Kapan Asing Serbui Pasar?

Pergerakan Rupiah Terangkat Aksi Destry (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:50:16 WIB

JAKARTA - Sektor finansial dalam negeri diakhiri secara bervariasi. Pasar modal ditutup melemah di saat surat utang negara (SBN) serta mata uang rupiah mengalami penguatan di tengah penetapan Pjs Gubernur BI yang menjadi calon tunggal Gubernur BI pilihan presiden Prabowo Subianto.

Kondisi finansial Indonesia diprediksi bakal sedikit bernapas lega kendati harus menghadapi tantangan hari ini terutamanya dari faktor gejolak perang yang belum menemui jalan keluar.

Detail lengkap mengenai perkiraan kondisi bursa hari ini dapat disimak pada bagian ke-3 tulisan ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi di zona merah pada transaksi Senin (10/8/2026), usai sempat menguat pada awal sesi transaksi.

IHSG mengakhiri sesi di angka 6.365,37, terdepresiasi 44,28 poin atau sebesar 0,69% dibandingkan penutupan transaksi sebelumnya.

IHSG sebelumnya sempat melesat hingga mencapai level tertinggi 6.462,74 pada sesi perdagangan kemarin. Namun, indeks berbalik melemah hingga menyentuh batas terendah 6.362,76.

Catatan transaksi menunjukkan sebanyak 306 emiten mengalami kenaikan, adapun 340 emiten terkoreksi dan 317 emiten lainnya bergerak stagnan.

Keseluruhan volume perdagangan menyentuh angka 45,46 miliar saham dengan nilai total transaksi senilai Rp18,19 triliun. Angka frekuensi transaksi berada di kisaran 2,61 juta kali perdagangan.

Dalam perdagangan kemarin, pihak asing tercatat melakukan net foreign inflow senilai Rp 829,69 miliar pada seluruh pasar, tetapi mencatatkan net foreign sell pada pasar reguler senilai Rp 875,51 miliar

Maka dari itu bila dihitung berbasiskan year-to-date, pasar modal mencatatkan net foreign outflow senilai Rp 70,46 triliun pada seluruh bursa dan Rp 95,37 triliun khusus di pasar reguler.

Beralih ke pasar modal AS, bursa saham Wall Street secara bersamaan melemah dalam transaksi perdagangan Senin atau Selasa dini hari WIB.

Indeks S&P 500 meluncur 0,06% menuju 7.753,12 sedangkan indeks Nasdaq terkoreksi 0,32% ke angka 26.605,36 dan indeks Dow Jones melandai 0,11% pada posisi 53.976,04.

Penurunan indeks dipicu pelemahan pada harga saham Intel beserta beberapa korporasi manufaktur chip. Para pelaku pasar semakin pesimis terhadap potensi tercapainya kesepakatan pembukaan kembali jalur Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump mengajukan syarat agar pihak Iran membayarkan ganti rugi atas pihak-pihak yang dikabarkan gugur akibat dampak pertikaian, pertempuran, dan aksi unjuk rasa. Di sisi lain, pihak Iran turut menuntut AS membayar ganti rugi atas kehancuran akibat gempuran pasukan AS dan Israel ke wilayah mereka.

Baca:

Laut Mencekam, 10 Raksasa Pipa Minyak Bawah Laut Ini Pesta Pora

Tingginya ketidakpastian imbas krisis kawasan Timur Tengah ikut memicu kenaikan harga minyak AS sebesar 5% pada posisi US$82,13 per barel. Apabila akses distribusi energi di Selat Hormuz beroperasi kembali, tekanan pada komoditas energi serta laju inflasi berpotensi dapat diredam.

Pada arena teknologi, nilai saham Intel merosot 4,1% usai manajemen merencanakan penggalangan dana sebesar US$15 miliar lewat skema penerbitan saham.

Di sisi lain saham Nvidia tergerus 2,9%, terlepas dari kabar bahwa pihak perusahaan sedang menjalin kerja sama dengan sejumlah konsorsium keuangan guna memproses modal investasi senilai US$500 miliar untuk penyiapan infrastruktur AI.

Para pemodal juga mencermati pengumuman rilis indikator ekonomi AS pekan ini guna membaca arah kebijakan suku bunga The Fed. Data berkala menampakkan entitas bisnis AS secara tak terduga mengurangi 23.000 pos pekerjaan pada Juli, sehingga proyeksi kenaikan suku bunga untuk periode September menjadi berkurang.

Pada saat ini, peta pasar memproyeksikan peluang penaikan suku bunga The Fed untuk periode September ada di angka 52%.Sektor finansial Indonesia pada hari Selasa (11/8/2026) bakal memfokuskan perhatian terhadap dua isu penting, yakni rilis penjualan eceran dalam negeri serta penjualan rumah bekas di Amerika Serikat (AS).

Rangkuman data tersebut bakal menyempurnakan rilis Survei Konsumen Bank Indonesia yang telah dipublikasikan pada hari Senin. Mengenai agenda dari China maupun Jepang, tidak terdapat agenda berdampak besar untuk hari Selasa sehingga fokus pasar terkonsentrasi untuk Indonesia dan AS.

Perkembangan Perang: Kesepakatan Hormuz Makin Sulit, Harga Minyak Terbang

Presiden AS Donald Trump di hari Senin (10/8/2026) merespons syarat damai dari Iran melalui pengajuan syarat baru supaya pihak Teheran menanggung kompensasi atas jatuhnya korban jiwa akibat konflik pertempuran, gempuran, serta gelombang demonstrasi.

Trump menegaskan pihak Iran mesti membayar seluruh kerugian yang timbul sepanjang 50 tahun belakangan, mencakup santunan bagi warga sipil maupun tentara AS yang tewas di wilayah tersebut. Pengajuan syarat anyar ini berisiko memperumit negosiasi pembukaan rute Selat Hormuz.

Sebelumnya, pihak Iran mengajukan ganti rugi, pencabutan blokade sanksi, hingga penghentian ancaman militer dari AS sebagai syarat mengaktifkan kembali terusan penting tersebut.

Trump juga meminta pihak Iran bertanggung jawab terhadap seluruh jatuhnya korban dan kebinasaan di area Lebanon, Suriah, Yaman, hingga Gaza. Pihaknya turut mengajukan tuntutan santunan untuk keluarga 17 tentara angkatan laut AS yang gugur atas insiden kapal USS Cole pada tahun 2000, walau kejadian tersebut dikaitkan kepada pihak Al Qaeda, bukannya Iran.

Baca:

Era Dolar di Afrika Mulai Tamat, Yuan China Jadi Raja Baru

Pemerintah Iran menyampaikan agenda diplomasi bersama Oman terkait pembukaan rute Hormuz mengalami kemajuan positif. Kedua negara disinyalir memfinalisasi peta koridor pelayaran, kendati sejumlah detail teknis masih dalam proses penyelesaian.

Kendati demikian, pihak AS menolak draf kesepakatan yang memberi izin bagi Iran guna menarik tarif terhadap kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

Posisi Selat Hormuz tergolong krusial karena sebelum pecahnya pertikaian, berkisar seperlima arus niaga komoditas minyak dan LNG dunia didistribusikan melalui jalur itu. Aksi penutupan semenjak gejolak perang meletus berimbas pada lonjakan harga minyak beserta tingkat inflasi global.

Trump pada waktu ini berada di bawah desakan politik guna menyelesaikan konflik sebab kenaikan harga bahan bakar menjadi topik vital menjelang ajang pemilu paruh waktu AS pada November mendatang.

Walau pihak AS mengklaim menguasai area Hormuz, militer Iran tetap mampu mengancam kapal niaga serta melancarkan serangan peluru kendali maupun armada drone pada sekutu AS di kawasan itu.

Tingkat harga minyak melonjak berkisar 5% pada sesi perdagangan Senin (10/8/2026) dipicu tingginya keraguan bahwa AS bersama Iran dapat merumuskan kesepakatan guna memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Harga minyak jenis WTI mengakhiri sesi pada angka US$82,13/barel, sedangkan jenis Brent ada di level US$87,72/barel.

Hasil Indeks Keyakinan Konsumen Masih Optimistis Tapi Melemah

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dalam negeri bergerak melandai menuju angka 116,8 untuk periode Juli 2026 jika dibandingkan level 117,8 pada Juni. Angka ini sedikit lebih tinggi dari perkiraan awal yaitu 116, tetapi mencatatkan penurunan beruntun sepanjang tiga bulan sekaligus menjadi yang terendah sejak periode April 2025.

Kendati melemah, capaian IKK terpantau bertahan di atas batas 100 yang bermakna publik masih menyimpan rasa optimis terhadap iklim perekonomian.

Tingkat Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini melandai pada posisi 107,9 dari level 109,2, sementara itu Indeks Ekspektasi Konsumen mengalami penurunan pada level 125,7 dari posisi 126,4. Proyeksi atas pembelanjaan barang tahan lama ikut merosot pada angka 104,1, adapun indeks ketersediaan lapangan kerja bertahan pada angka 101,1.

Baca:

Rupiah Tak Pernah Sepi Drama: dari Zaman Kolonial, Krisis hingga Kini

Publikasi data ini memperlihatkan indikasi yang variatif. Rasa optimisme publik dinilai terjaga, namun penurunan persepsi atas iklim ekonomi, ketersediaan lapangan kerja, dan pembelanjaan barang tahan lama memperlihatkan kondisi daya beli belum bergerak kokoh.

Maka dari itu, publikasi data penjualan eceran pada hari Selasa akan menjadi instrumen pembuktian penting apakah efek penurunan tingkat keyakinan masyarakat mulai berpengaruh terhadap arus transaksi publik.

Penjualan Eceran Indonesia

Hari ini pihak Bank Indonesia bakal mempublikasikan rilis Penjualan Eceran untuk periode Juni 2026. Arus penjualan eceran nasional pada Juni 2026 diproyeksikan tumbuh berkisar 1,8% secara tahunan, menyusul koreksi sebesar 3,9% pada bulan Mei.

Capaian penurunan pada Mei tercatat sebagai koreksi selama dua bulan berturut-turut sekaligus posisi paling rendah semenjak Mei 2023. Koreksi terjadi pada kelompok penjualan makanan, minuman serta tembakau, lini pakaian, perabot rumah tangga, hingga unit perangkat informasi dan komunikasi.

Mengenai periode Juni, perkiraan Indeks Penjualan Riil diproyeksikan berada pada angka 221,6. Berdasarkan acuan bulanan, transaksi penjualan diperkirakan terkoreksi 0,8%, meski tercatat melandai jika dibandingkan koreksi 1,5% pada bulan Mei.

Seandainya laju pertumbuhan tahunan mampu berbalik positif, para pelaku pasar bakal menilai konsumsi publik mulai berangsur pulih. Dinamika tersebut berpotensi memberi sentimen segar terhadap emiten ritel, sektor barang konsumsi, industri perbankan, dan perusahaan yang menggantungkan pendapatan pada belanja domestik.

Malahan sebaliknya, berlanjutnya koreksi bakal mempertegas kekhawatiran bahwa beban biaya hidup serta kenaikan harga barang mulai menahan pengeluaran domestik.

Asing Mulai Masuk ke Pasar Saham Meski Terbatas

Pasca mengalami gelombang net sell yang begitu lama, deretan investor asing terpantau mulai masuk pada bursa saham nasional walau secara terbatas.

Dalam transaksi Senin kemarin, tercatat investor asing membukukan net foreign inflow senilai Rp 829,69 miliar di seluruh pasar, kendati mencatatkan net foreign sell di pasar reguler senilai Rp 875,51 miliar.

Berdasarkan 141 hari sesi perdagangan sejak 2 Januari, pihak asing masih membukukan net sell sepanjang 93 hari dan baru mencetak net buy dalam 48 hari. Berdasar hal itu, satu periode aksi beli besar belum mampu membalikkan arah tren distribusi sepanjang tahun.

Oleh sebab itu apabila data dikumpulkan secara year-to-date, area bursa saham mencatatkan net foreign outflow senilai Rp 70,46 triliun pada seluruh bursa dan Rp 95,37 triliun di bursa reguler.

Bursa saham nasional sebelumnya sempat membukukan net buy amat masif pada Jumat pekan lalu yaitu sebesar Rp1,24 triliun di pasar secara keseluruhan sementara di pasar reguler mencatatkan net inflow senilai Rp 917,23 miliar.

Pergerakan masuknya investor asing ini menjadi kabar baik usai pihak asing melakukan aksi lepas saham secara masif pada rentang Mei-Juli 2026. Namun demikian, aliran dana asing ini kondisinya masih amat terbatas.

Penjualan Rumah AS

Dilihat dari iklim luar negeri, para pelaku pasar akan mencermati publikasi penjualan rumah bekas AS pada periode Juli. Sektor penjualan diproyeksikan menurun pada kisaran 4 juta unit per tahun dari capaian 4,09 juta unit pada Juni.

Di bulan Juni, arus penjualan terkoreksi 2,4% secara bulanan. Ketersediaan unit rumah ada pada angka 1,56 juta unit atau setara pemenuhan kebutuhan selama 4,6 bulan, di mana nilai harga median terangkat 1,8% secara tahunan ke angka US$440.600.

Sektor industri properti AS pada saat ini masih menghadapi ganjalan dari tingginya Suku Bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Rata-rata biaya bunga hipotek tetap tenor 30 tahun di bulan Juni berada pada kisaran 6,49%.

Pencapaian angka yang lebih tinggi dapat mengindikasikan sektor ekonomi AS masih berdaya tahan menanggulangi dampak suku bunga tinggi. Di sisi lain, hal ini berpeluang memicu penguatan yield obligasi pemerintah AS serta nilai dolar, sehingga berpotensi menekan pergerakan rupiah beserta pasar modal di kawasan negara berkembang.

Di sisi lain, publikasi angka yang lebih rendah dapat memperbesar peluang pelonggaran arah kebijakan The Federal Reserve. Dampaknya berpotensi positif untuk instrumen aset berisiko sepanjang penurunannya tidak bergerak terlampau curam.

Destry Damayanti Jadi Calon Tunggal Gubernur BI

Kabar dari ranah domestik berikutnya bersumber dari penunjukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia. Destry saat ini mengemban amanat sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI usai Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya.

Kepastian terkait sosok calon Gubernur BI ini berhasil meredam dinamika ketidakpastian bursa mengenai proses pergantian kepemimpinan bank sentral. Para investor selanjutnya bakal mengawal jalannya proses persetujuan di DPR serta memperhatikan gagasan Destry terkait suku bunga, kestabilan rupiah, laju inflasi, hingga pertumbuhan ekonomi.

Baca:

Bos Freeport Blak-blakan Alasan Sudah Ajukan Perpanjangan IUPK

Pergerakan rupiah memberikan respons positif lewat penguatan 0,81% menuju level Rp17.740/US$ pada perdagangan Senin pukul 13.33 WIB. Capaian tersebut lebih kokoh ketimbang posisi pembukaan Rp17.800/US$ sekaligus meneruskan tren penguatan dalam tiga sesi perdagangan berturut-turut.

Apabila rentetan proses transisi berjalan tanpa hambatan dan kesinambungan arah kebijakan BI dapat terjaga, sentimen terhadap rupiah serta aset finansial dalam negeri berpotensi bertahan positif. Pihak bursa secara khusus memerlukan kepastian bahwa stabilitas nilai tukar serta kredibilitas kebijakan moneter tetap diposisikan sebagai skala prioritas.

Indonesia Resmi Meluncurkan ETF Emas

Pemerintah Indonesia secara resmi merilis produk Exchange Traded Fund (ETF) Emas yang bertepatan pada gelaran peringatan HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia pada hari Senin (10/8/2026).

Skema ETF Emas ini memanfaatkan komoditas emas fisik sebagai aset dasarnya. Bukti kepemilikan bakal dicatat secara sistem elektronik melalui skema Electronic Gold Receipt sebelum unit instrumen ETF dapat ditransaksikan pada Bursa Efek Indonesia.

Kondisi sentimen positif kian bertambah setelah pihak Direktorat Jenderal Pajak menegaskan bahwa ETF Emas secara ketentuan teknis dapat diperlakukan serupa dengan surat berharga. Berdasarkan skema ini, instrumen ETF Emas mempunyai peluang untuk dibebaskan dari pengenaan PPh Pasal 22 serta Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Keputusan mengenai aspek pajak dari pihak DJP dinyatakan sudah final, namun proses penerapannya masih membutuhkan koordinasi berkelanjutan dengan Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal serta persetujuan resmi Menteri Keuangan.

Kebijakan pembebasan pajak ini berpotensi membuat instrumen ETF Emas menjadi makin efisien sekaligus menarik minat investor. Produk finansial ini sanggup memberikan paparan terhadap pergerakan harga emas tanpa mengharuskan pihak investor membeli maupun menyimpan emas fisik secara langsung.

Peluncuran ETF Emas di saat bersamaan memperluas opsi investasi dan memperkuat keterkaitan antara sektor pasar modal dengan ekosistem bullion nasional. Meski begitu, para pelaku pasar masih bakal mencermati kepastian regulasi pajak, tingkat likuiditas perdagangan, serta besarnya minat investor terhadap produk investasi ini.

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

Kegiatan Desk Ketenagakerjaan Polri terkait Penanganan Perkara Dugaan Tindak Pidana Serikat Pekerja di PT. The Magnum Ice Cream Indonesia yang akan dilaksanakan di Lobby Utama Bareskrim Polri, Jakarta Selatan

Konferensi Pers Penindakan Rokok Ilegal KPU Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok di TPS Multi Terminal Indonesia (CDC Banda), Jakarta Utara

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan menyelenggarakan UMKM Finance Summit 2026 dengan tema "Penguatan Akses Pembiayaan dan Ekosistem UMKM melalui Sinergi Kebijakan Antar Pemangku Kepentingan untuk Mewujudkan Ketahanan Ekonomi Nasional" bertempat di Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Ketua Komisi XI DPR dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian

Konferensi Pers Garuda Indonesia X InJourney dalam menginisiasi program peningkatan Inbound Connectivity di InJourney Office, Gedung Sarinah, Jakarta Pusat

Grab Indonesia akan meresmikan "Peluncuran GrabAcademy: Peluang Tanpa Batas untuk Mitra Naik Kelas di Padepokan Pencak Silat Taman Mini, Jakarta Timur

Peluncuran Digitalisasi Akta Kelahiran Bayi Baru Lahir di Puskesmas Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Turut hadir Menteri Kesehatan.

Penjualan Eceran Indonesia Juni 2026

Pertumbuhan PDB Singapura Q2 2026

Penjualan Ritel Turki Juni 2026

Inflasi Brazil Juli 2026

Penjualan Rumah AS Juli 2026

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

Tanggal DPS Dividen Tunai Interim Selamat Sempurna Tbk (SMSM)

Tanggal Cum Dividen Tunai Interim PT Eastparc Hotel Tbk (EAST)

Tanggal Ex Dividen Tunai Interim Samudera Indonesia Tbk (SMDR)

Tanggal Ex Dividen Tunai PT Nusa Palapa Gemilang Tbk (NPGF)

Laporan Pembelian Kembali Saham (Buyback) (ISSP)

Tanggal Cum Dividen Tunai Sumi Indo Kabel Tbk (IKBI)

Hasil RUPS Luar Biasa Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI)

Tanggal DPS Dividen Tunai PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI)

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan dari Sumbernya. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

Reporter: Moch Febrianto