Pertumbuhan Kredit BNI Mencapai Rp968,5 Triliun, PPOP Cetak Rekor Baru

Pertumbuhan Kredit BNI Mencapai Rp968,5 Triliun (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:50:14 WIB

JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI merealisasikan peningkatan kredit sebesar 24,4 persen secara tahunan hingga mencapai Rp968,5 triliun sampai akhir Juni 2026.

Langkah ekspansi tersebut beriringan dengan perbaikan mutu aset serta penguatan simpanan dana murah.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menyatakan pihak perseroan tetap cermat menyalurkan kredit pada sektor dan ekosistem yang mempunyai prospek pertumbuhan yang baik.

"Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen," kata Putrama dalam keterangan resmi dari Sumbernya, Senin (10/8/2026).

Penyaluran kredit BNI terdistribusi ke berbagai bidang, mulai dari korporasi, skala menengah, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga sektor konsumer.

Langkah penyaluran pembiayaan tersebut dijalankan dengan memperhitungkan potensi industri serta profil risiko calon debitur.

Di kala penyaluran kredit tumbuh pesat, komposisi pendanaan BNI juga kian kokoh.

Perolehan dana murah atau current account saving account (CASA) meningkat 11,2 persen secara tahunan dengan tingkat rasio CASA berada di posisi 65,4 persen.

Peningkatan dana murah ini berhasil menekan biaya dana pihak ketiga atau cost of fund menjadi 2,56 persen pada semester I 2026, dibandingkan 2,78 persen di masa yang sama tahun lalu.

Pada lini pendapatan, net interest income (NII) terangkat 14,2 persen menjadi Rp22,3 triliun.

Penerimaan fee-based income (FBI) turut merangkak naik 14,2 persen menjadi Rp9 triliun.

Pencapaian performa ini mengantarkan pre-provision operating profit (PPOP) BNI menembus Rp18,5 triliun.

Hasil tersebut menjadi pencapaian tertinggi dalam sejarah BNI untuk kurun waktu semester pertama.

Di sisi lain, perolehan laba bersih tercatat sebesar Rp10,8 triliun.

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengungkapkan bahwa diversifikasi pendapatan perseroan kian bervariasi dan tak cuma bergantung pada penyaluran kredit semata.

"Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi," ujar Paolo.

Kualitas Aset Ikut Membaik

Laju pertumbuhan pembiayaan juga beriringan dengan makin membaiknya mutu aset.

Sampai akhir Juni 2026, tingkat rasio loan at risk (LAR) mengalami penurunan ke angka 8,1 persen dari posisi 11 persen.

Tingkat rasio non-performing loan (NPL) berada pada posisi 1,9 persen.

Direktur Risk Management BNI David Pirzada berpandangan bahwa mutu aset tersebut ditopang oleh kedisiplinan pengelolaan risiko mulai dari penetapan sektor prioritas, pemetaan kelayakan debitur, hingga pengawasan setelah pembiayaan disalurkan.

BNI turut memperkuat sistem peringatan dini demi mendeteksi pergeseran profil risiko secara lebih sigap.

Inovasi transformasi digital juga turut menjadi penunjang kinerja perusahaan.

Jumlah pemakai wondr by BNI mencapai 15,1 juta sampai penghujung Juni 2026 dengan volume transaksi tumbuh 110 persen secara tahunan.

Pada sektor wholesale, pemakai BNIdirect mencatatkan angka 280 ribu.

Adapun volume transaksinya naik 17 persen mencapai Rp6.039 triliun.

Melangkah ke semester II 2026, BNI akan meneruskan langkah penguatan dana, menjaga pertumbuhan pembiayaan yang sehat dan terdiversifikasi, sekaligus menguatkan transformasi digital serta manajemen risiko.

Perseroan turut mengoperasikan program Branch, Region & Area Value Empowerment (BRAVE) di seluruh area operasional guna memperkuat peran kantor cabang sebagai pusat penjualan sekaligus memaksimalkan potensi ekonomi di daerah.

Reporter: Moch Febrianto