Proyeksi Kurs Rupiah Menguat Usai Data NFP AS Melemah pada Pekan Depan

Proyeksi Kurs Rupiah Menguat Usai Data NFP AS Melemah (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Senin, 10 Agustus 2026 | 13:10:46 WIB

JAKARTA - Nilai tukar rupiah pasar spot diakhiri menguat pada transaksi Jumat (7/8/2026) menuju posisi Rp 17.897 per dolar Amerika Serikat (AS).

Selama sepekan, rupiah menanjak dari level Rp 18.022 per dolar AS pada Jumat (31/7/2026).

Rupiah memiliki kans meneruskan tren penguatan pada pekan mendatang usai data bursa tenaga kerja AS memperlihatkan pelemahan.

Suatu data yang menyedot perhatian pasar yakni nonfarm payrolls (NFP) yang bisa memengaruhi estimasi atas arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) serta pergerakan dolar AS.

Analis Komoditas sekaligus Pendiri dari Sumbernya, Wahyu Laksono menuturkan pasar tenaga kerja AS menjadi salah satu parameter yang mesti dicermati guna memantau pergerakan dolar AS.

“Data NFP AS, data pasar tenaga kerja AS sebulan sebelumnya sangat menentukan kebijakan Fed,” ujar Wahyu.

Berdasarkan data dari Sumbernya, NFP AS kurun Juli 2026 terekam minus 23.000, sementara pada Juni 2026, NFP AS masih membukukan pertumbuhan 57.000.

Capaian tersebut menandakan keadaan pasar tenaga kerja AS lebih lesu dari proyeksi.

Kelesuan bursa tenaga kerja sanggup meredam tekanan atas dolar AS lantaran mendongkrak peluang pelaku pasar untuk mengantisipasi ruang pelonggaran kebijakan The Fed.

Keadaan tersebut berpeluang menjadi sentimen positif buat rupiah.

Sebabnya, sewaktu tekanan atas dolar AS menyusut, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mempunyai ruang guna menguat.

Sebelum data NFP dipublikasikan, Wahyu menaksir kondisi bursa tenaga kerja AS masih tergolong solid.

Ia turut menilai NFP berpeluang menghadirkan sentimen positif buat dolar AS dalam tempo pendek.

Akan tetapi, hasil riil NFP Juli malah menampilkan pelemahan yang lebih dalam ketimbang perkiraan.

Dinamika tersebut mampu merubah ekspektasi pasar mengenai arah kebijakan The Fed dan menjadi perhatian bagi pergerakan dolar AS pada pekan depan.

Di samping itu, Wahyu memandang tekanan atas rupiah dari faktor eksternal kian mereda.

Penurunan dolar AS, merosotnya harga minyak dunia, serta meredanya tensi geopolitik Iran menjadi jajaran sentimen yang ikut menopang rupiah.

Berbekal aneka sentimen itu, Wahyu memperkirakan rupiah bergulir pada kisaran Rp 17.650–Rp 18.100 per dolar AS pada pekan depan, dengan wilayah konsolidasi di kisaran Rp 17.800 per dolar AS.

Bagi perdagangan Senin (10/8), rupiah ditaksir berada di rentang Rp 17.800–Rp 18.000 per dolar AS.

Reporter: Moch Febrianto