Prediksi Kurs Rupiah Berpeluang Menguat Usai Data NFP AS Melemah Nanti
JAKARTA - Nilai tukar rupiah spot ditutup naik pada sesi perdagangan Jumat (7/8/2026) ke angka Rp 17.897 per dolar Amerika Serikat (AS).
Dalam sepekan terakhir, rupiah menguat ketimbang posisi Rp 18.022 per dolar AS pada Jumat (31/7/2026).
Rupiah berpeluang melanjutkan tren kenaikan pada pekan depan seusai data pasar tenaga kerja AS mengindikasikan pelemahan.
Salah satu indikator yang menjadi fokus pasar ialah nonfarm payrolls (NFP) yang dapat memengaruhi ekspektasi mengenai arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) dan pergerakan dolar AS.
Analis Komoditas sekaligus Founder dari Sumbernya, Wahyu Laksono menyatakan pasar tenaga kerja AS menjadi satu di antara indikator yang wajib dipantau dalam melihat pergerakan dolar AS.
“Data NFP AS, data pasar tenaga kerja AS sebulan sebelumnya sangat menentukan kebijakan Fed,” ujar Wahyu.
Berdasarkan data dari Sumbernya, NFP AS periode Juli 2026 tercatat minus 23.000, sedangkan pada Juni 2026, NFP AS masih mencatatkan pertumbuhan 57.000.
Hasil tersebut memperlihatkan kondisi pasar tenaga kerja AS tampak lebih lemah dibandingkan perkiraan.
Pelemahan sektor tenaga kerja dapat menekan keperkasaan dolar AS sebab membuka peluang pasar untuk mengantisipasi ruang pelonggaran kebijakan The Fed.
Situasi ini berpotensi menjadi dorongan positif bagi mata uang rupiah.
Alasannya, saat tekanan terhadap dolar AS mereda, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, memperoleh ruang untuk menguat.
Sebelum data NFP dirilis, Wahyu memperkirakan kondisi pasar tenaga kerja AS masih relatif kuat.
Ia juga menganggap NFP berpotensi memberi sentimen positif terhadap dolar AS dalam jangka pendek.
Namun demikian, angka riil NFP Juli justru menunjukkan penurunan yang lebih dalam dari perkiraan.
Perkembangan ini dapat menggeser ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed sekaligus menjadi perhatian bagi pergerakan dolar AS pekan depan.
Di sisi lain, Wahyu menilai tekanan pada rupiah yang berasal dari faktor eksternal mulai berkurang.
Koreksi dolar AS, penurunan harga minyak dunia, serta meredanya ketegangan geopolitik Iran menjadi sejumlah faktor yang turut menyokong rupiah.
Dengan beragam sentimen tersebut, Wahyu memproyeksikan pergerakan rupiah berada di kisaran Rp 17.650–Rp 18.100 per dolar AS pekan depan, dengan rentang konsolidasi di sekitar Rp 17.800 per dolar AS.
Untuk transaksi perdagangan Senin (10/8), rupiah diperkirakan bergerak pada rentang Rp 17.800–Rp 18.000 per dolar AS.