Pencapaian Fundamental BNI Terus Tumbuh Kuat Berada Di Bawah Danantara

Pencapaian Fundamental BNI Terus Tumbuh Kuat (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Senin, 10 Agustus 2026 | 13:10:45 WIB

JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI merekapitulasi rekam jejak fundamental yang mantap hingga semester I 2026, di tengah tekanan likuiditas sektor perbankan dan geopolitik serta ekonomi global yang dinamis Ekspansi kredit yang sehat dan terdistribusi dengan baik, struktur pendanaan yang tangguh, kualitas aset yang terkelola, serta transformasi bisnis yang konsisten menjadi pijakan BNI dalam menghasilkan pertumbuhan yang berkualitas dan nilai jangka panjang bagi seluruh pihak berkepentingan.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengungkapkan, pihak perseroan terus memperkokoh fundamental bisnis melalui strategi ekspansi yang berorientasi pada kualitas, penajaman bisnis inti, serta transformasi organisasi dan digital secara berkelanjutan.

"Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen," ujar Putrama dalam keterangannya, Senin (10/8/2026).

Menurut Putrama, arah pengembangan bisnis tersebut sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia yang menitikberatkan pada penguatan fundamental perusahaan, penerapan tata kelola yang profesional, serta penciptaan nilai secara berkelanjutan.

Transformasi Digital dan Implementasi BRAVE Perkuat Produktivitas Bisnis Transformasi digital dan penguatan jaringan menjadi salah satu pendorong utama peningkatan produktivitas dan pertumbuhan bisnis BNI.

Hingga akhir Juni 2026, total pemakai wondr by BNI menembus 15,1 juta, dengan volume transaksi melonjak 110 persen secara tahunan.

Sementara pada segmen wholesale, total pemakai BNIdirect menembus 280 ribu, dengan volume transaksi melonjak 17 persen secara tahunan menjadi Rp6.039 triliun.

Peningkatan tersebut memperlihatkan kian meluasnya pemanfaatan sarana digital BNI oleh nasabah perorangan maupun korporasi.

Baca juga : MEWASPADAI: Ketahanan Tata Kelola Pemerintahan Daerah Di Tengah Gejolak Geopolitik Global

Dari sisi jaringan, eksekusi BRAVE atau Branch, Region & Area Value Empowerment saat ini telah diterapkan di seluruh area operasional BNI.

Skema tersebut memperkuat peran kantor cabang sebagai pusat penjualan, meningkatkan produktivitas jaringan, serta mengoptimalkan potensi bisnis di tiap-tiap wilayah.

Putrama memaparkan, transformasi digital dan eksekusi BRAVE merupakan bagian dari strategi jangka panjang BNI untuk membentuk organisasi yang kian lincah, memperkuat kapabilitas bisnis, serta menyajikan layanan yang relevan dengan kebutuhan nasabah.

"Melalui BRAVE, setiap wilayah dan kantor cabang memiliki peran yang semakin kuat dalam menggali potensi ekonomi lokal serta membangun ekosistem bisnis. Integrasi antara kapabilitas jaringan dan solusi digital diharapkan dapat mempercepat akuisisi, memperluas transaksi, dan meningkatkan kualitas hubungan dengan nasabah," ujar Putrama.

Dengan penguatan strategi bisnis, transformasi organisasi, dan digitalisasi yang dijalankan secara konsisten, BNI optimis mampu terus mendongkrak daya saing sekaligus menghadirkan nilai jangka panjang bagi para pihak berkepentingan.

Kredit Tumbuh Berkualitas dan Seimbang, Ditopang Pendanaan yang Kuat

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menyebutkan, hingga akhir Juni 2026, kredit BNI melaju 24,4% secara tahunan menjadi Rp968,5 triliun. Peningkatan tersebut didorong oleh portofolio pembiayaan yang semakin terbagi rata pada pelbagai sektor ekonomi dan segmen bisnis utama, mulai dari korporasi, menengah, UMKM hingga konsumer.

Ekspansi kredit dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan prospek industri serta profil risiko masing-masing debitur demi menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas portofolio.

Taktik intermediasi tersebut berjalan selaras dengan penguatan struktur pendanaan. Di tengah persaingan likuiditas yang masih ketat, CASA BNI tumbuh 11,2 persen secara tahunan sehingga mampu mempertahankan rasio CASA pada level 65,4 persen.

Baca juga : Pancasila Dalam Urgensi Karakter Administrasi Tata Kelola Pemerintahan Hubungan Antar Lembaga

Capaian ini mendukung efisiensi biaya dana. Cost of fund dana pihak ketiga membaik menjadi 2,56 persen, dibandingkan dengan 2,78 persen pada kurun waktu yang sama tahun sebelumnya.

Struktur pendanaan yang tangguh menjadi modal penting bagi BNI untuk memelihara daya saing sekaligus menopang pertumbuhan kredit secara berkelanjutan.

Penguatan fundamental bisnis BNI juga terefleksi pada peningkatan perolehan utama Perseroan. Hingga semester I 2026, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) naik 14,2 persen secara tahunan menjadi Rp22,3 triliun.

Pada kurun waktu yang sama, pendapatan berbasis komisi atau fee-based income (FBI) terangkat 14,2 persen menjadi Rp9 triliun.

Peningkatan yang solid dan seimbang dari kedua sumber perolehan tersebut menyorong laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) menyentuh Rp18,5 triliun, tertinggi sepanjang rentang sejarah BNI untuk periode semester awal.

Sementara itu, perolehan laba bersih perseroan tercatat mencapai Rp10,8 triliun. Paolo menyebutkan, penguatan profitabilitas menandakan kontribusi bisnis inti BNI yang kian solid dan berimbang.

"Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi," ujar Paolo.

Kualitas Aset Terjaga Didukung Manajemen Risiko yang Prudent

Seiring dengan pertumbuhan bisnis, kualitas aset BNI terus memperlihatkan daya tahan yang baik.

Baca juga : Indonesia Membutuhkan Stabilitas Ekonomi, Politik, Hukum, Dan Ketahanan Nasional Untuk Indonesia Raya

Hingga akhir Juni 2026, rasio kredit bermasalah atau loan at risk (LAR) membaik dari 11,0 persen menjadi 8,1 persen, sementara rasio non performing loan (NPL) berada pada level 1,9 persen.

Pihak perseroan juga mempertahankan kebijakan pencadangan yang konservatif sebagai bagian dari disiplin manajemen risiko. Kebijakan tersebut memperkuat ketahanan neraca sekaligus melapangkan ruang bagi BNI untuk melanjutkan ekspansi bisnis secara sehat dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Direktur Risk Management BNI David Pirzada mengungkapkan, kualitas aset yang terkelola merupakan hasil eksekusi manajemen risiko secara disiplin dan konsisten pada seluruh tahapan proses bisnis perseroan.

"Pengelolaan risiko dilakukan sejak tahap penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit. BNI juga terus memperkuat sistem peringatan dini agar setiap perubahan profil risiko dapat diidentifikasi dan ditangani secara lebih cepat," ujar David.

Dengan kualitas aset yang sehat dan pencadangan yang cukup, BNI memiliki dasar kuat untuk menjaga stabilitas bisnis di tengah dinamika perekonomian sekaligus mendukung ekspansi secara berkelanjutan.

Memasuki paruh kedua 2026, BNI akan memperkokoh struktur pendanaan, menjaga pertumbuhan kredit yang berkualitas dan terdistribusi, serta mempertahankan kualitas aset melalui pengelolaan risiko dan pencadangan yang disiplin.

BNI juga akan melanjutkan transformasi BRAVE dan digital guna mendongkrak produktivitas, memperkuat fundamental bisnis, serta menciptakan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan, sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia.

Reporter: Moch Febrianto