Semarak HUT RI ke-81 di Sebatik Melalui Agenda Bazar Cinta Rupiah Murid

Semarak HUT RI ke-81 (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Sabtu, 08 Agustus 2026 | 13:45:04 WIB

NUNUKAN - Gairah menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung amat berkesan di kawasan perbatasan RI–Malaysia.

Yayasan Muslih Center Kalimantan Utara lewat PAUD Islam Al-Hiro dan SD Islam Al-Hiro menyelenggarakan Bazar Cinta Rupiah pada Kamis (6/8), dimulai pukul 08.00 WITA hingga selesai, berlokasi di Teras Masjid Islahul Ummah, Desa Sungai Nyamuk, Kecamatan Sebatik Timur, Kabupaten Nunukan.

Ajang yang menjadi bagian dari rangkaian Semarak Kemerdekaan Republik Indonesia ini menyajikan konsep pembelajaran yang unik.

Sekitar 50 stand bazar dikelola secara langsung oleh murid-murid PAUD dan SD Islam Al-Hiro dengan bantuan para guru serta orang tua.

Bermacam ragam produk lokal dipasarkan, mulai dari kuliner tradisional, aneka camilan, minuman, barang kenang-kenangan, hingga hasil olahan lainnya.

Seluruh proses transaksi selama ajang tersebut wajib memakai mata uang Rupiah sebagai bukti penerapan nyata Gerakan Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah.

Pembukaan acara dilakukan oleh Ketua Yayasan Muslih Center Kalimantan Utara, Dr. Wahyudi, bersama Pemerintah Kecamatan Sebatik Timur lewat Kasi Pemerintahan Kecamatan Sebatik Timur, M. Alatas, yang datang mewakili Camat Sebatik Timur.

Turut hadir pula perwakilan dari Pemerintah Desa Sungai Nyamuk, Bhabinkamtibmas Desa Sungai Nyamuk, seluruh orang tua peserta didik, masyarakat sekitar Masjid Islahul Ummah, khususnya warga dari empat RT di sekitar lokasi acara, hingga warga Sebatik yang memenuhi arena bazar.

Dalam penyampaiannya, Wahyudi menegaskan bahwa Bazar Cinta Rupiah bukanlah sebatas kegiatan seremoni guna memeriahkan Hari Kemerdekaan, tetapi sebuah proses pendidikan karakter yang dirancang supaya anak-anak merasakan langsung nilai kebangsaan lewat pengalaman hidup sehari-hari.

"Kegiatan ini bukan sekadar simbol, jargon, atau seremoni cinta Rupiah dan cinta tanah air. Yang kami bangun adalah praktik nyata melalui pembiasaan (habituasi) kepada Generasi Alpha pada masa emas pertumbuhannya. Anak-anak belajar berdagang dengan jujur, melayani pembeli, menghitung uang, berkomunikasi, bekerja sama, mencintai produk Indonesia, sekaligus membiasakan menggunakan Rupiah dalam setiap transaksi. Di sinilah karakter, jiwa wirausaha, dan rasa cinta tanah air dibentuk sejak usia dini," ujar Wahyudi.

Menurutnya, cara pendekatan seperti ini sangat relevan diterapkan pada Pulau Sebatik yang bertetangga langsung dengan Malaysia.

Dalam rutinitas harian, warga masyarakat tidak bisa dipisahkan dari aktivitas ekonomi lintas batas yang identik dengan pemakaian mata uang Ringgit Malaysia serta banyaknya barang dari negara tetangga.

Oleh karena itu, pengajaran karakter kebangsaan mesti diawali sejak usia dini agar rasa cinta kepada Indonesia dapat tumbuh secara alami lewat pengalaman nyata.

Wahyudi memaparkan bahwa kegiatan ini juga merupakan penerapan dari hasil penelitian tingkat doktoralnya yang mengkaji penanaman nilai cinta tanah air bagi masyarakat kawasan perbatasan.

Menurutnya, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa rasa nasionalisme tidak cukup ditanamkan lewat ceramah, slogan, ataupun seremoni, melainkan harus diwujudkan lewat pembiasaan secara terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari.

"Disertasi doktoral saya berbicara tentang bagaimana menanamkan cinta tanah air kepada masyarakat perbatasan. Salah satu kesimpulannya adalah nasionalisme akan lebih kuat apabila dibangun melalui pengalaman nyata. Karena itu, Yayasan Muslih Center Kaltara menghadirkan Bazar Cinta Rupiah sebagai ruang belajar bagi anak-anak untuk mencintai Indonesia melalui tindakan sederhana, seperti bangga menggunakan Rupiah, mencintai produk Indonesia, melayani pembeli dengan jujur, dan belajar mandiri melalui kewirausahaan sejak usia dini," jelasnya.

Di sisi lain, mewakili Camat Sebatik Timur, M. Alatas, memberikan apresiasi sekaligus dukungan penuh atas penyelenggaraan Bazar Cinta Rupiah tersebut.

Menurutnya, agenda ini merupakan sebuah inovasi edukasi yang sanggup menggabungkan pendidikan karakter, kemampuan literasi keuangan, jiwa kewirausahaan, serta nasionalisme ke dalam satu kegiatan yang menyenangkan dan dekat dengan aktivitas anak-anak.

Selama bazar berlangsung, para siswa terlihat sangat antusias menawarkan dagangan, melayani para pembeli, menerima pembayaran dengan Rupiah, memberikan uang kembalian, serta belajar menjalin interaksi bersama masyarakat.

Para orang tua dan masyarakat sekitar juga ikut memenuhi tempat acara dengan membeli aneka produk yang dijajakan anak-anak sebagai bentuk dukungan bagi proses pembelajaran mereka.

Yayasan Muslih Center Kalimantan Utara sendiri mengelola lembaga pendidikan formal dan nonformal, yakni PAUD Islam Al-Hiro, SD Islam Al-Hiro, serta TPQ Al-Hiro.

Lewat beragam program inovatif, pihak yayasan berkomitmen menyajikan pendidikan yang tidak sekadar unggul dalam bidang akademik, tetapi juga membentuk kepribadian Islami, jiwa kepemimpinan, semangat kewirausahaan, kepedulian sosial, dan rasa nasionalisme yang tangguh.

Bazar Cinta Rupiah menjadi bukti bahwa penanaman karakter dapat diwujudkan melalui aktivitas sederhana yang memiliki dampak besar.

Dari teras Masjid Islahul Ummah di wilayah paling depan Negara Kesatuan Republik Indonesia, anak-anak belajar bahwa mencintai bangsa tidak cukup hanya terucap, melainkan harus dipraktikkan lewat tindakan nyata: bangga menggunakan Rupiah, mencintai produk dalam negeri, berani berwirausaha, serta tumbuh menjadi generasi yang mandiri.

Melalui kegiatan ini, Yayasan Muslih Center Kalimantan Utara berharap dapat mencetak generasi perbatasan yang selalu teguh mencintai Indonesia, bangga memakai Rupiah, menghargai produk dalam negeri, serta siap menjadi generasi penerus yang sanggup menjaga identitas kebangsaan di tengah dinamika wilayah perbatasan RI–Malaysia.

Reporter: Moch Febrianto