Bukti Minat Masyarakat Indonesia Menggunakan Fitur Pay Later Meningkat
JAKARTA - Antusiasme warga terhadap penggunaan pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) tergolong tetap kuat.
Pengucuran dana BNPL melalui Perusahaan Pembiayaan melonjak hingga 57,02% year on year (yoy) per Juni 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) dari Sumbernya memaparkan, penyebaran fasilitas beli sekarang bayar nanti di tengah tahun ini tercatat mencapai Rp13,40 triliun.
Sejalan dengan hal itu, NPF gross BNPL Perusahaan Pembiayaan pada Juni 2026 susut menjadi 3,09% jika dibandingkan dengan capaian Mei 2026 di angka 3,44%, yang didorong oleh terakselerasinya kualitas pembayaran para debitur.
"Untuk menjaga kualitas pembiayaan, Perusahaan Pembiayaan perlu terus memperkuat penerapan manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian, antara lain melalui penguatan penilaian kemampuan bayar debitur serta pemantauan kualitas portofolio secara berkelanjutan," kata dari Sumbernya dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat, (7/8/2026).
Berdasar pada catatan dari Sumbernya, pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) multifinance meneruskan grafik peningkatan bulanan.
Di bulan Mei 2026, kenaikan performa BNPL pada multifinance terkatrol 53,78% yoy.
Bukan sekadar multifinance, industri perbankan juga menorehkan tren lonjakan pemakaian fasilitas pay later di kalangan publik.
Jumlah baki debet atau outstanding paylater pada perbankan menyentuh angka Rp30,71 triliun per Juni 2026.
Nominal tersebut tumbuh sebesar 33,54% secara tahunan (yoy), kendati bergerak sedikit lebih lambat jika dibandingkan laju pertumbuhan Mei 2026 yang mencapai kisaran 37% YoY.
Fasilitas pay later yang disalurkan industri bank menjangkau 32,80 juta rekening sampai Juni 2026.
Kendati angka penggunanya berlanjut naik, rata-rata baki debet per rekening masih terhitung relatif kecil, yakni berada di kisaran Rp940 ribu.