Robert Budi Hartono Menjadi Pengendali Tunggal BCA Dan Saham BBCA Rebound

Robert Budi Hartono (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Sabtu, 08 Agustus 2026 | 13:44:51 WIB

JAKARTA - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) secara resmi memegang pengendali tunggal usai meninggalnya Michael Bambang Hartono.

Sebab pergeseran ini, Robert Budi Hartono saat ini berstatus pemegang kendali tunggal atas BCA lewat PT Dwimuria Investama Andalan (DIA) sebagai pemegang saham pengendali perusahaan.

Pergeseran pengendali ini disampaikan BCA lewat keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 30 Juli 2026.

Dahulu, Robert Budi Hartono bersama mendiang Michael Bambang Hartono secara bersama-sama memimpin PT DIA.

"Dengan demikian pemegang saham pengendali PT DIA yang semula Bapak Bambang Hartono dan Bapak Robert Budi Hartono menjadi Bapak Robert Budi Hartono," tulis manajemen BCA dalam keterbukaan informasi, dikutip Jumat (7/8/2026).

Pihak BCA menyampaikan kepemilikan saham Robert Budi Hartono pada PT DIA tidak mengalami perubahan, yaitu tetap 51% dari modal ditempatkan dan disetor.

Namun, lantaran adanya penyesuaian susunan kepemilikan tersebut, seluruh hak kendali atas PT DIA sekarang dipegang oleh Robert.

Pergeseran pengendali telah mengantongi izin OJK lewat Surat Nomor SR-21/PB.333/2026 pada tanggal 29 Juli 2026.

Melalui ketetapan itu, Robert Budi Hartono secara sah ditetapkan sebagai Pemegang Saham Pengendali Terakhir (PSPT) BCA.

Corporate Secretary BCA, Rudy Budiardjo, menegaskan perubahan pengendali tidak berdampak terhadap kegiatan operasional maupun kondisi bisnis perseroan.

"Informasi atau fakta material yang diungkapkan tidak memiliki dampak material terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi dan kinerja keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan," ujar Rudy.

Saham BBCA Menguat Hampir 32%

Di tengah pergeseran kendali, saham BBCA malah memperlihatkan arah pemulihan.

Usai sempat menyentuh titik paling rendah kurang lebih 10 tahun pada angka Rp4.850 tiap saham di tanggal 8 Juni 2026, harga saham BCA melompat menuju Rp6.400 per lembar saham waktu penutupan pasar 6 Agustus 2026.

Maka dari itu, saham BBCA telah naik kira-kira 31,96% atau terangkat Rp1.550 per saham dari titik terendahnya.

Di sesi transaksi Jumat (7/8/2026), saham BBCA kembali menguat 25 poin atau kira-kira 0,4% jadi Rp6.375 tiap saham, dibanding penutupan sebelumnya pada Rp6.350 per saham.

Lompatan saham BBCA juga didukung oleh pencapaian keuangan yang tetap kokoh selama semester I 2026.

Merujuk pada penyajian keuangan per 30 Juni 2026, BCA mencatatkan keuntungan bersih Rp14,9 triliun di kuartal II.

Apabila diakumulasi, keuntungan bersih semester I 2026 menyentuh Rp29,5 triliun, tumbuh sekitar 2% apabila dibandingkan rentang waktu yang sama tahun lalu.

Mengenai bidang penyaluran, kredit tumbuh 8% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp1.036 triliun.

Kenaikan tersebut sejalan dengan peningkatan dana pihak ketiga (DPK) sebanyak 8% menuju Rp1.284 triliun.

BCA Naikkan Limit Transfer hingga Rp500 Juta Mulai 12 Agustus 2026

Tongkat Kendali Beralih, Robert Budi Hartono Resmi Jadi Pengendali Tunggal BCA

Laba BCA Tembus Rp29,5 Triliun, Kredit Pecah Rekor Lewati Rp1.000 Triliun

Susunan permodalan perusahaan pun tetap didominasi simpanan murah atau current account savings account (CASA), dengan porsi menyentuh 85,2% dari seluruh DPK.

Di samping itu, mutu aset terus membaik.

Perbandingan kredit bermasalah kotor (gross non-performing loan/NPL) merosot menjadi 1,9% dari 2,2% pada kurun waktu yang sama tahun sebelumnya.

Mengenai area profitabilitas, net interest margin (NIM) berada di posisi 5,3%.

Pihak BCA memprediksi NIM masih berpeluang terangkat ke rentang 5,4%-5,6% hingga akhir 2026, ditopang dorongan hasil kredit usai penyesuaian tingkat bunga acuan Bank Indonesia.

Reporter: Moch Febrianto