Rupiah Berhasil Menguat Berkat Cadangan Devisa RI yang Sangat Stabil

Rupiah Berhasil Menguat (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Sabtu, 08 Agustus 2026 | 13:44:50 WIB

JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS mengakhiri sesi perdagangan dengan apresiasi pada Jumat, 7 Agustus 2026.

Kenaikan ini didorong oleh kukuhnya jumlah cadangan devisa Indonesia yang dianggap sanggup merawat keyakinan para investor di tengah dinamika global yang belum pasti.

Rupiah ditutup melonjak sebesar 26 basis poin atau 0,15 persen ke tingkat Rp17.897 per USD, bila dibandingkan transaksi sebelumnya pada posisi Rp17.923 per USD.

Pada saat bersamaan, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) turut terangkat ke angka Rp17.913 per USD dari hari sebelumnya Rp17.919 per USD.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengutarakan mata uang rupiah awalnya dibuka tertekan seiring indikator tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang masih mencerminkan kekuatan ekonomi.

Kendati begitu, nilai tukar Indonesia berbalik melonjak usai BI meluncurkan laporan cadangan devisa periode Juli 2026.

"Rupiah dibuka melemah, sejalan dengan data ketenagakerjaan AS yang masih memperlihatkan resiliensi pada malam sebelumnya. Rupiah kemudian berbalik arah setelah rilis data cadangan devisa Indonesia pada Juli 2026, yang cenderung stabil dibandingkan dengan bulan sebelumnya, di tengah turbulensi ketidakpastian global di bulan Juli 2026," ujar Josua dilansir dari Sumbernya, Jumat, 7 Agustus 2026.

Cadangan devisa Indonesia

BI mengumumkan bahwa jumlah cadangan devisa Indonesia pada penutupan Juli 2026 menyentuh USD145,3 miliar, cenderung konstan jika dibandingkan angka akhir Juni 2026 sejumlah USD145,6 miliar.

Koreksinya hanya berkisar USD0,3 miliar.

Simpanan devisa tersebut setara pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor plus pelunasan utang luar negeri pemerintah.

Pencapaian tersebut berada jauh di atas acuan kecukupan dunia yakni kurang lebih tiga bulan kebutuhan impor.

Berdasarkan penjelasan Josua, sepanjang minggu ini rupiah dominan menguat ditopang oleh mereda konflik geopolitik kawasan Timur Tengah beserta tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II-2026 yang mengungguli perkiraan pasar.

Dalam hitungan sepekan, rupiah terapresiasi mendekati 0,61 persen.

Memasuki pekan mendatang, Josua memprediksi rupiah tetap memiliki potensi terangkat secara terbatas di awal sesi perdagangan usai pasar memproses rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) dan angka pengangguran AS.

Di samping itu, para pelaku pasar bakal mencermati beberapa agenda dalam negeri, salah satunya agenda pidato kenegaraan yang bakal digelar pada 14 Agustus 2026.

"Rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.825-Rp17.925 per USD pada pekan depan," kata Josua.

Reporter: Moch Febrianto