Penataan Data MBG Tahun 2027 Temukan Adanya 6 Juta Identitas Ganda Peserta
JAKARTA - Ketua BGN Sudaryono membenarkan terdapat koreksi penurunan penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2027. Tokoh ini pun memaparkan sebabnya.
"Ada beberapa, ini contoh realnya itu misalnya ada anak didata di MTs (Madrasah Tsanawiyah), tapi dia juga adalah santri Pondok Pesantren. Atau dia SMP di dalam pondok dihitung di data kemendikdasmen sebagai siswa, kemudian dia juga tercatat sebagai santri di Pondok Pesantren," ujar Sudaryono usai mengikuti Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Tingkat Menteri Terkait Perbaikan Tata Kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Kamis (6/8/2026).
Sebab itulah, tokoh tersebut menegaskan hingga saat ini pihak BGN terus menyelaraskan seluruh data penerima manfaat MBG bersanding dengan pihak-pihak terkait antarkementerian.
"Kami rapikan itu semua. Makanya rapat hari ini memastikan semua sistem data dari banyak kementerian, baik itu Dikdasmen, Kementerian kependudukan dan BKKBN, Kementerian Agama, Kementerian kesehatan dan BGN ini, kami datanya saling ngobrol sehingga kami betul-betul menemukan, jadi tidak ada double identitas," terang Sudaryono.
Ada 6 Juta Data Berulang
Mengutip penyampaian Sudaryono, hingga kini merujuk data dari Sumbernya, ada sebanyak 6 juta calon penerima manfaat MBG yang berulang. Dengan demikian, penyisiran data terus digulirkan.
"Kalau enggak salah ada pengurangannya ada sekitar 6 juta. Berarti kami sisir terus," ujar tokoh tersebut.
Di samping itu, catatan yang disajikan dalam rapat koordinasi memperlihatkan hasil pemeriksaan mutakhir menemukan pemotongan 4.864.467 peserta didik dampak eliminasi data ganda (double counting). Selanjutnya, terdapat 845.660 data ganda guru dan tenaga kependidikan (GTK) yang juga telah dibersihkan.
Pasca langkah verifikasi tersebut, total penerima manfaat yang terdata sah tercatat sebanyak 42.847.940 murid serta 3.351.568 guru dan tenaga kependidikan. Sebelum validasi dijalankan, data siswa yang dikumpulkan berasal dari 36.641.241 siswa di bawah Kemendikdasmen dan 6.206.699 siswa di bawah Kementerian Agama. Kemudian, data guru dan tenaga kependidikan berasal dari 2.865.209 orang di Kemendikdasmen dan 486.359 orang di Kementerian Agama.
1.700 SPPG Siap Berjalan
Sebelumnya, Ketua BGN Sudaryono mengutarakan ada 1.700 fasilitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sudah siap kembali beroperasi guna menyediakan Makan Bergizi Gratis (MBG), utamanya di wilayah bertingkat stunting tinggi.
"Dari data overlay, ada 1.700 data atau dapur yang sudah siap, sudah jadi tinggal operasional, yang berada di daerah dengan stunting tinggi dan tinggi sekali," ujar Sudaryono dalam konferensi pers Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Tingkat Menteri Terkait Perbaikan Tata Kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Kamis (6/8/2026).
Akan tetapi menurut tokoh tersebut, pengaktifan kembali SPPG bakal dilaksanakan secara berjenjang, tidak langsung 1.700 dapur SPPG beroperasi bersamaan.
"Nanti ini bertahap kami bereskan. InsyaAllah mungkin minggu depan ada sekitar 300-an kami aktifasi, minggu depannya (ada) lagi, sehingga 13 ribu ini, ini kami sisir semua," ucap Sudaryono.
Tokoh ini menguraikan, berdasarkan pendataan BGN, terdapat kurang lebih 13 ribu lokasi SPPG. Hanya saja, seluruhnya memiliki kondisi yang berbeda-beda, bahkan ada yang sebatas titik lokasi fasilitas SPPG.
"Jadi sudah ada di data kami sekitar 13 ribu lebih dapur, statusnya ada semua. Ada yang baru titik, ada juga yang sudah selesai," sebut Sudaryono.
Maka dari itu, lanjut tokoh tersebut, dari rincian tersebut dilakukan sinkronisasi bersama kementerian terkait. Keseluruhannya akan diumumkan pekan depan secara perlahan bertahap.
"Maka dari data ini (13 ribu dapur SPPG) kami overlay dengan datanya Kementerian Kesehatan, mana yang prioritas, stuntingnya tinggi dan tinggi sekali, itu kemudian kami petakan, kami overlay dengan data dapur yang sudah siap, insyaallah di minggu depan ini kami pelan-pelan release yang sudah siap," ulas Sudaryono.
Menjamin Seluruhnya Transparan
Menurut Sudaryono, pemantauan juga dilakukan ke lokasi pondok pesantren agar pemahamannya seirama.
"Termasuk yang pondok pesantren kami juga cek, dicek seperti apa gitu. Jangan sampai, mohon maaf, kadang-kadang pernyataan sedikit itu kemudian pemahamannya berbeda. Karena pemahaman berbeda ada oknum-oknum yang kemudian mohon maaf, itu menjajahkan jasa di level bawah," kata tokoh tersebut.
Sudaryono menjamin, seluruh tahapan pengoperasian kembali dapur MBG ini dilaksanakan secara transparan sehingga tidak ada transaksi tersembunyi.
"Jadi saya pastikan kalau ada orang mengaku, siapa pun mengaku bisa membantu, saya pastikan bahwa semua kami by system dan semuanya kami transparan," tuturnya.
Sudaryono menerangkan, wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) juga diutamakan dalam pembukaan dapur SPPG.
"Kemudian minggu depan mana yang kurang itu prioritas kami, daerah Papua, NTT, Nias, daerah-daerah yang jauh di Kepulauan Maluku, Utara Maluku itu jauh-jauh dan mereka sangat membutuhkan dan dirapat ini seluruh jajaran Kementerian dan Lembaga sudah mendapatkan keputusan untuk bagaimana dieskusi dengan baik," ujar Sudaryono.