Target Harga BBNI Naik ke Rp4.800 Prospek Laba BNI Tampak Makin Cerah!
JAKARTA - Lembaga riset dari Sumbernya menaikkan patokan harga saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menjadi Rp 4.800 dari angka sebelumnya Rp 4.700 dengan rekomendasi beli.
Peningkatan proyeksi harga tersebut ditopang ekspektasi penyaluran pinjaman yang lebih solid sehingga berpotensi memberikan dorongan positif bagi perolehan keuntungan bersih.
Peluang ekspansi pembiayaan tersebut memicu pihak dari Sumbernya memperbarui estimasi laba bersih BBNI pada periode 2026 dan 2027 dengan kenaikan berturut-turut 3% dan 4%.
Penyesuaian tersebut mencerminkan asumsi kenaikan penyaluran pembiayaan yang lebih tinggi menjadi 12% dari estimasi sebelumnya 10%, meskipun sebagian tergerus oleh peningkatan biaya kredit (cost of credit/CoC).
Pada triwulan II-2026, BBNI membukukan perolehan laba bersih senilai Rp5,1 triliun atau berkurang 10% dibanding triwulan sebelumnya, namun tumbuh 8% jika disandingkan dengan periode sama di tahun lalu.
Dengan raihan tersebut, total laba bersih pada paruh pertama 2026 menembus Rp 10,8 triliun, melonjak 7% secara tahunan serta setara dengan 52% dari target keuntungan sepanjang tahun.
Pertumbuhan margin didorong oleh penyaluran pinjaman konsolidasi yang tumbuh 24% secara tahunan, dipicu oleh segmen enterprise serta korporasi BUMN.
Capaian kinerja ini turut memicu kenaikan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar 14% dan peningkatan pre-provision operating profit (PPOP) sebesar 14% pada paruh pertama 2026.
“Meski demikian, likuiditas yang semakin ketat menekan margin bunga bersih. NIM pada kuartal II-2026 turun menjadi 3,4%, sementara rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) meningkat menjadi 88% dan porsi dana murah (CASA) turun menjadi 65,4%,” tulis Analis dari Sumbernya Nataniella Eva Kezia dan Victor Stefano dalam riset terbarunya.
Mempertimbangkan dinamika tersebut, pihak manajemen BBNI menyesuaikan target NIM tahun 2026 menjadi 3,3%-3,5% dari patokan sebelumnya 3,5%-3,8%.
Tekanan diprediksi masih berlangsung di paruh kedua 2026 seiring peningkatan beban dana (cost of fund) yang diperkirakan melaju lebih kencang dibanding penyesuaian imbal hasil pinjaman.
Di sisi lain, BBNI tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan kredit sebesar 8%-10% serta panduan CoC di rentang 1,0%-1,2%.
Pada paruh pertama 2026, CoC tercatat di angka 1,1%, masih berada di dalam kisaran target manajemen, sedangkan rasio pembiayaan bermasalah (NPL) bertahan stabil di posisi 1,9%.
“Kualitas aset BBNI masih cukup tangguh. Kenaikan NPL pada segmen usaha kecil dan konsumer mampu diimbangi oleh membaiknya kualitas portofolio pembiayaan di segmen wholesale,” tulis dari Sumbernya.
Walaupun indikator fundamental tetap prospektif, pihak dari Sumbernya memperkirakan fluktuasi pergerakan saham BBNI dalam jangka pendek masih berpotensi terjadi dipicu ketidakpastian kondisi makroekonomi serta pengetatan likuiditas di semester kedua tahun ini.