Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia Semester Kedua 2026 Bakal Melambat

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Jumat, 07 Agustus 2026 | 14:30:33 WIB

JAKARTA - Bumi mengawali separuh kedua tahun 2026 berhadapan hambatan yang amat sangat berat bila dibandingkan enam bulan awal.

Ekspektasi bahwa perekonomian dunia bakal pulih kembali usai himpitan inflasi merosot rupanya belum sepenuhnya terwujud.

Malah sebaliknya, bermacam risiko anyar muncul secara mendadak secara berbarengan.

Perselisihan geopolitik di kawasan Timur Tengah belum menemui titik terang, perang komersial kembali membara usai Amerika Serikat memperbesar aturan tarif impor, tingkat bunga global diprediksi bertahan tinggi lebih lama, serta dua motor penggerak ekonomi dunia—Amerika Serikat dan China—mulai kehabisan energi.

Perpaduan aneka pemicu ini mendorong lembaga-lembaga internasional merombak turun proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini.

Rasa optimis yang sempat hadir pada awal 2026 berangsur berganti menjadi kewaspadaan.

Geliat perdagangan internasional meredup, penanaman modal semakin cermat, ongkos logistik kembali melambung, sementara gejolak pasar keuangan melonjak tajam imbas tingginya keraguan.

Laporan BRI Monthly Economic Update Edisi Juli 2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI dan diterbitkan di Jakarta Selasa (03/08/2026) memperlihatkan bahwasanya hampir seluruh indikator global mengarah pada penurunan ekonomi di semester II-2026.

Ancaman yang tadinya berdasar kawasan kini sudah merembet menjadi tekanan global yang memengaruhi hampir seluruh negara, termasuk negara berkembang layaknya Indonesia.

Baca Juga

Usai Laba PIK2 (PANI) Melejit 484%, Begini Potensi Cuan Sahamnya

Salah satu pertanda paling jelas hadir dari revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia.

Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas estimasi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 dari 3,3% menjadi 3,1%.

Bank Dunia (World Bank) menurunkan proyeksi dari 2,6% menjadi 2,5%, sedangkan OECD memangkas estimasi dari 2,9% menjadi 2,8%.

Meskipun secara nominal penurunannya terlihat tipis, koreksi tersebut memperlihatkan bahwasanya perlambatan terjadi hampir merata pada berbagai penjuru dunia.

Pihak dari Sumbernya mencatat, kalkulasi pertumbuhan ekonomi global bulanan bahkan merosot lebih dalam.

Pada Januari 2026, perekonomian dunia diperkirakan masih sanggup tumbuh sekitar 4,2% secara seasonally adjusted annual rate (SAAR).

Akan tetapi baru dalam rentang empat bulan, estimasi tersebut anjlok menjadi kisaran 3,1% pada Mei 2026.

Kemerosotan ini menunjukkan bahwasanya dorongan pemulihan global yang sempat membaik di awal tahun kehilangan energi lebih cepat dari perkiraan.

Konflik Timur Tengah Belum Usai

Pemicu utama pelemahan tersebut yakni meningkatnya gesekan geopolitik sejak pecahnya perselisihan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat pada akhir Februari 2026.

Pertikaian itu bukan cuma memicu keraguan politik, tetapi juga mengacaukan alur distribusi energi dunia.

Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur pelayaran minyak paling krusial di dunia, beberapa kali mengalami kendala imbas meningkatnya eskalasi militer.

Penutupan sementara atas rute tersebut memicu ongkos pengiriman melonjak, biaya asuransi kapal meningkat, dan harga minyak mentah bergerak naik tinggi.

Data dari Sumbernya menunjukkan harga minyak Brent sepanjang Juli melonjak sekitar 23,6% dibandingkan bulan sebelumnya, sementara beraneka komoditas energi lainnya juga mengalami kenaikan.

Seraya dengan itu, harga gandum, beras, baja, minyak sawit mentah (CPO), sampai kedelai ikut melambung akibat terganggunya jalur pasokan global.

Hambatan alokasi energi tersebut berdampak luas pada aktivitas ekonomi.

Biaya produksi industri meningkat, ongkos transportasi menjadi lebih mahal, sedangkan inflasi di banyak negara kembali memperoleh imbas dari lini pasokan.

Situasi seperti ini membuat celah bagi bank-bank sentral guna menurunkan tingkat bunga menjadi semakin sempit.

Inflasi Mulai Mereda, tetapi Belum Aman

Sejatinya terdapat peningkatan yang lumayan menggembirakan di Amerika Serikat.

Inflasi konsumen (Consumer Price Index/CPI) melandai dari 4,2% pada Mei menjadi 3,5% pada Juni 2026.

Merosotnya angka tersebut utamanya dipicu oleh mulai terkoreksinya harga energi usai muncul harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Inflasi inti (core inflation) juga melambat menjadi 2,6%, memperlihatkan himpitan harga mulai berkurang pada kelompok barang dan jasa yang lebih persisten.

Namun, bagi Federal Reserve, dinamika tersebut belum cukup memberikan kepastian bahwasanya inflasi sungguh-sungguh telah kembali menuju target 2%.

Tarif energi masih jauh lebih tinggi ketimbang sebelum gejolak Timur Tengah, sedangkan ongkos tempat tinggal tetap menjadi penyumbang inflasi terbesar di Amerika Serikat.

Oleh karena itu, pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Juli 2026, The Fed memilih mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50–3,75%.

Bahkan tiga anggota FOMC menyarankan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin lantaran menilai inflasi masih terlalu tinggi.

Lebih dari itu, arah bicara para pejabat The Fed sepanjang Juli menunjukkan sikap yang kian hawkish.

Penelaahan dari Sumbernya atas pernyataan para anggota dewan gubernur memperlihatkan mayoritas masih cenderung mendukung kebijakan moneter ketat.

Pasar pun memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga kembali terbuka pada September 2026.

Maksudnya, tarif pembiayaan global kemungkinan akan tetap tinggi hingga akhir tahun.

Mesin Ekonomi Amerika Mulai Kehilangan Tenaga

Di luar masalah inflasi, ekonomi Amerika sendiri mulai menunjukkan sinyal perlambatan.

Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) AS pada triwulan II-2026 merosot menjadi 2,1% secara tahunan, dibandingkan 2,7% pada triwulan sebelumnya.

Secara kuartalan, taksiran awal menunjukkan ekonomi cuma tumbuh 1,5%, lebih rendah dari ekspektasi pasar.

Konsumsi rumah tangga memang masih menjadi penopang utama ekonomi Amerika dengan kontribusi hampir 70% terhadap PDB.

Investasi di sektor teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), juga tetap tumbuh kuat.

Namun sektor properti, konstruksi, dan investasi bangunan masih terkontraksi.

Aktivitas manufaktur kehilangan dorongan, sedangkan ekspor tidak mampu mengimbangi lonjakan impor.

Bursa tenaga kerja juga mulai mengirimkan sinyal perlambatan.

Jumlah lapangan kerja baru (Non-Farm Payroll) cuma bertambah 57 ribu pada Juni, turun tajam ketimbang 172 ribu pada bulan sebelumnya.

Tingkat pengangguran memang melandai menjadi 4,2%, tetapi penurunan tersebut lebih banyak disebabkan berkurangnya jumlah penduduk yang aktif mencari pekerjaan ketimbang meningkatnya penyerapan tenaga kerja.

Pihak dari Sumbernya menggambarkan situasi ini sebagai low hire, low fire, yakni perusahaan belum melakukan pemutusan hubungan kerja secara masif, tetapi juga tidak agresif merekrut pekerja baru.

China Kehilangan Momentum

Jika Amerika melambat imbas tingginya suku bunga, China berhadapan kendala berbeda.

Pertumbuhan ekonomi negara tersebut merosot menjadi 4,3% pada triwulan II-2026, dari 5% pada kuartal sebelumnya.

Pelemahan utamanya bersumber dari konsumsi rumah tangga dan penanaman modal yang terus kehilangan dorongan.

Penjualan eceran tumbuh cuma kisaran 1%, jauh lebih rendah dibandingkan rentang yang sama tahun lalu.

Investasi aset tetap bahkan mengalami kontraksi yang kian dalam.

Di sektor properti, penjualan rumah baru masih merosot sekitar 15%, sementara penjualan kendaraan, peralatan rumah tangga, dan barang tahan lama lainnya turut melandai.

Stok baja terus meningkat akibat rendahnya permintaan dari sektor konstruksi.

Manufaktur industri memang masih tumbuh sekitar 5,3%, namun laju pertumbuhannya lebih lambat ketimbang tahun lalu.

Ekspor menjadi satu-satunya tumpuan utama ekonomi China.

Akan tetapi pihak dari Sumbernya mengingatkan bahwasanya kekuatan ekspor tidak akan cukup menopang pertumbuhan bilamana konsumsi domestik terus melandai.

Maka dari itu, kans pemerintah China memberikan stimulus tambahan, termasuk penurunan suku bunga oleh People’s Bank of China (PBoC), diprediksi semakin besar pada semester II-2026.

Di tengah penurunan tersebut, dunia kembali dihadapkan pada ancaman perang dagang.

Pemerintahan Presiden Donald Trump resmi memberlakukan tarif impor baru melalui Section 301 terhadap 60 mitra dagang, termasuk Indonesia.

Tarif antara 10% hingga 12,5% dikenakan dengan alasan penegakan larangan impor barang yang diproduksi menggunakan tenaga kerja paksa.

Indonesia termasuk kelompok negara yang dikenai tarif dasar 10%.

Namun investigasi terhadap sejumlah negara, termasuk Indonesia, masih berlangsung sehingga tarif tambahan sewaktu-waktu dapat diberlakukan.

Menurut analisis dari Sumbernya, kebijakan tersebut membuat rata-rata tarif efektif Amerika Serikat tetap berada di atas 10%, jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum Trump kembali menjabat.

Kondisi itu meningkatkan keraguan perdagangan internasional dan berpotensi menekan ekspor negara-negara berkembang.

Volatilitas Pasar Semakin Tinggi

Ketidakpastian geopolitik, perang tarif, serta kebijakan moneter yang tetap ketat membuat pasar keuangan global kembali bergejolak.

Indeks volatilitas obligasi global (MOVE Index) meningkat tajam selama Juli 2026, sedangkan premi risiko investasi (Credit Default Swap/CDS) naik di mayoritas negara.

Arus modal asing keluar dari negara berkembang masih berlanjut, meskipun tidak sebesar bulan sebelumnya.

Di pasar komoditas, harga energi diperkirakan masih tetap tinggi selama konflik Timur Tengah belum sepenuhnya mereda.

Hal ini akan mempertahankan tekanan inflasi global sekaligus membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter.

Bagi Indonesia, perlambatan ekonomi global bukan sekadar persoalan eksternal.

Melemahnya pertumbuhan Amerika Serikat dan China berpotensi mengurangi permintaan terhadap ekspor Indonesia.

Sementara itu, harga energi yang tinggi dapat meningkatkan tekanan inflasi domestik dan memperlebar defisit perdagangan migas.

Di sisi lain, suku bunga global yang tetap tinggi dapat membatasi arus modal asing ke pasar keuangan domestik, menjaga tekanan terhadap nilai tukar rupiah, sekaligus meningkatkan biaya pembiayaan bagi pemerintah maupun dunia usaha.

Oleh karena itu, semester II-2026 diperkirakan bakal menjadi periode yang penuh tantangan bagi perekonomian global.

Dunia belum memasuki fase resesi, tetapi momentum pemulihan jelas kehilangan tenaga.

Dalam situasi seperti ini, negara-negara berkembang dituntut menjaga stabilitas makroekonomi, memperkuat daya saing industri, dan memperluas sumber pertumbuhan domestik agar mampu bertahan menghadapi perlambatan ekonomi dunia yang diperkirakan masih akan berlanjut hingga akhir tahun.

Reporter: Moch Febrianto