BCA Research Memprediksi Harga Emas Mulai Pulih Selepas Tren Koreksi
JAKARTA - Tren penurunan harga emas diprediksi mulai mengendur dan berkesempatan segera meroket seiring meredanya sentimen makro utama yang menekan logam mulia tersebut, Kamis (6/8/2026).
Pergerakan harga emas spot sebelumnya diakhiri merosot tipis 0,15 persen menuju level US$ 4.240,69 per troy ounce.
Perusahaan riset asal Kanada, BCA Research, menganggap prospek penguatan emas terbuka lebar lantaran suku bunga riil Amerika Serikat diperkirakan sudah menyentuh puncaknya, sebagaimana dikutip dari Sumbernya.
BCA Research menyarankan para pemodal untuk memupuk emas kembali dengan menentukan batas kritis paling bawah pada level US$ 3.900 per troy ounce.
"Dampak terburuk dari hambatan suku bunga riil terhadap emas kemungkinan sudah berlalu," ungkap BCA Research dalam laporan terbarunya.
Walaupun dinamika geopolitik di wilayah Timur Tengah masih berpeluang menghadirkan fluktuasi jangka pendek, skenario utama memperlihatkan suku bunga riil AS bakal cenderung konstan dalam beberapa bulan mendatang.
Keadaan ini membantu emas membangun titik terendah.
"Rekomendasi untuk membeli saat ini pada dasarnya mengasumsikan bahwa suku bunga riil dan dolar AS tidak akan naik lebih jauh lagi, dan hambatan tersebut sudah hilang," ujar Roukaya Ibrahim, Kepala Strategi Komoditas BCA Research.
Laju emas teruji tangguh disebabkan sanggup bertahan di atas level US$ 4.000 per troy ounce di tengah derasnya hambatan makroekonomi.
"Bahkan jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga, saya rasa kenaikannya tidak akan melebihi apa yang sudah diperhitungkan pasar. Kemunningkannya cukup kecil," imbuh Ibrahim.
Kenaikan harga logam mulia ini turut disokong oleh elemen struktural jangka panjang, seperti tindakan diversifikasi cadangan aset bank sentral dunia yang tiada henti memborong emas guna memangkas ketergantungan pada dolar AS.
Transaksi pembelian berkelanjutan oleh sektor resmi itu dinilai manjur menjaga stabilitas harga supaya tidak meluncur ke level tahun 2022.